oleh

Heboh Pamflet Ajakan Sholat Jumat Bersama Prabowo

-Utama-779 views

Semarang, Radar Pagi – Takmir Masjid Agung Kauman Semarang, Jawa Tengah, keberatan dengan adanya pamflet ajakan yang tersebar di medsos serta spanduk selamat datang dan poster capres cawapres nomor 02 di dekat Masjid Kauman.

Diketahui pembuatnya adalah Milenial Terdepan Prabowo-Sandi (Mantaps) Jawa Tengah dan di-posting di akun Instagram mereka. Tulisan dalam pamflet tersebut: “Hadiri! Shalat Jumat Bersama Prabowo Subianto. Jumat, 15 Februari 2019, Mesjid Kauman, Semarang”.

Pihak masjid tidak melarang Prabowo untuk Salat Jumat di sana, hanya saja khawatir pamflet dan spanduk itu membuat masjid seolah menjadi tempat berpolitik. Saat ini selain postingan pamflet dihapus, spanduk dan poster di dekat Masjid Kauman sudah dicabut.

“Masjid sebagai tempat ibadah, kami tidak keberatan digunakan siapapun selama penggunaannya untuk ibadah. Ketika timnya Pak Prabowo sampaikan kepada kami mau salat, kami persilakan. Masjid Kauman kami kelola untuk melayani umat Islam,” kata Ketua Takmir KH Hanief Ismail, Kamis (14/2/2019) kemarin.

“Kami merasa keberatan saat ditemukan ada pamflet seperti itu seakan masjid jadi ajang kampanye,” sambungnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun setuju dengan pendapat KH Hanief Ismail terkait adanya penyebaran pamflet tersebut.

“Saya kira takmir masjid sudah benar, bahwa siapa pun boleh menunaikan Salat Jumat di Masjid Agung Kauman Semarang, yang beliau masalahkan itu kan adanya pamflet dan spanduk di sekitar masjid apakah itu dibenarkan menurut peraturan perundang-undangan. Meskipun bentuknya hanya ucapan selamat datang dan pemberitahuan atau undangan untuk melaksanakan Salat Jumat bersama Pak Prabowo,” kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’ad, Kamis (14/2/2019) malam.

Menurut MUI, jika bukan musim kampanye, mungkin tak akan ada masalah dengan adanya pamflet tersebut.

“Kalau tidak sedang musim kampanye mungkin hal tersebut tidak masalah, tetapi karena sekarang sedang musim kampanye sehingga ada kesan seolah-olah kegiatan Salat Jumat tersebut bernuansa politik,” imbuhnya.

Sementara politikus Partai Golkar Nusron Wahid mengaku heran dengan adanya pamflet ajakan salat Jumat bersama capres Prabowo Subianto di Masjid Agung Semarang. Nusron mengaku baru kali ini melihat tindakan seperti itu.

“Jujur saja, baru pertama kali saya sebagai umat Islam hidup dalam nuansa Islam sejak kecil di Indonesia, ada ajakan salat Jumat pakai pamflet, dan ajakan di socmed. Biasanya ajakan salat Jumat itu cukup dengan mukul beduk atau menghidupkan loudspeaker, dan bacaan tarhim dan azan, orang sudah berbondong-bondong datang ke masjid. Ini karena salatnya lillahi ta’ala. Hanya karena Allah, bukan Linnnas, bukan untuk manusia,” kata Nusron melalui keterangan tertulisnya, Jumat (15/2/2019).

Dia menyarankan agar Prabowo dan timnya sebaiknya melaksanakan salat saja tanpa harus membuat pamflet yang berisi ajakan beserta foto Prabowo. Sebab, dia menyebut Allah SWT menilai seluruh umatnya sama tanpa membedakan jabatan atau profesi jemaah salat Jumat.

“Kalau mau salat, ya salat saja, datang sama teman-teman ya bagus. Nggak usah pakai diumumkan dan dipamfletkan. Toh, di mata Allah, semua jemaah dianggap sama. Mau presiden, capres, atau tukang becak, posisinya di masjid juga sama, jemaah. Itu kalau lillahi ta’ala. Tapi, kalau motifnya lain, ya pasti menyalahi langgam, kebiasaan, dan pakem yang ada. Wallahualam,’ ucapnya.

Namun Wakil Ketua BPN, Priyo Budi, menyebut alasan dan tujuan pelarangan salat Jumat Prabowo tidak masuk akal. Juga demikian halnya dengan Fahri Hamzah. Fahri mengaku curiga permasalahan ini muncul karena ada campur tangan penguasa.

“Saya agak curiga bahwa memang kaki tangan kekuasaan itu terlalu jauh itu untuk intervensi hal-hal yang sifatnya pribadi. Orang pergi salat Jumat kan peribadatan pribadi. Saya memang mendengar ada keluhan dari tim Pak Prabowo bahwa mereka dibatasi untuk ketemu masyarakat,” kata Fahri.

Sedangkan menurut Bawaslu, tak ada larangan bagi siapa saja yang hendak beribadah di tempat ibadah. Hanya saja Bawaslu mengingatkan kepada tim Prabowo-Sandiaga untuk melepas atribut politik saat berada di masjid. Bawaslu pun akan melakukan pengawasan.

“Sudah otomatis di sana akan dilakukan pengawasan oleh (Bawaslu) daerah., Bawaslu daerah artinya mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh tim kampanye dan peserta pemilu 2019” ujar Ketua Bawaslu Abhan di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (14/2/2019) kemarin. (dtc/jar)

News Feed