oleh

Di Sidang Tanwir Muhammdiyah, Jokowi Kembali Bantah Isu PKI dan Antek Asing

-Politik-266 views

Bengkulu, Radar Pagi – Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Sidang Tanwir Muhammadiyah yang digelar di halaman rumah dinas Gubernur Bengkulu, Pasar Jitra, Teluk Segara, Bengkulu, Jumat (15/2/2019). Dalam forum itu, Jokowi kembali membantah isu soal dirinya sebagai antek asing dan anggota PKI.

“Saya ingin sampaikan berkaitan dengan isu yang 4 tahun ini saya diam dan tidak jawab apa-apa. Dan mumpung Tanwir Muhammadiyah, saya akan jawab, baik mengenai isu PKI, antek asing, antek aseng, kriminalisasi ulama, dan lain-lain,” kata Jokowi.

Dia bicara soal foto di media sosial yang menggambarkan dirinya menghadiri pidato Ketua PKI DN Aidit jelang pemilu tahun 1955.

“Gambar seperti ini lah yang sekarang ini banyak meresahkan. Dan isu seperti ini terus digoreng jelang bulan politik,” katanya.

Terkait tuduhan kriminalisasi ulama. Dia menjelaskan, siapapun dan apapun jabatannya, selama melakukan permasalahan dan diputus hukuman penjara, maka itu murni persoalan hukum.

“Negara kita negara hukum, semua sama di hadapan hukum. Kalau ada gubernur, menteri, bupati, ketua atau anggota dewan, insinyur, dokter, bermasalah dengan hukum ya pasti aparat hukum akan tindak lanjuti, siapapun,” tegasnya.

Dia pun heran dengan tudingan dirinya adalah antek asing, sebab dia telah banyak melakukan kebijakan dengan mengambil alih aset dari tangan asing agar kembali dikelola penuh oleh Indonesia. Jokowi mengatakan bukan hal yang mudah untuk mengambil aset dari tangan asing ke Indonesia. Menurutnya, isu dirinya antek asing ini memang sengaja dibesarkan di tahun politik ini.

“Di 2015 Blok Mahakam yang dikelola Jepang dan Prancis sudah kita ambil dan diserahkan 100 persen ke Pertamina. Di tahun 2018, Blok Rokan yang dikelola Chevron lebih dari 90 tahun kemarin sudah kita menangkan dan 100 persen diserahkan ke Pertamina. Akhir 2018, bulan Desember yang namanya Freeport sudah mayoritas kita ambil 51,2 persen, sehingga saham pengendali ada di tangan kita yang diwakili PT Inalum, yang sebelumnya 40 dikelola oleh Freeport McMoran dan kita diam tidak ada yang namanya isu antek asing,” katanya.

Pose Dua Jari

Dalam kegiatan yang mengangkat ‘Beragama yang Mencerahkan’ ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan soal pose saat foto bersama dengan Jokowi. “Bila ingin berfoto bersama, beraksilah dengan riang gembira, tidak perlu mengangkat pose jari tangan 1 atau 2, kasihanilah nasib jari 8 sampai 9 lainnya. Jangan sampai jari 8 hingga 9 jari lain itu meminta pertanggungjawaban si empunya,” kata Haedar.

Dia pun menjelaskan alasan pemilihan Bengkulu sebagai lokasi Sidang Tanwir Muhammadiyah ke-2 dikarenakan banyaknya tokoh Muhammadiyah yang lahir di Bengkulu.

“Bengkulu punya sejarah lahirnya tokoh Muhammadiyah dan tokoh bangsa. Hasan Din adalah konsul Muhammadiyah, dia juga pengusaha ternama dan ayah dari Ibu Negara, Ibu Fatmwati. Dan di Bengulu juga seorang Soekarno beberapa tahun di sini pernah menjadi Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah. Juga ada tokoh Tionghoa Muslim Karim Oey yang juga pengusaha besar dan perintis bahkan pendiri persatuan Islam Tionghoa Indonesia, juga tokoh Muhammadiyah,” tuturnya. (gunawan)

 

News Feed