oleh

Wali Kota Blitar non Aktif Divonis 5 Tahun, Jaksa: Rp5,1 Miliar Belum Dikembalikan

-Hukum-184 views

Sidoarjo, Radar Pagi – Wali Kota Blitar non aktif M. Samanhudi Anwar divonis 5 tahun penjara setelah terbukti menerima suap Rp 1,5 miliar terkait ijon proyek pembangunan sekolah lanjutan pertama.

Samanhudi juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 500 juta subsider subsider 5 bulan kurungan penjara. Selain itu hak politik Samanhudi dicabut selama 5 tahun setelah selesai menjalani masa pidana.

“Menghukum terdakwa pidana selama 5 tahun penjara dan menjatuhkan pidana tambahan kepada terdakwa berupa pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik selama lima tahun sejak terdakwa selesai menjalani pidana penjara pokoknya,” ujar Ketua Majelis Hakim Agus Hamzah di ruang sidang Cakra Tipikor Juanda, Kamis (24/1/2019).

Adapun hal yang memberatkan dari terdakwa Samanhudi yakni perbuatan terdakwa bertentangan sebagai wali kota dan tidak dapat dicontoh oleh masyarakat, lalu terdakwa berbelit selama persidangan.

Sedangkan hal yang meringankan yaitu, terdakwa bersikap sopan selama persidangan dan mempunyai tanggungan keluarga.

Selain itu, terdakwa pernah mendapat penghargaan serta telah memohon maaf dan menyesali perbuatannya.

Sementara Bambang Purnomo alias Totok yang berperan sebagai perantara dijatuhi hukuman 4 tahun kurungan penjara dan denda Rp 300 juta subsider 4 bulan penjara.

Sebelumnya Samanhudi Anwar diajukan KPK ke pengadilan sebagai tersangka penerima suap. Tersangka penyuap adalah Susilo Prabowo selaku pihak swasta atau kontraktor proyek pembangunan gedung sekolah.

Menanggapai vonis yang dijatuhkan Hakim, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK), Dody Sukmono mengaku menghormati putusan tersebut. Namun pihaknya akan mempertimbangkan vonis tersebut terkait nilai yang terbukti dalam persidangan.

“Kami menghormati dan menghargai putusan hakim, di sini kami nyatakan pikir-pikir, lantaran kami akan mempertimbangkan putusan terkait dengan nilai yang terbukti dalam persidangan,” ujar Dody usai persidangan, Kamis (24/1/2019).

Menurut Dody, dalam sidang tuntutan sebelumnya, dia mengklaim ada dana senilai Rp 6,6 miliar yang diterima oleh terdakwa. Dari jumlah itu, baru Rp1,5 miliar yang dikembalikan.

“Dalam tuntutan kami sebesar Rp 6,6 miliar, kemudian sudah disita Rp 1,5 miliar sehingga masih ada sisa Rp 5,1 miliar. Nah, Menurut kami nilai ini dipertimbangkan oleh majelis hakim, namun tidak cukup bukti,” katanya.

Dia menjelaskan besarnya dana tersebut berdasarkan dari keterangan saksi Susilo Prabowo dan tidak ada uang pengganti dari Rp 5,1 miliar.

“Ini yang berbeda dengan tuntutan kami, dalam tuntutan kami itu terbukti berdasarkan keterangan Susilo Prabowo sendiri,” katanya. 

Samanhudi Anwar sebelumnya juga pernah berurusan dengan hukum setelah dilaporkan melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada istrinya, Echa Paramitha, pada bulan Februari 2018 silam. Kasus itu dilaporkan ke Polres Kota Kediri namun kemudian dilimpahkan ke Polda Jatim. (rian)

 

 

 

News Feed