oleh

PMA Gelar Pertemuan Pertama untuk Majukan Pariwisata Gunung di Tanah Papua

-Utama-650 views

 

Intan Jaya, Radar Pagi – Papua Mountaineering Association (PMA) adalah sebuah organisasi non profit yang berbasis di Timika, Papua, didirikan untuk mewadahi pendaki, pemandu gunung,dan pecinta aktivitas olahraga dan wisata gunung di Papua. Pada Sabtu, 12 Januari 2019 pukul 13:00 WIT silam, PMA menggelar Minute of Meeting perdananya di  Prima Garden – Abepura.

Menurut Maximus Tipagau selaku pendiri PMA, tujuan pertemuan yang dihadiri sekitar 28 peserta ini adalah sebagai ajang silaturahmi seluruh pelaku kepariwisataan di tanah Papua, sekaligus membahas berbagai permasalahan terkait pariwisata, seperti cara meningkatkan industri kepariwisataan, dan masalah regulasi pajak pariwisata kepada pemerintah daerah maupun pusat.

“Kita membahas permasalahan Puncak Carstensz dari tahun 1971 sampai hari ini yang belum beres dalam hal keamanan dan regulasi. Carstensz menjadi paket wisata yang paling mahal senilai Rp50 juta sampai Rp80 juta, tetapi belum ada regulasi dari pemerintah daerah,” kata Maximus Tipagau kepada Radar Pagi, Selasa (15/1/2019).

PMA sendiri, kata Maximus, bertekad mengembangkan pariwisata tour di seluruh pegunungan Papua dengan mengembangkan masyarakat asli Papua, karena itu perlu dukungan dari pemerintah daerah, ASITA Provinsi, HPI dan asosiasi-asosiasi lainnya, termasuk masyarakat setempat.

“Yang diperlukan dalam kerjasama ini adalah dinas pariwisata provinsi, kabupaten, dan kementerian, lalu kerjasama dengan Kepala Balai Taman Nasional Lorens di Wamena, kepolisian di tingkat kabupaten dan provinsi, juga kerjasama dengan Kanwil Imigrasi Hukum dan HAM di kabupaten dan provinsi, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta lembaga-lembaga terkait sektor pariwisata lainnya, agar Papua yang kaya raya dengan budaya dan alam ini bisa diangkat dalam industri sektor pariwisata,” katanya.

PMA, kata Maximus, juga membutuhkan sharing untuk meminta masukan dari para pelaku kepariwisataan di tanah Papua dan juga dengan instansi-instansi pemerintah terkait.

Demi mengembangkan pariwisata di tanah Papua, terutama wisata gunung, sambung Maximus, PMA berencana bekerjasama dengan mountaineering sedunia seperti Association of Mountaineering Instructors (AMI), British Association of International Mountain Leader (BAIML) dan lainnya di luar negeri khusus tentang pendakian.

“Intinya, bagaimana kita bisa bersatu padu dalam upaya peningkatan kepariwisataan di tanah Papua,” kata Maximus.

Semua upaya tadi, jelas Maximus, sejalan dengan visi dan misi PMA, yaitu:

Visi

  • Menjadi badan regulator yang bersifat perpanjangan tangan Pemerintah Daerah dan Pusat dalam memajukan Parawisata pendakian, pengelolaan seluru gunung dan pegunungan di tanah papua, serta wisata minat khusus alam lainnya yang bersifat memajukan, menyejahterakan masyarakat, professional dan mengakar dari budaya lokal dengan standarisasi Internasional.
  • Menjadi mitra strategis bagi asosiasi sejenis di kancah internasional yang berdampak pada pembangunan masyarakat lokal sebagai pemilik tanah ulayat.

Misi

  • Membangun pariwisata pendakian khususnya gunung cartenszt yang merupakan salah satu puncak dalam seven summit dunia dan gunung lainnya yang ada di tanah Papua yang dikelola secara professional dengan standar pendakian dan pelayanan Internasional.
  • Membangun wisata minat khusus alam lainnya yang dapat berpotensi untuk dikembangkan dari bentangan alam bumi papua
  • Memberikan rekomendasi perizinan, sertifikasi dan pelatihan bagi perorangan dan/atau badan usaha agar terciptanya iklim usaha minat khusus yang mengutamakan keselamatan, budaya, kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan di tanah papua baik dari pelaku usaha lokal maupun internasional yang melakukan kegiatan di tanah papua.
  • Menjadi asosiasi yang berstandar internasional yang menjadi penyokong bagi pengembangan kegiatan minat khusus di Indonesia, khususnya pendakian gunung Cartensz
  • Berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendorong segala sarana dan prasarana pendukung wisata minat khusus dalam menggerakkan parawisata, pendidikan, ekonomi kerakyatan, sosial, kemajuan masyarakat (khususnya adat) sehingga terbangun sistem yang holistik (menyeluruh) bagi kesejahteraan rakyat Papua dan Indonesia secara umumnya.
  • Partner pemerintah baik daerah maupun pusat dalam pembuatan aturan terkait pengelolaan lingkungan di Papua khususnya terkait hutan, taman nasional lorenszt dan pengunungan yang ada di Papua serta usaha untuk pengembangannya dari berbagai aspek.
  • Menjadi tempat perizinan satu pintu yang memudahkan proses pendakian baik bagi WNI maupun WNA yang akan berkunjung ke berbagai gunung yang ada di tanah Papua
  • Menjadi entitas yang mewakili Papua dan Indonesia dalam segala kegiatan minat khusus, baik skala nasional maupun Internasional khusunya Mountaineering.

Dia menjelaskan, usai pertemuan perdana ini akan digelar pertemuan kedua dan ketiga. “Diharapkan pada pertemuan kedua, semua peserta membawa dan memasarkan produk-produknya untuk bisa dishare dan dijual,” katanya.

Hasil pertemuan, sambung Maximus, akan kepada pihak-pihak terkait, seperti Gubenur Papua, Ketua DPR Provinsi Papua, Ketua MRP Provinsi Papua, Kapolda Papua, Pangdam Papua, Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Papua, Dinas Pariwisata Kabupaten terkait, Kepala Taman Nasional Lorens, Kementerian Kehutanan lewat Dirjend Konservasi Taman Nasional Lorens, Kementerian Pariwisata, Bupati Intan Jaya, Bupati Puncak dan Bupati Timika, Bupati Nabire, Bupati Paniai, Bupati Wamena, dan Bupati Jayapura dan kelembagaan lainnya yang terkait dengan sektor pariwisata.

Sementara itu, Kabid Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Erick Ohee, yang turut hadir dalam pertemuan memberi masukan bahwa paket produk yang ditawarkan harus variatif, pelayanan mencakup dari keseluruhan produk pariwisata dari darat sampai laut atau dari gunung sampai laut.

“Penataan produk-produk kepariwisataan yang akan dijual akan dibicarakan di forum SKPD. Pemerintah Provinsi siap mendukung program kepariwisataan di bidang minat khusus, khususnya Puncak Carstensz dalam bentuk insfrastrutur dan juga promosi,” katanya.

Sedangkan Athan Ginting dari ASITA mengeluhkan persoalan kepariwisataan yang kerap terjadi di Papua, seperti masalah keamanan, perizinan (surat keterangan jalan), minimnya kemampuan guide dalam berbahasa Inggris, dll.

“Bagaimana kita bisa menjamin turis tidak takut untuk datang ke Papua? Mereka datang, tapi kami tolak karena permasalahan-permasalahan tersebut,” katanya.

Namun Athan Ginting menyatakan kesiapannya untuk bekerjasama dengan PMA dalam mengembangkan Puncak Carstensz sebagai obyek wisata gunung Nomor 1 di Papua, termasuk mengembangkan puncak-puncak lainnya seperti Puncak Trikora, Puncak Mandala, dan Puncak Cyclops.

Minimnya SDM guide rupanya menjadi perhatian banyak peserta dalam pertemuan ini. Beberapa peserta lainnya turut menyuarakan persoalan sedikitnya jumlah guide.

“Tidak ada guide di Jayapura terutama anak Papua. Yang kita tahu hanya di Timika saja yaitu Maximus. Sehingga adanya PMA ini diharapkan ada pembinaan guide-guide lokal sehingga regenerasi tetap terjaga dengan baik,” ujar Nicky Mehue dari HPI Jayapura.

“Pemandu Pariwisata di Papua saat ini tidak bagus. Ada guide yang ditanya oleh turis ‘berapa tinggi Gunung Cyclops’, jawabnya ‘Saya belum ukur’,” ujar Hans B Menanti dari Dinas Pariwisata Provinsi Papua. (Om Yan)

 

 

 

News Feed