oleh

Polisi Buru Penyebar Video Plesetan Lagu Mars ABRI, Kalangan Intelektual Bela Robertus Robert

-Utama-187 views

Jakarta, Radar Pagi – Polisi masih menelusuri siapa yang pertama kali mengunggah, menyebar dan memviralkan video potongan video berisi rekaman aktivis dan Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robet, yang menyanyikan lagu Mars ABRI dengan lirik diplesetkan.  

“Belum ketemu. Masih kami tangani,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di gedung Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/3/2019).

Robet dijerat Pasal 207 KUHP tentang penghinaan kepada penguasa atau badan hukum di Indonesia. Dia ditangkap di rumahnya pada Kamis (7/3/2019) dini hari. Setelah ditangkap,  Robet dibawa ke Mabes Polri dan ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi atas dugaan menghina TNI.

Nyanyian Robet dilantunkan di depan Istana Negara pada acara Kamisan, 28 Februari 2019 silam. Orasi tersebut direkam oleh seseorang dan videonya kemudian disebar.

Robet menyanyikan lagu Mars ABRI yang dipelesetkan, liriknya dirubah jadi seperti ini:

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tidak berguna
Bubarkan saja
Diganti Menwa
Kalau perlu diganti pramuka

Robet sendiri sudah meminta maaf dan setelah menjalani pemeriksaan yang bersangkutan dilepaskan. Namun polisi menegaskan proses penyidikan tetap terus berjalan. 

“Tentunya proses penyidikan yang dilakukan oleh Direktorat Siber Bareskrim tetap berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku,” ujar Dedi Prasetyo. 

Dia mengatakan polisi akan memanggil kembali Robertus jika keterangannya diperlukan, terutama terkait penyelesaian berkas perkara. 

Kasus Robet mendapat banyak sorotan. Kalangan netizen anti pemerintah memanfaatkan isu SARA dalam kasus ini karena dilihat dari wajahnya, Robertus merupakan WNI keturunan Tionghoa.

Mereka menyebut keberanian Robert menyanyikan lagu plesetan itu karena didukung oleh ribuan tentara merah RRC yang sudah menyusup masuk ke tanah air dengan berkedok sebagai TKA untuk membantu memenangkan Jokowi-Maruf Amin dalam Pilpres mendatang.

Meski hoax semacam itu tidak masuk akal, namun banyak netizen yang percaya. Sementara netizen lainnya tentu tidak mempercayai isu semacam itu, apalagi disebut-sebut RRC khawatir Jokowi kalah karena kalau Jokowi kalah maka RRC akan bangkrut.

Sebagai raksasa ekonomi dunia, tentunya untuk saat ini sangat mustahil bila perekonomian negara Tirai Bambu itu tergantung pada Indonesia. Ditambah lagi, latar belakang Robet menyanyikan lagu tersebut saat orasi di depan Istana Negara justru karena sedang mengkritik rencana pemerintahan Jokowi menempatkan TNI pada kementerian-kementerian sipil, bukan malah sedang mendukung Jokowi untuk menang Pilpres.

Sejumlah tokoh politik juga mengkritik kepolisian dan bahkan meminta agar penyidikan terhadap Robertus dihentikan.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang mengenal Robertus Robert sejak kuliah di Universitas Indonesia (UI) menganggap penangkapan tersebut adalah sebuah tragedi yang melukai kebebasan berpendapat dan berekpresi.

“Saya kenal Robert sejak kuliah di UI, lawan debat yang berat, dan berbeda dalam banyak hal,” kata Fahri Hamzah di Jakarta, Kamis (7/3/2019).

Fahri menilai orasi dan nyanyian Robert hanya untuk mengingatkan bahaya dari dwifungsi ABRI.

“Dia hanya mengingatkan kita soal bahaya #DwiFungsiABRI , masa lalu kita yang kelam…” tulis Fahri Hamzah.

Sementara Koalisi Masyarakat Sipil Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri atas gabungan akademisi, peneliti, dosen, dan mahasiswa menuntut polisi untuk menghentikan penyidikan terhadap Robertus Robet. Sebab, tak ada niat sedikit pun dari aktivis HAM itu menghina institusi TNI. 

“Meminta agar kepolisian segera membebaskan Robertus Robet dan menghentikan proses penyelidikan,” ujar ahli hukum tata negara Bivitri Susanti dalam konferensi pers yang mewakili Koalisi Masyarakat Sipil di LBH Jakarta, Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (7/3/2019). 

Yati, salah satu tim Advokasi Kebebasan Berekspresi mengatakan, penangkapan Robertus Robet tidak memiliki dasar dan mencederai negara hukum serta demokrasi.

Dia menjelaskan, aksi Kamisan menyoroti rencana pemerintah menempatkan TNI pada kementerian-kementerian sipil. Rencana ini bertentangan dengan fungsi TNI sebagai penjaga pertahanan negara.

Yati memastikan Robertus Robet tidak sedikitpun menghina institusi TNI.

Malah, dalam refleksinya Robertus Robet sangat mencintai TNI dalam artian mendorong TNI yang profesional.

“Baginya, menempatkan TNI di kementerian sipil artinya menempatkan TNI di luar fungsi pertahanan yang akan mengganggu profesionalitas TNI seperti telah ditunjukkan di Orde Baru,” ujar Yati.

Sejumlah intelektual di antaranya Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir, dosen Monasy University dan Direktur Eksekutif Charta Politika menunjukkan simpati yang dalam kepada Robet atas kasus ini.

Sementara PDIP menilai penangkapan Robertus berlebihan. Sedangkan PSI meminta aparat kepolisian segera membebaskan dosen UNJ itu dari segala tuduhan. 

“Menolak penangkapan saudara Robertus Robet dan meminta aparat kepolisian untuk segera membebaskannya dari segala tuduhan pidana,” ujar juru bicara PSI, Surya Tjandra.

Video Dipotong

Menurut Robertus Robet dalam klarifikasinya sebagaimana dilansir Kompas TV, rekaman video tersebut telah dipotong sehingga menyudutkan dirinya.

Pertama, lagu di dalam orasi tersebut bukanlah lagu saya, juga bukan saya yang membuat, melainkan sebuah lagu yang populer saat gerakan mahasiswa di tahun 1998.

Kedua, asal-usul lagu tersebut sebenarnya juga sudah saya jelaskan di dalam pengantar saya di orasi tersebut namun sayangnya tidak ada di dalam rekaman video tersebut.

Ketiga, lagu itu dimaksudkan sebagai kritik saya terhadap ABRI di masa lampau bukan terhadap TNI di masa kini.

Sekali lagi saya ulangi lagu itu dimaksudkan sebagai kritik saya terhadap ABRI di masa lampau bukan terhadap TNI di masa kini.

Apalagi dimaksudkan untuk menghina profesi dan organisasi institusi TNI.

Meski banyak pihak membela Robet, namun hal sebaliknya diperlihatkan oleh Wakil Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid (HNW). Dia membandingkan penangkapan Robertus Robet. Hidayat dengan kasus hukum yang dihadapi Ahmad Dhani.

“Ahmad Dhani hanya bicara tentang penista agama, malah langsung dibui. Yang menyanyikan ini memang langsung menohok TNI gitu,” kata Hidayat di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (7/3/2019).

HNW lantas berbicara soal penegakan hukum yang adil.
“Ya ini kan negara hukum, silakan dilakukan mekanisme hukuman secara adil, transparan di mana letak salahnya dan silakan lakukan pembelaan diri,” katanya.

Namun Polri menegaskan, proses hukum kepada Robet sudah dilakukan berdasarkan fakta hukum yang telah dianalisa secara komprehensif. Adapun alasan dilepaskannya Robet karena UU ITE tidak bisa dikenakan kepadanya, mengingat bukan dia yang memviralkan video tersebut.

“Ya itu sedang didalami. Makanya UU ITE tidak diterapkan kepada yang bersangkutan karena yang bersangkutan tidak memviralkan. Yang memviralkan orang lain,” ujar Brigjen Dedi Prasetyo.

Sementara Ahmad Dhani diketahui dirinya sendirilah yang merekam dan menyebarkan video, sehingga bisa dijerat dengan UU ITE. (rian)

News Feed