oleh

Setelah Alay Ditangkap Tinggal Mantan Bupati Lampung Timur yang Masih Buron

-Hukum-767 views

Jakarta, Radar Pagi – Bos Tripanca Group Sugiarto Wiharjo alias Alay ditangkap ketika sedang makan siang bersama koleganya di saung Hotel Novotel, Tanjung Benoa, Bali, Rabu (6/2/2019) kemarin. Dengan ditangkapnya Alay, tervonis kasus serupa, tinggal mantan Bupati Lampung Timur periode 2005-2010, Satono, yang masih buron.

Alay merupakan buronan selama empat tahun setelah divonis 18 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA) pada 21 Mei 2014 silam, sementara Satono sudah buron sejak April 2012 setelah divonis 15 tahun penjara oleh MA pada 19 Maret 2012.

Keduanya dinyatakan bersalah terlibat korupsi APBD Lampung Timur dan Lampung Tengah sebesar Rp 119 miliar. Uang itu merupakan tabungan APBD Lampung Timur dan Lampung Tengah. Modusnya, Alay bekerjasama dengan Satono untuk membobol rekening tersebut.

Selama dalam pelarian, Alay sempat kabur hingga ke Australia dan sudah berganti KTP dengan nama menjadi Oei Hok Gie, tercatat sebagai warga Malang, Jawa Timur. KTP itu sendiri dikeluarkan pada 3 November 2017.

“(Alay) Buron dari 2014. Di-detect sempat di Australia, di luar negeri. Di Indonesia, 2014 dia sudah nggak di Lampung lagi. Begitu dia menjalani tindak pidana perbankannya begitu selesai dia kabur, hilang, karena tindak pidana korupsinya dinaikkan sampai sekarang baru ketemu,” ujar Aspidsus Kejati Lampung Andi Suherlis di kantor Kejati Bali, Jl Tantular, Renon, Denpasar, Bali, Kamis (7/2/2019).

Jejak Alay sempat terendus di rumahnya di Bandar Lampung hingga di rumah anaknya di Bali. Dia juga sempat menghadiri pemakaman ibunya di Surabaya, namun berhasil lolos dari penangkapan.

Diduga Alay menggunakan hasil koruipsinya untuk membeli aset di Bali. Jaksa masih melacak keberadaan aset-aset milik Alay itu.
“Itu kita sedang tracing, kerja sama PPA, Pusat Pemulihan Aset dari Kejagung dan KPK,” kata Andi Suherlis.

Sementara itu, berbeda dengan Alay yang jejaknya masih bisa ditelusuri, pihak kejaksaan mengaku belum berhasil mendeteksi keberadaan Satono. “Nyari orang kan lebih sulit dari nyari yang lain,” ujar Jaksa Agung Prasetyo. (jar)

 

 

News Feed