oleh

Puisi-puisi Ruhan Wahyudi

-Puisi-249 views

Terbang Ke Langit

Setiap kali burung merpati melingkar di mataku

Rasanya aku juga ingin terbang bersamanya

 

Tapi tidak dengan burung itu, melainkan dengan pe-sapean pappa*

Yang dibuat ayahku, dari pelepah pisang dan sayapnya adalah tanganku sendiri, katanya

 

Seraya pecut yang dipintal dari imajinasi untuk memacunya

Agar aku bisa terbang tinggi ke langit, sampai di titik paling

 

Setiap hari ia membawaku memecah siutan angin

Mendobrak luka yang tertanam dalam tubuhku

 

Di tengah perjalanan ia sering kali berhenti

Menunjukkan matahari yang sedang melihatku

 

Tanpa merasa lelah membawaku ke alam banyangan

Untuk melihat rumahnya yang sederhana

 

Aduhai sapiku yang telah menemani kesepianku

Kin telah menjadi kenangan yang terlukis dalam kalbu

 

Ternyata sapiku telah menjadi menjadi puisi

Yang terus berpacu dengan diksi paling hakiki

Gapura, 21 Februari 2019

*Sapi-sapian yang terbuat dari pelepah pisang, permainan anak kecil di Madura

 

Sebuah puisi I

//

Di warung dekat rumahku

Di atas seratan bambu yang jadi hamparan tikar

Aku mencoba menanak puisi dengan kata-kata yang kutemukan di lembah ingatan

Dengan pena yang masih terdekap di tangan.

//

Aku membakar diksi di atas tikar bambu

Kersik daun Siwalan yang menjerit telah berpaut diam di pekarangan rumahku

Di sini telah kumakan sejumlah puisi dengan perut kertas yang kerontang

//

Sambil memilih sisa-sisa keresahan kata yang jadi debu

Dengan diksi angin yang terbius dalam tubuhmu

Aku terus menyapu kata-kata itu

Lalu aku menatap jalak Hitam membentang di atas awan,

yang mengisahkan seorang penyair telah bercumbu dengan kata-kata usang.

Gapura

 

Lukisan wajahmu

//

Sayang….

Bunyi seruling berdengung di antara

Kersik pelepah pisang dekat rumahku

Dengan setonggak pena yang melukiskan wajahmu

Dari kuas-kuas yang kita racik dari seribu warna langit

//

Sambil menikmati desaun angin syakal

Yang menghunus dibalik daun jendela

Mengisyaratkan beberapa warna untuk kulukis

Warna merah, kuning, hijau di lembar-lembar Kanvas

Warna itu adalah kebahagian yang pernah lahir dari rahim langit

Selepas hujan pagi hari.

//

Sayang..

Bunyi kicaun burung yang mendatar dari kejauhan

Telah memberi salam dari mata langit

Bahwa lukisan dirimu akan rampung di lintang cakrawala..

Gapura

 

Mantra cinta

Kekasihku,

Setiap langkah kaki menuju gubuk

Adakah bunga yang bisa kuhirup

Setiap pagi,entah malam yang ingin meramu mimpi

 

Dan lembah-lembah yang menghijau tempatku mengukir wajahmu

Mengusik mantra pada burung, langit, laut, lembah

Serta tumbuhan yang mengelai napasnya

 

Agar enkau tahu, kekasihku

Bahwa langit telah mengambarkan

2 hati di atas cakrawala yang melintang pada mata telanjang

Dan meski kau ingatkan dalam otak kirimu

 

Kasihku,

Lihatlah laut yang selalu mengirim gelombang

Akan singgah pula di bibir pantai

Di sana telah ada sebuah tempat sejuk

Yang dulu kau lewati, menurutmu tempat luka

Tapi tidak, dari situlah hatiku mulai lahir untuk perempuan

Bermata biru.

Penjara suci, 2018

 

Balada dalam kamar sunyi

Sayang…..

Lambayan kelambu mulai bergelombang pelan

Berisyarat tentang bulan purnama yang malu

Lalu, aku mengeja setonggok Alief dalam tubuhmu

Mengusik telingaku, mendekap pada tungku hatiku

Di kala malam gigil meramu mimpi

 

Kini, hanya diam terus melabuhiku

Sayang,datanglah sebelum renta dengan sajak kerinduan

Amsal riak tawamu terhanyut nan jauh kedasar jiwaku

Lalu, menjelma lukisan dalam kanvas kenangan baru

 

Di kamar mimpiku bisikanmu menjelma gemuruh

Lewat daun jendelaku di balik angin riuh

Dan engkau mengintip dalam mimpiku sembari berkata

:buatlah payung dalam hatimu agar aku lebih nyaman jika anak hujan menyerangku

Dan buatkanlah tempat kuberteduh di paru-parumu agar aku bisa merasakan hangat

Jantungmu, hiaslah kamar jiwamu agar aku lebih betah menyusun bait cinta hingga malaikat

Melontarkan sajak tentang maut yang terjatuh di bawah ubub-ubunku

 

Sayang….

Aku pun terjaga malam itu

Untuk meracik puisi di dalam hatimu yang syahdu

Meskipun imajinasi tak terlalu mewah pada dasarnya

Akan kusempurnakan dengan diksi-diksil langit

Bulan, bintang, matahari dan pualam hatimu

Agar semuanya menyatu dalam narasi untukmu

Bumi nasa, 30 September 2018

Ruhan Wahyudi lahir di Gapura Tengah Sumenep Madura, 06 Mei 2000. Sekarang tercatat sebagai siswa MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep Madura Aktif di komunitas ASAP dan KPB (Puisi Kelas Bekasi) Jawa Barat.

News Feed