oleh

Mantan Panglima Laskar Jihad Jadi Tersangka Perusakan Rumah Warga, Warga Papua Minta Dia Diusir

-Hukum-214 views

Jayapura, Radar Pagi – Mantan Panglima Laskar Jihad Indonesia Ustaz Jafar Umar Thalib (JUT) jadi tersangka kasus perusakan rumah warga di Koya, Distrik Muara Tami, Papua. Namun karena Jafar Umar sedang dirawat di Rumah Sakit Polri Bhayangkara di Jayapura, maka penahanannya dibantarkan.

Dibantarkan berarti masa perawatan JUT di rumah sakit nantinya tidak akan mengurangi masa tahanannya.

“Setiap orang yang ditahan dan ternyata sakit, maka yang bersangkutan dibantarkan dan dirawat di rumah sakit, termasuk JUT,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin di Jayapura, Rabu (6/3/2019).

JUT bersama sejumlah pengikutnya ditetapkan sebagai tersangka pada 28 Februari 2019 silam, menyusul peristiwa perusakan rumah warga di Koya pada 27 Februari 2019.

Selain JUT, enam tersangka lainnya adalah IJ, AR, AD, AJT, M, dan AY, yang dikenai Pasal 170 ayat 2 ke-1 KUHP.

Dari tujuh tersangka, tiga di antaranya, yaitu JUT, AD, dan AY, dikenai pasal tambahan, yaitu Pasal 2 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Belum diketahui rumah milik warga siapa yang dirusak dan kenapa JUT bersama pengikutnya merusak rumah tersebut.

Tokoh Muslim Minta JUT Dikeluarkan dari Papua

Sebelumnya para tokoh muslim Papua meminta pemerintah dan aparat keamanan bertanggungjawab untuk mengeluarkan kelompok (JUT) dari Papua, serta menutup aktifitas pesantrennya di Kabupaten Keerom.

Pernyataan tersebut muncul dari pertemuan ormas-ormas Islam Provinsi Papua, di LPTQ Kotaraja, Kota Jayapura, Minggu (3/3/2019) silam.

“Terutama berkaitan dengan JUT dan santrinya atau kelompoknya, pada pekan lalu yang meresahkan warga Koya Barat, kami ormas Islam seluruh Papua mendukung dengan tegas proses hukum yang dilakukan oleh Polda Papua,” ujar Ketua MUI Provinsi Papua KH Syaiful Islam Al Payage.

Kiai Syaiful mengingatkan insiden perusakan rumah warga di Koya Barat oleh kelompok JUT adalah kriminal murni. Karena itu, masyarakat Muslim dan Nasrani di Papua menanti proses hukum terhadap kasus tersebut.

“Jangan ada kecurigaan dan pandangan negatif yang mendukung gerakan intoleran, radikalisme dan semacamnya pada Islam di Papua. Kami cinta perdamaian,” kata Kiai Syaiful.

Menurut Kiai Syaiful, kelompok JUT bukan hanya menentang sesama muslim, tetapi juga negara dengan menyebut presiden sebagai thatghut.

“Kelompok JUT mengatakan Presiden itu thaghut, negara ini adalah negara setan dan semacamnya. Dalam ideologi kelompok JUT dan alirannya tidak menerima negara, sehingga mereka harus meninggalkan Papua,” katanya.

Pertemuan ormas Islam tersebut juga dihadiri oleh Ketua KAHMI Papua Muh Idrus, Sekum Bakomudin H Abdul H Jusuf, Ketua HMI Cabang Jayapura Hariyanto Rumagia, dan mantan Ketua DPP KNPI Rifai Darus, serta tokoh Papua Thaha Al Hamid.

Keesokan harinya, ratusan warga Papua dari berbagai golongan menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Gubernur Papua di Jalan Soasiu Dok II Kota Jayapura. Mereka meminta Jafar Umar Thalib (JUT) dan kelompoknya untuk keluar dari tanah Papua karena sudah menyebar kebencian lewat agama.

Pernyataan sikap FKUB Papua lebih difokuskan JUT dan kelompoknya telah mengganggu ketentraman di Papua, maka Pemerintah Pusat dan Papua harus bekerjasama untuk mengeluarkan JUT dari tanah Papua.

“Terima kasih kepada Polda Papua dan jajaran karena telah bergerak cepat memproses hukum JUT dan kelompoknya, pasca perusakan rumah di Koya Barat, Kota Jayapura,” kata Pendeta James Wambrauw, mewakili FKUB, Senin (4/3/2019).

Aspirasi warga kemudian diterima oleh Sekretaris Daerah Provinsi Papua, Hery Dosinaen yang berjanji akan mengawal kasus ini sehingga JUT dikeluarkan dari Papua. (jar)

 

  

News Feed