oleh

Pemerkosa Anak Kandung Ngaku Khilaf, Polisi: Khilaf Kok Berkali-kali?

-Hukum-482 views

Lampung, Radar Pagi – Beredar video di kalangan wartawan terkait pemeriksaan terhadap M (45) yang berulangkali memperkosa anak kandungnya sendiri, AG (18), gadis penyandang disabilitas keterbelakangan mental. Kepada petugas, M mengaku khilaf.

“Saya khilaf,” kata M dalam video tersebut kepada penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tanggamus, Lampung.

“Sadar nggak kalau itu anak kandung?” tanya penyidik. 

“Saya khilaf,” jawab M.

“Khilaf kok berkali-kali. Khilaf tuh sekali, nggak berkali-kali,” kata penyidik lagi.

M mengaku baru 5 kali melakukan persetebuhan sedarah itu. Anak kedua M juga seorang perempuan. Namun menurutnya, hanya AG yang jadi korban pelampiasan dirinya dan dua putranya, yaitu SA (24) dan YF (15). Kondisi keterbelakangan mental AG menjadi sebab mengapa para pelaku berani menyetubuhi korban.  

“Benar 5 kali? Sejak kapan itu?” tanya penyidik.

“Agustus (2018), Pak,” jawab M. 

Namun polisi tidak mempercayai keterangan M. Polisi meyakini M sudah lebih dari 5 kali menyetubuhi AG, apalagi sebelumnya tersangka SA mengaku sudah menyetubuhi adiknya sedikitnya 120 kali, sementara YF mengaku menyetubuhi kakaknya 60 kali. Bahkan YF juga mengaku pernah menyetubuhi kambing dan sapi milik tetangga.

Banyak Nonton Film Porno

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tanggamus Ipda Primadona Laila mengatakan, perilaku SA dan YF yang suka nonton film porno itu diketahui dari hasil pemeriksaan dan pengakuan tersangka. 

“Nonton film bersama, kemudian dipraktikkan ke korban. Dalam sehari bisa melampiaskan hasratnya ke korban itu ada kalau kakaknya bisa sampai 5 kali, adiknya 3 kali,” kata Ipda Dona

Ipda Dona menyebut, secara visual M dan SA terlihat seperti manusia normal. Tidak ada keanehan prilaku. Namun sosok YF dia nilai sedikit aneh, karena saat diperiksa terlihat santai bahkan tertawa. 

“Kita tanya (kepada YF) ada objek atau korban lain nggak yang disetubuhi selain kakak kandungmu, anak ini jawab ‘nggak ada bu. Tapi pernah sama kambing dan sapi juga’. Itu pun karena melihat video porno yang ada di HP. HP-nya rusak. Mereka terinspirasi video porno luar negeri yang melakukan hubungan seksual melalui objek binatang,” ucapnya.

Untuk mendalami persoalan ini, ketiga tersangka akan diperiksa kejiwaannya pada Senin (25/2/2019). Polisi ingin mengetahui apakah ketiganya mengalami gangguan kejiwaan. 

Sejauh ini, kata Ipda Dona, belum ditemukan adanya gejala kehamilan karena korban juga baru mau kita ambil keterangannya Senin besok dengan didampingi ahli bahasa.

“Korban bukan kategori tunarungu, tunawicara atau tunagrahita tapi dia memang masuk dalam katagori disabilitas karena kalau ditanya harus ada panduan, ada yang mendampingi, jadi bisa jelas,” ujar Ipda Dona.

“Secara visual anaknya sehat. Anaknya putih, cantik malah. Tapi dia keterbelakangan mental. Mungkin karena tidak mengenyam pendidikan. Kurang lebih seperti itu. Kalau kita lihat matanya kosong. Psikisnya sudah kena,” sambungnya.

SA dan YF saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dipersangkakan Pasal 76D dan Pasal 81 ayat (3) UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 8 huruf a jo Pasal 46 UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga atau Pasal 285 KUHPidana.

“Ancaman hukuman untuk Pasal 81 ayat 3 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak minimal 5 tahun maksimal 15 tahun ditambah sepertiga dari ancaman maksimal apabila dilakukan oleh orang tua, wali, orang-orang yang mempunyai hubungan darah. Untuk Pasal 46 UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga ancaman hukuman paling lama 12 tahun. Untuk Pasal 285 KUHPidana ancaman hukuman paling lama 12 tahun,” jelas Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, Sabtu (23/2/2019) kemarin.

Polisi mengatakan YF akan diproses lebih cepat daripada pelaku lain, ayah M (45), dan kakaknya, SA (24).

“Bisa (diproses hukum), kita pakai peradilan anak, prosesnya makanya kita percepat. Dia duluan pelimpahan ke JPU karena penahanannya cuma 7 hari di kepolisian,” kata Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas, saat dihubungi, Minggu (24/2/2019). 

Ia mengatakan anak bungsu tersebut ditahan terhitung 7 hari sejak Sabtu (23/2/2019). Selain itu ia memastikan YF mendapat pendampingan dari psikolog. 

Hukuman Berat

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengutuk keras kasus incest atau hubungan sedarah yang dilakukan ayah M (45), dan kakaknya, SA (24), serta adiknya, YF (15) terhadap perempuan berinisial AG (18) di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung. KPAI meminta para pelaku dihukum maksimal.

“Korban adalah anak perempuan penyandang disabilitas yang Ibu meninggal. Ia menjadi budak seks anggota keluarga yang seharusnya melindunginya. Tiga pelaku yakni ayah, kakak dan adik korban melakukan eksploitasi seks sejenis dengan memanfaatkan kelemaham korban sebagai penyandang disabilitas mental. Ini perbuatan bejat, pelakunya harus dituntut 15 tahun penjara,” kata Komisioner KPAI Bidang Sosial dan Anak Dalam Situasi Darurat, Susianah Affandy, lewat keterangannya, Sabtu (23/2/2019).

Susianah mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Menurut dia, tindakan sadis dari para pelaku harus menjadi atensi dari seluruh pihak.

“Perbuatan melanggar hukum dan sangat sadis ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

Susianah akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pringsewu terkait perlindungan dan pemulihan korban. Selain itu, KPAI juga akan melakukan komunikasi dengan kementerian terkait untuk membahas aturan terkait perlindungan korban penyandan disabilitas.

“Peristiwa ini bagi KPAI akan menjadi pintu masuk bagi upaya perlindungan anak penyandang disabilitas. KPAI akan segera melakukan Koordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait untuk membahas RPP tentang UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas,” tuturnya.

Korban saat ini berada di rumah kerabatnya dan didampingi psikolog dari kepolisian. Korban masih didampingi karena merupakan disabilitas mental. (dtc/jar)

 

News Feed