oleh

Bowo Sempat Berhasil Lolos Saat Akan Ditangkap KPK di Apartemen

-Hukum-92 views

Jakarta, Radar Pagi – Ternyata ada kisah lain di balik operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan terhadap anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso. Selain ditemukan uang Rp 8 miliar tersimpan dalam 400 ribu amplop yang diduga akan dibagi-bagikan untuk ‘serangan fajar’ di Pemilu 2019, ternyata politisi Partai Golkar ini juga sempat lolos dari sergapan KPK.  

Menurut KPK, saat penyidik KPK berupaya menangkap Bowo apartemen di kawasan Permata Hijau ternyata terkendala prosedur yang sangat banyak. Akibatnya kehadiran petugas KPK yang sedang memenuhi prosedur untuk masuk ke dalam apartemen terendus oleh Bowo.

Ketika penyidik KPK berhasil masuk ke apartemen, ternyata Bowo sudah kabur, dan KPK hanya berhasil menangkap sopir Bowo.  

“Untuk masuk ke apartemen itu kan harus punya prosedur yang banyak, sehingga makan waktu yang cukup lama. Waktu itu dimanfaatkan kepada yang bersangkutan untuk keluar dari apartemen,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (28/3/2019) malam kemarin.

Beruntung bagi KPK, masa pelarian Bowo ternyata tidak lama. Tim KPK mengendus keberadaan Bowo di rumahnya pada pukul 02.00 WIB dini hari.

“Kemudian bisa ditemukan yang bersangkutan di rumahnya,” ujar Basaria.

Bowo diduga menerima suap terkait upaya membantu PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) sebagai penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk. Awalnya PT HTK memiliki kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk urusan distribusi pupuk, tapi kemudian perjanjian dihentikan. Di sinilah peran Bowo diperlukan untuk membantu PT HTK mendapatkan kembali order sebagai penyedia kapal.

“BSP diduga meminta fee kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD 2 per metrik ton,” ujar Basaria.

Total dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Bowo berjumlah Rp 1,6 miliar dari PT HTK. Selain itu, KPK juga melacak bahwa Bowo juga pernah menerima beberapa kali suap dari berbagai pihak lain (bukan PT HTK) untuk keperluan lainnya dengan total nilai Rp 6,5 miliar

Namun dari kasus suap kapal distribusi pupuk dan suap-sup lainnya ini, ternyata KPK menemukan kisah lain. Ternyata Bowo bukan cuma biasa menerima suap, tapi juga terbiasa memberi suap. Saat menggeledah kantor Bowo PT Inersia, di Jalan Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, KPK menemukan uang Rp 8 miliar dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu yang telah dikemas di dalam 400 ribu amplop. Saking banyaknya amplop-amplop tersebut, KPK sampai menggunakan 3 minibus untuk mengangkutnya.

KPK menduga uang tersebut akan digunakan Bowo untuk ‘serangan fajar’ dalam Pemilu 2019, mengingat yang bersangkutan kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPR Dapil Jawa Tengah II.

“Diduga (Bowo) telah mengumpulkan uang dari sejumlah penerimaan-penerimaan terkait jabatan yang dipersiapkan untuk ‘serangan fajar’ pada Pemilu 2019,” ujar Basaria Pandjaitan.

Menurut data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diunduh dari situs KPK, Bowo terakhir melaporkan harta kekayaannya pada 2017. Kekayaannya didominasi oleh harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan dengan nilai Rp 10,43 miliar.

Bowo memiliki dua rumah di kawasan Jakarta Selatan dengan luas masing-masing 318 meter persegi dan 708 meter persegi. Apabila kedua rumah itu dijumlah, ditaksir memiliki harga Rp 8,5 miliar. Selain itu, Bowo juga memiliki satu rumah di Semarang dengan luas 275 meter persegi dengan harga perkiraan Rp 2 miliar.

Bowo juga memiliki dua mobil mewah. Mobil pertama adalah Toyota Vellfire keluaran 2010 seharga Rp 350 juta dan Toyota Prado keluaran 2011 seharga Rp 400 juta. 

Dia juga memiliki harta berupa kas dan setara kas lainnya dengan jumlah Rp 766 juta. Bila dijumlah, maka total harta kekayaan Bowo Sidik adalah Rp 12,016 miliar. Namun jumlah itu harus dikurangi dengan utang Rp 1,587 miliar. Sehingga total harta yang dimiliki Bowo adalah Rp 10,43 miliar.

Saat ini, selain Bowo Sidik, KPK telah menetapkan dua tersangka lainnya yakni, anak buah Bowo dari PT Inersia, Indung yang diduga juga sebagai pihak penerima suap. Sedangkan satu tersangka lainnya adalah Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti, yang diduga sebagai pihak pemberi suap. (jar)

News Feed