oleh

Fadli Zon Ngaku Bikin “Doa yang Ditukar” Karena Nggak Rela Mbah Moen Dipermalukan

-Utama-254 views

Jakarta, Radar Pagi – Puisi Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, berjudul “Doa yang Ditukar” mengundang jadi polemik karena isinya dinilai memfitnah dan menyerang KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).

Diserang kiri-kanan gara-gara puisi tersebut, Fadli pun merasa gerah. Dia pun membuat klarifikasi tertulis yang dikirimkannya ke media massa, Minggu (17/2/2019).

Berikut klarifikasi Fadli Zon:

  1. Saya sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair, baik sebagai ulama, maupun sebagai pribadi yang santun dan ramah. Beberapa kali saya bertemu dengan beliau. Beberapa di antaranya kebetulan bahkan bertemu di tanah suci Mekah, di pesantren Syekh Ahmad bin Muhammad Alawy Al Maliki, di Rusaifah.
  2. Di tengah pembelahan dikotomis akibat situasi perpolitikan di tanah air, saya selalu berpandangan agar penilaian kita terhadap para ulama sebaiknya tidak dipengaruhi oleh penilaian atas preferensi politik mereka. Hormati para ulama sama seperti halnya kita menghormati para guru atau orang tua kita.
  3. Justru karena saya sangat menghormati K.H. Maimoen Zubair, saya tidak rela melihat beliau diperlakukan tidak pantas hanya demi memuluskan ambisi politik seseorang ataupun sejumlah orang. Inilah yang telah mendorong saya menulis puisi tersebut. Saya tidak rela ada ulama kita dibegal dan dipermalukan semacam itu.
  4. Secara bahasa, puisi yang saya tulis tidaklah rumit. Bahasanya sengaja dibuat sederhana agar dipahami luas. Hanya ada tiga kata ganti dalam puisi tersebut, yaitu “kau”, “kami” dan “-Mu”. Tak perlu punya keterampilan bahasa yang tinggi untuk mengetahui siapa “kau”, “kami” dan “-Mu” di situ. Apalagi, dalam bait ketiga, saya memberikan atribut yang jelas mengenai siapa “kau” yang dimaksud oleh puisi tersebut.
  5. Pemelintiran seolah kata ganti “kau” dalam puisi tersebut ditujukan kepada K.H. Maimoen Zubair jelas mengada-ada dan merupakan bentuk fitnah. Tuduhan tersebut bukan hanya telah membuat saya tidak nyaman, tapi juga mungkin telah membuat tidak nyaman keluarga K.H. Maimoen Zubair. Kami dipaksa seolah saling berhadapan, padahal di antara kami tidak ada masalah dan ganjalan apa-apa. 6. Keluarga K.H. Maimoen Zubair, melalui puteranya, K.H. Muhammad Najih Maimoen, telah memberikan penjelasan bahwa beliau menerima klarifikasi saya bahwa kata ganti “kau” memang tidak ditujukan kepada K.H. Maimoen Zubair. Tanpa klarifikasi dari sayapun, beliau sendiri berpandangan jika kata ganti “kau” memang ditujukan kepada orang lain, bukan Mbah Moen. Beliau juga menjelaskan jika aksi massa yang telah menggoreng isu ini bukan berasal dari kalangan santrinya, melainkan digoreng oleh pihak luar.
  6. Sekali lagi saya sampaikan bahwa puisi itu sama sekali tidak pernah ditujukan kepada K.H. Maimoen Zubair. Penjelasan ini sejak dini juga telah saya sampaikan kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat ia tabayun melalui akun media sosialnya. Sudah saya jawab dengan tegas dalam tabayun bahwa kata ganti “kau” pada puisi itu adalah “penguasa”, bukan K.H. Maimoen Zubair.
  7. Guru-guru saya banyak berasal dari ulama dan kyai NU, termasuk almarhum K.H. Yusuf Hasyim, putra Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Saya juga bersahabat karib dengan K.H. Irfan Yusuf dan keluarganya, yang merupakan cucu Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Begitu juga halnya dengan putera pendiri NU yang lain. K.H. Hasib Wahab Abdullah, yang merupakan putera K.H. Wahab Hasbullah, adalah sahabat saya sejak puluhan tahun silam. Saya bahkan pernah jadi Dewan Penasihat Pencak Silat NU Pagar Nusa. Itu sebabnya saya juga sangat menghormati NU.
  8. Itu sebabnya saya tidak pernah mendudukan para ulama dan kyai berdasarkan preferensi politiknya. Politik mudah sekali berubah, sementara penghormatan kita kepada orang-orang alim seharusnya selalu ajeg.
  9. Dalam waktu dekat Insya Allah saya mungkin akan bersilaturahim ke K.H. Maimoen Zubair. Meskipun puisi saya—sekali lagi—tidak pernah ditujukan untuk beliau, sebagai salah satu aktor politik saya ingin meminta maaf karena kontestasi politik yang terjadi saat ini mungkin telah membuat beliau dan keluarga menjadi tidak nyaman akibat gorengan orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Demikian penjelasan tertulis yang ingin saya sampaikan.

Sindiran untuk Mbah Moen?

Puisi ‘Doa yang Ditukar’ sekilas memang seperti menyindir Mbah Moen, seorang kyai sepuh NU. Mbah Moen sebelumnya salah menyebut nama calon presiden yang dia doakan bisa memimpin bangsa ini kelak.

Saat membacakan doa di sebelah capres petahana Joko Widodo (Jokowi) yang sedang berkunjung ke Ponpes Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, 1 Februari 2019 silam, Mbah Moen malah menyebut nama Prabowo. Belakangan Mbah Moen mengakui bahwa dirinya salah menyebut nama. 

Begini bunyi puisi tersebut:

DOA YANG DITUKAR

doa sakral

seenaknya kau begal

disulam tambal

tak punya moral

agama diobral

doa sakral

kenapa kau tukar

direvisi sang bandar

dibisiki kacung makelar

skenario berantakan bubar

pertunjukan dagelan vulgar

doa yang ditukar 

bukan doa otentik

produk rezim intrik

penuh cara-cara licik

kau penguasa tengik

Ya Allah

dengarlah doa-doa kami

dari hati pasrah berserah

memohon pertolonganMu

kuatkanlah para pejuang istiqomah

di jalan amanah

Puisi itu langsung mendapat respon negatif dari sejumlah kalangan, mulai politikus hingga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, juga ikut mempersoalkan puisi Fadli Zon itu. 

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo- Maruf Amin, Arsul Sani, bahkan menilai puisi tersebut justru merugikan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Itu membuat warga NU menjadi jauh dari paslon 02,” kata Arsul kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (6/2/2019) silam.

Nahdliyin, kata Arsul, selalu menghormati kiai atau ulamanya meskipun memiliki pandangan dan sikap yang berbeda. Karenanya puisi Fadli akan berbalik dan membuat rugi Prabowo-Sandi.

Sementara Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy lewat akun media sosial Twitter miliknya, Rabu (5/2/2019), menyindir kubu Prabowo-Sandiaga sebagai pihak yang berteriak bela ulama, tetapi belakangan justru malah merendahkan ulama.

Dia pun menyindir lawan politik agar tidak gemar membawa-bawa nama Tuhan, sementara salat lima waktu dan puasa Ramadan masih sering ditinggalkan.

“Hentikan semua narasi, seolah kau paling suci. Karena pemimpin dalam Islam sudah jelas ukurannya, bukan penghina ulama dan menakut-takuti rakyatnya,” kata Romi. (jar)

 

 

 

 

 

News Feed