oleh

ISIS Keok, Bagaimana Nasib Ratusan WNI yang Gabung dengan ISIS?

-Utama-411 views

Jakarta, Radar Pagi – ISIS, kelompok kriminal bersenjata nan sadis yang dalam kegiatannya menjual nama Islam untuk menarik simpati umat muslim sudah dinyatakan keok. Bagaimana nasib ratusan WNI yang selama ini bergabung dengan mereka?

Dari penelusuran wartawan diketahui hampir semua WNI di sana dalam kondisi kalang kabut ingin kembali ke Indonesia.

Menurut data dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), ada sekitar 8.500 milisi ISIS yang terkonsentrasi di Baghouz, sebuah desa di tepi Sungai Eufrat yang menjadi basis terakhir kekuatan ISIS di Suriah. 

Dari 8000-an orang dari Eropa, Asia, termasuk dari Indonesia itu hampir sepertiganya telah tewas dan sisanya dipenjara. Sementara puluhan ribu anggota keluarga mereka, mayoritas perempuan dan anak-anak, mendekam di kamp-kamp pengungsian di Suriah. 

Salah seorang warga Indonesia, Maryam, mengaku berasal dari Bandung, Jawa Barat. Bersama empat anaknya, Maryam ditemui di Al-Hol pada pekan pertama bulan Maret oleh Afshin Ismaeli, seorang wartawan lepas.

“Saya dengan empat anak dan keluar dari Baghuz…kami ingin pulang ke negara asal kami, ke Indonesia,” kata Maryam dalam rekaman video yang dibuat Afsin.

“Suami saya hilang tidak ada kabar,” ujar Mariam kepada Afshin.

Putri tertua Maryam bernama Nabila. Ketika diwawancarai, Nabila mengaku ayahnya bernama Saifuddin. 

“Ayah saya bernama Saifuddin,” kata Nabila.

Afshin mengatakan kondisi kamp itu sangat, sangat buruk dan memprihatinkan. Tidak cukup untuk menampung ribuan orang, tidak ada bantuan. Terkadang ada pihak-pihak yang membagi makanan tapi tak cukup untuk semua pengungsi.

Warga Indonesia yang ditemui Afshin baru keluar dari Baghuz, namun ia mengatakan banyak pengungsi yang telah bertahun-tahun di kamp itu.

Menurut International Centre for the Study of Radicalisation (ICSR) yang berbasis di London, dalam riset bertajuk From Daesh to ‘Diaspora’: Tracing the Women and Minors of Islamic State (Juli 2018), ada ratusan perempuan dan anak-anak asal Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah.

Studi ICSR, yang mengumpulkan data dari pemerintah, media, lembaga pemikiran dan nirlaba sejak kejayaan hingga kejatuhan ISIS, mengungkapkan dari total 700-an sampai 800-an WNI simpatisan ISIS di Suriah, sekitar 113 orang adalah perempuan dan 100 orang adalah anak-anak. Dari angka itu, sekitar 54 perempuan dan 60 anak terdeteksi telah kembali ke Indonesia. Total yang kembali pulang ke Indonesia antara 183 hingga 300 orang.

Berbahayakah mereka bagi persatuan dan kesatuan NKRI? Apakah mereka dapat menjadi ancaman bagi kehidupan toleransi beragama di negeri ini?

“Perempuan dan anak-anak memiliki peran signifikan dalam penyebaran ideologi ISIS,” tulis laporan ICSR.

Pengamat politik dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Asia (PKPEA) Budi Hartono menilai, para simpatisan ISIS tidak seharusnya diterima kembali untuk pulang ke Indonesia.

“Jangan kita bicara soal kemanusiaan. Jumlah mereka puluhan sampai ratusan. Kalau mereka pulang dan menyebarkan ideologinya di tanah air, maka jumlah mereka bisa berkembang jadi jutaan karena mereka mahir sekali memprovokasi orang untuk mempercayai ideologi yang mereka anut,” kata Hartono saat dihubungi melalui selular, Kamis (28/3/2019).

Menurut Hartono, justru menjadi sangat tidak manusiawi bila pemerintah mengorbankan keselamatan jutaan WNI yang ada di dalam negeri, hanya demi menyelamatkan para simpatisan ISIS yang terbukti lebih mencintai negara lain.

“Sekarang mereka teriak-teriak mengaku sebagai WNI, kemarin-kemarin kemana aja? Sudah tahu dirinya WNI kenapa berperang demi negara lain?” tanya Hartono.

“Sekarang mereka berteriak menuntut pemerintah membantu kepulangan mereka, lha kemarin mereka menyebut pemerintah sebagai thagut? Kok minta bantuan sama thagut?” sambung Hartono.

Dia menilai alasan simpatisan ISIS berperang di jalan Allah dengan membela kaum muslim adalah omong kosong terbesar abad ini, terutama karena fakta ISIS sebenarnya tak lebih dari gerombolan perampok ladang minyak yang selalu berbuat sadis, salah satunya menjadikan perempuan tawanan sebagai budak seks, serta gampang sekali melakukan pembunuhan.

“Kalau mau perang membela sesama muslim, ngapain jauh-jauh keluar negeri? Di Indonesia juga bisa kok, perang melawan kemiskinan, melawan kebodohan, atau melawan korupsi. Membela agama kan tidak harus dengan saling bunuh-bunuhan, sampai kepala orang yang tidak bersalah pun harus dipotong. Punya agama tuh kalau begitu sikapnya?” katanya.

Dia mengkritik sikap sebagian umat muslim yang gemar membusungkan dada merasa bangga bila sudah menyebut dirinya membela agama atau membela umat muslim yang jauh berada di belahan negara lain. Padahal, kata Hartono, tetangga dekat rumah sedang susah pun mereka belum tentu peduli.

“Banyak orang jumawa dengan sebutan membela agama, membela saudara seiman, lucunya tetangga sebelah rumah sedang kesusahan pun belum tentu mereka mau menolong, padahal jelas-jelas tetangganya itu juga muslim. Kalau mau menolong sesama muslim, mulai saja dari menolong tetangga dulu,” kata Hartono.

Dia mengimbau pemerintah RI untuk tegas menolak kembalinya para simpatisan ISIS itu dari luar negeri. Apalagi negara-negara lain, seperti Inggris dan Amerika, juga melakukan hal serupa.

“Para simpatisan ISIS itu sejatinya bukan lagi WNI. Mereka sudah melepas kewarganegaraan ketika bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS,” tegas Hartono. (gun)

 

News Feed