oleh

Ngeri! Tiga Bencana Alam Ini Hantam Indonesia di Tahun 2019  

-Utama-614 views

Jakarta, Radar Pagi – Tahun 2019 bencana alam seperti angin puting beliung, banjir, longsor, gempa, dan tsunami diperkirakan masih akan sering terjadi.  Namun dari beragam bencana tersebut, tiga jenis bencana yaitu angin puting beliung, banjir, dan longsor, diperkirakan akan mendominasi 95 persen dari total bencana keseluruhan.

Hal ini disebabkan oleh luasnya kerusakan daerah aliran sungai (DAS), lahan kritis, kerusakan hutan, kerusakan lingkungan, dan perubahan penggunaan lahan. Diperkirakan sekitar 110.000 hektar lahan pertanian telah berubah menjadi lahan non pertanian dalam beberapa tahun terakhir, sedang lahan kritis mencapai 14 juta hektar.

Tidak ada potensi  El Nino dan La Nina yang menguat, musim akan berjalan seperti normal baik musim penghujan juga musim kemarau. Puncak musim penghujan adalah Januari 2019, dengan potensi tinggi banjir besar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Gempa juga diprediksi akan terjadi sepanjang tahun 2019. BNPB memperkirakan sekitar 500 gempa akan terjadi setiap bulannya di Indonesia. Ini berkaitan dengan posisi geologis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan pertemuan beberapa lempeng tektonik.

Namun gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti dimana dan kapan akan terjadi. Hanya saja ditekankan, wilayah Indonesia bagian timur perlu mewaspadai gempa karena kondisi geologisnya yang tergolong rumit.

Potensi tsunami disebutkan tergantung pada gempa dan lokasi episentrumnya. Jika terjadi gempa berskala 7 SR atau lebih, dengan episentrum di kawasan laut atau samudra, maka potensi tsunami patut diwaspadai.

Hampir seluruh tsunami diawali atau dipicu gempa kuat. Namun Tsunami Selat Sunda kemarin ternyata disebabkan oleh longsoran material yang dipicu erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi ini tidaklah memicu monitor gempa secara signifikan.

‘’Alat monitoring ombak laut untuk mendeteksi tsunami tidak dipicu atau diaktifkan oleh kejadian non-gempa,” jelas Muhamad Sadly, kepala Geofisika BMKG. Alhasil, saat tsunami terjadi di Selat Sunda, tidak ada sirine yang berbunyi sebagai peringatan bahaya.

Selain gempa, bencana geologis disebabkan erupsi Gunung Api pun akan berlanjut. Dari 127 gunung api di Indonesia terdapat satu gunung berstatus awas atau dalam keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana, yaitu Gunung Sinabung dan 4 gunung berstatus siaga, yang secara visual mengalami aktivitas seismik atau nampak dari aktivitas kawahnya, yaitu gunung Soputan, Gunung Anak Krakatau, Gunung Karangetang, dan Gunung Agung.

Antisipasi Bencana

Mitigasi bencana atau rangkaian pengurangan risiko bencana bisa dilakukan dengan dua hal, yakni dengan pembangunan struktural maupun non struktural. Pembangunan struktural dimulai dengan pembangunan konstruksi tahan gempa, sistem peringatan dini, shelter tsunami, sumur resapan, bendungan, dan lainnya. Sedangkan pembangunan non struktural dimulai melalui lembaga, legislasi, penataan ruang, sosialisasi, diklat, penelitian, dan lainnya.

Terkait dengan Tsunami Selat Sunda, pelampung dari sistem peringatan dini yang terhubung dengan sensor ke dasar laut sudah tidak berfungsi sejak 2012. Dari 1.000 sirene Tsunami di seluruh Indonesia, hanya 56 yang masih berada pada tempatnya. Penyebabnya karena vandalism (sengaja dirusak oleh tangan jahil), ditelantarkan, dan kurangnya anggaran publik untuk pemeliharaan.

‘’Kurangnya sistem peringatan dini adalah penyebab tsunami tidak terdeteksi,” ujar Sutopo Nugroho, Kepala pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB.

Jumlah akses masyarakat untuk membuka website peringatan dini dalam satu minggunya masih tergolong rendah. Hasil poling yang dirilis BNPB menunjukkan 70 persen tidak tahu bahkan tidak pernah mengakses informasi bencana. Masyarakat dapat membantu mengantisipasi bencana dengan meningkatkan budaya sadar bencana.

Budaya sadar bencana dibangun dengan meningkatkan pengetahuan akan ancaman dan potensi bencana, rencana tanggap darurat, responsif terhadap peringatan dini, serta meningkatkan mobilisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan aktif mengakses informasi terkait bencana pada website seperti magma.vsi.esdm.go.id, bmkg.go.id, dan bnpb.go.id hingga mensosialisasikan informasi kepada warga sekitar tak hanya lewat IPTEK tetapi juga lewat kearifan lokal. (dw/jar)

 

News Feed