oleh

Polisi Selidiki Dalang di Balik 11 Oknum FPI yang Bikin Ricuh di Harlah NU

-Hukum-109 views

Jakarta, Radar Pagi – Polisi mendalami kemungkinan adanya aktor intelektual yang mendalangi 11 anggota FPI membuat kericuhan di peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-93 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut).

Namun sejauh ini, para tersangka mengaku tidak diarahkan. Mereka beraksi secara spontan.

“Dari hasil pemeriksaan awal, dari 11 tersangka ini katanya spontan,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (1/3/2019).

Meski begitu polisi belum sepenuhnya mempercayai pengakuan tersebut. “Leader atau aktor intelektual yang menggegerkan ini masih didalami dulu,” kata Dedi.

Mengenai motif perbuatan para tersangka, Dedi mengaku polisi juga masih mendalaminya, sebab masih masih dalam proses pemberkasan perkara di Polsek Tebing Tinggi dengan dibantu petugas dari Polda Sumut.

Bagi-bagi Sembako?

Kuasa hukum FPI yang juga merupakan salah satu pentolan ormas tersebut, Munarman, mengatakan ada beberapa hal yang memicu kericuhan di Harlah NU kemarin. Salah satunya, informasi berupa pembagian sembako sebagai bentuk kampanye terselubung.

“Peristiwa tersebut bermula dari, satu, ada kegiatan kampanye terselubung dengan pembagian sembako dan pesan mengajak memilih pasangan tertentu,” kata Munarman dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/2/2019).

Selain itu, kata Munarman, ada salah satu penceramah yang memfitnah kelompok lain sebagai radikal intoleran dan berbahaya, meng-ghibah orang, mendukung pembakaran bendera tauhid, berselawat dengan nada dangdut, dan lain sebagainya.

Munarman mengatakan hal itu membuat masyarakat gerah atas kegiatan kampanye terselubung yang disampaikan salah satu penceramah. Hingga akhirnya datang sejumlah orang ke acara NU tersebut.

Sebelumnya,  kericuhan bermula saat acara harlah NU digelar di Lapangan Srimersing, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, pada Rabu, 27 Februari 2019. 

Acara berisi tablig akbar, tausiah kebangsaan, serta pelantikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Kericuhan bermula saat penceramah Gus Muwafiq menyampaikan tausiah, sekelompok orang berusaha masuk ke lokasi acara sambil berteriak-teriak. Mereka meminta acara itu dibubarkan. Belakangan diketahui massa yang berdemo itu berasal dari FPI Tebingtinggi.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Komisaris Besar Tatan Dirsan Atmaja, Kamis malam kemarin, sekelompok orang itu juga menghasut ibu-ibu yang tengah ikut pengajian untuk berdemo membubarkan acara harlah NU. 

Tatan mengatakan petugas pengamanan telah berupaya meminta mereka tidak membuat kegaduhan. Namun, imbauan itu tak digubris. Akhirnya polisi mengamankan mereka ke Kepolisian Resor Tebingtinggi.

“Mereka tidak terima dengan tabligh akbar tersebut. Katanya sesat. Satu temannya malah berteriak, ‘Bubar semua, bubar semua’. Personel pengamanan berusaha menghalau dan mengingatkan. Rombongan semakin berteriak-teriak, ‘Bubarkan, bubarkan’. Mereka juga memaksa ibu-ibu yang ikut pengajian untuk berdemo tapi ditolak,” kata Tatan.

Menurut Tatan, awalnya anggota FPI yang ditangkap berjumlah 8 orang, namun setelah pemeriksaan jumlah itu bertambah menjadi 11 orang yang kemudian ditetapkan menjadi tersangka. Mereka antara lain SAS, MFS, MHH, An, AD, AS, Su, OQ, AR, Il, dan RFS.

Polisi menetapkan sebelas orang itu melanggar Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penghasutan dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. (jar)

 

News Feed