oleh

Suara Warga NU Diprediksi Menjauh dari Prabowo-Sandiaga Gara-gara Puisi Ini

-Politik-68 views

Jakarta, Radar Pagi – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, kembali membuat puisi terkait politik. Kali ini berjudul ‘Doa yang Ditukar’. Sekilas puisi tersebut seperti menyindir Mbah Moen, seorang kyai sepuh NU yang baru-baru ini salah menyebut nama Jokowi menjadi Prabowo dalam doanya di hadapan banyak orang. Begini bunyi puisi tersebut:

DOA YANG DITUKAR

doa sakral

seenaknya kau begal

disulam tambal

tak punya moral

agama diobral

doa sakral

kenapa kau tukar

direvisi sang bandar

dibisiki kacung makelar

skenario berantakan bubar

pertunjukan dagelan vulgar

doa yang ditukar 

bukan doa otentik

produk rezim intrik

penuh cara-cara licik

kau penguasa tengik

Ya Allah

dengarlah doa-doa kami

dari hati pasrah berserah

memohon pertolonganMu

kuatkanlah para pejuang istiqomah

di jalan amanah

Puisi itu ternyata mendapat respon negatif dari sejumlah kalangan, mulai politikus hingga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, juga ikut mempersoalkan puisi Fadli Zon itu. 

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo- Maruf Amin, Arsul Sani, menilai puisi tersebut justru merugikan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Itu membuat warga NU menjadi jauh dari paslon 02,” kata Arsul kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (6/2/2019).

Nahdliyin, kata Arsul, selalu menghormati kiai atau ulamanya meskipun memiliki pandangan dan sikap yang berbeda. Karenanya puisi Fadli akan berbalik dan membuat rugi Prabowo-Sandi.

“Kemudian ada suatu ekspresi, baik lisan atau tulisan, yang menciderai rasa hormat kepada ulama, maka itu akan jadi arus balik,” ujar Arsul.

Sementara Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy lewat akun media sosial Twitter miliknya, Rabu (5/2/2019), menyindir kubu Prabowo-Sandiaga sebagai pihak yang berteriak bela ulama, tetapi belakangan justru malah merendahkan ulama.

Dia pun menyindir lawan politik agar tidak gemar membawa-bawa nama Tuhan, sementara salat lima waktu dan puasa Ramadan masih sering ditinggalkan.

“Hentikan semua narasi, seolah kau paling suci. Karena pemimpin dalam Islam sudah jelas ukurannya, bukan penghina ulama dan menakut-takuti rakyatnya,” kata Romi.

Mbah Moen sebelumnya salah menyebut nama calon presiden yang dia doakan bisa memimpin bangsa ini kelak. Saat membacakan doa di sebelah capres petahana Joko Widodo (Jokowi) yang sedang berkunjung ke Ponpes Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, 1 Februari 2019 silam, Mbah Moen malah menyebut nama Prabowo. Belakangan Mbah Moen mengakui bahwa dirinya salah menyebut nama. (jar) 

News Feed