oleh

Lepas Burung Pipit, Sarana Warga Tionghoa ‘Buang Sial’ Saat Imlek

-Jabodetabek-629 views

Jakarta, Radar Pagi – Ratusan warga keturunan Tionghoa memadati Wihara Dharma Bhakti di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat untuk merayakan Tahun Baru Imlek, Selasa (5/2/2019).

Warga terlihat memadati wihara sejak Selasa dini hari sekitar pukul 00.00 WIB untuk mulai melakukan sejumlah ritual ibadah.

Salah satu ritual yang dilakukan warga etnis Tionghoa dalam merayakan Imlek adalah pelepasan burung pipit, sebagai sarana ‘buang sial’.

Gubernur DKI Anies Baswedan ikut melepas burung pipit di lokasi. Dia tampak didampingi kedua anaknya Mikail Azizi dan Ismail Hakim. Kemudian, Anies pun melepaskan burung pipit yang dibawanya di kotak warna hijau. 

Salah satu petugas di vihara Dio mengatakan melepas burung pipit itu memang biasa dilakukan saat perayaan Tahun Baru Imlek. Menurutnya, sebagian warga percaya melepas burung pipit merupakan simbol membuang sial.

“Lalu bagi sebagai warga yang agak tradisional ada yang memandang itu sebagai pelepasan sial, membuang sial,” ucap dio.

Selain itu, Dio mengatakan melepas burung pipit juga bermakna untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Ia menjelaskan burung-burung pipit itu tersedia di penjual sekitar vihara.

Ritual pelepasan mahluk hidup ini juga dimaksudkan untuk memupuk kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup.

Dua pengunjung vihara, Budi (65) dan Kim Lian (69) mengaku membeli burung pipit dengan harga Rp 2.000 per ekor. Mereka masing-masing membeli burung sebanyak 10 dan 20 ekor. Keduanya berharap dengan membebaskan burung ke alam bebas bisa mendapatkan karma baik.

“Ya, kita berharap diberikan kesehatan serta umur panjang umur, juga dimudahkan mencari rezeki,” ujar Budi.

Sementara Kim Lian mengaku secara rutin melepaskan mahluk hidup ke alam bebas secara rutin dua kali dalam sebulan.

“Nggak harus tiap Imlek, saya melakukannya setiap tanggal 1 dan tanggal 15 setiap bulan, juga saat hari ulang tahun,” katanya. 

Tradisi pelepasan burung pipit ini juga dilakukan di banyak wihara lain karena dipercaya selain bermanfaat bagi diri sendiri juga bisa membawa berkah untuk warga lainnya. Hamdan (48) misalnya, penjual burung pipit di sekitar vihara Ekayana Arama, Jakarta Barat saat Imlek bisa meraup uang hingga Rp 2 juta.

“Ya, tergantung, tadi yang satu kotak itu mah sedikit cuma 25 ekor. Kadang ada yang 10, tapi malah ada juga yang pesan sampai seribu, dua ribu, sampai yang Rp 2 juta bayarnya juga ada,” kata Hamdan.

Selain dipadati warga etnis Tionghoa, kompleks wihara juga dipadati oleh warga miskin yang berharap diberi angpau. Tradisi meminta angpau ini disebut memang berlangsung setiap tahunnya.

Pihak pengelola wihara menyediakan sejumlah baskom sebagai wadah untuk menampung angpau dari jemaat yang merayakan Imlek.

“Angpau yang terkumpul itu nanti akan dibagikan kepada warga yang minta angpau,” kata seorang pengurus wihara.

Namun ada juga warga non Tionghoa yang berkunjung ke wihara tersebut sekadar untuk menyaksikan jalannya peribadatan. Mereka terlihat asyik mengabadikan momen Imlek dengan kamera ponsel dan langsung mempostingnya ke media sosial. (jar)

News Feed