oleh

Hakim Agung yang Tolak Kasasi Dimas Kanjeng Meninggal Dunia

-Utama-177 views

Jakarta, Radar Pagi –  Hakim agung Wahidin wafat di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta, Minggu (3/3/2019) sekitar pukul 07.30 WIB, karena sakit. Wahidin merupakan hakim agung spesialis perkara pidana yang namanya dikenal luas masyarakat setelah menangani perkara Dimas Kanjeng Taat pribadi, seorang dukun pengganda uang yang membunuh santrinya sendiri.

Wahidin merupakan hakim karier yang sudah puluhan tahun mengabdi di dunia peradilan Indonesia.  Almarhum dikenal sangat berdidikasi pada profesinya.

Meski punya riwayat sakit yang menahun, Wahidin yang lahir pada 10 Oktober 1951 diketahui tetap semangat masuk kantor. Bahkan sampai Jumat (1/3/2019) kemarin, almarhum masih bekerja.

“Jumat kemarin beliau masih masuk kantor,” ujar Juru Bicara MA, Andi Samsan Nganro, Minggu (3/3/2019).

Menurut Andi, Wahidin akan dimakamkan di Pekanbaru hari ini juga, namun dishalatkan lebih dulu di Apartemen Kemayoran.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi di depan tumpukan uang di dalam rumahnya

Salah satu perkara yang almarhum pernah tangani adalah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat pribadi. Saat itu, Wahidin menolak upaya banding Dimas Kanjeng sehingga dukun bertubuh tambun itu tetap divonis 18 tahun penjara.

Kasus Dimas Kanjeng sempat menyita perhatian masyarakat. Kasus bermula pada 25 Januari 2015 saat Dimas menyuruh orangnya untuk menghabisi nyawa Ismail Hidayah. Alasannya karena Ismail telah merugikan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yaitu membongkar aib penipuan bermodus penggandaan uang.   

Pada 2 Februari 2015 malam, Ismail akhirnya dihabisi komplotan suruhan Dimas Kanjeng di Jalan Raya Paiton, Probolinggo. Setelah itu, jenazah Ismail dikubur di sebuah lubang yang sudah disiapkan sebelumnya di Desa Tegalsono, Probolinggo.

Namun jenazah Ismail ditemukan warga pada 5 Februari 2015. Perlahan, kasus pembunuhan itu terungkap. Komplotan ini membuat geger dan membuka kedok Padepokan Dimas Kanjeng. Polisi menyeret semua pelaku, termasuk Dimas Kanjeng.

Pada 1 Agustus 2017, Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara kepada Dimas Kanjeng. Hukuman itu jauh di bawah tuntutan jaksa yang meminta agar Dimas dihukum penjara seumur hidup. Namun Dimas Kanjeng tidak menerima putusan itu.

“Saya tidak membunuh divonis 18 tahun penjara? Saya lebih baik mengajukan banding saja. Saya sadar sebagai warga negera yang baik, saya hargai proses hukum tapi ini saya kira di luar dugaan saya,” kata Dimas Kanjeng.

Tetapi Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya menguatkan vonis Dimas Kanjeng. Puncaknya, MA menolak kasasi jaksa dan Dimas Kanjeng pada bulan Februari 2018. Perkara dengan nomor 104 K/PID/2018 diadili oleh ketua majelis hakim agung Andi Abu Ayyub Saleh dengan anggota Margono dan Wahidin yang kini almarhum. Akhirnya, Dimas tetap dihukum 18 tahun penjara.

Selain Dimas Kanjeng, hakim agung Wahidin juga pernah menangani kasus Ramadhan Pohan, yang terjerat kasus penipuan. Wahidin termasuk hakim yang menolak kasasi Ramadhan Pohan sehingga kader Partai Demokrat itu tetap divonis 3 tahun penjara. (gunawan)

News Feed