oleh

Dikatain ‘Kafir’ Jadi Penyebab Emak-emak O1 dan Emak-emak 02 Ribut di Taman Suropati

-Nasional-88 views

Jakarta, Radar Pagi – Penyebab keributan antara emak-emak pendukung pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, ternyata berawal dari teriakan ‘kafir’ yang dilontarkan emak-emak dari salah satu kubu.

Keributan antara emak-emak ini direkam dalam video berdurasi 1.28 menit yang langsung menjadi viral di media sosial.

Dalam video tersebut terlihat seorang perempuan setengah baya dari rombongan pendukung Jokowi-Ma’ruf mendatangi perempuan lain yang lagi asyik mengacungkan salam dua jari khas pendukung Prabowo-Sandi.

Emak-emak pendukung Jokowi-Ma’ruf itu lalu berkata, “Lu bilang gua kafir?”

Didamprat seperti itu, si emak pendukung Prabowo tidak kelihatan takut, justru langsung mendorong lawannya. Si emak pendukung Jokowi pun tak mau kalah, dia balik menarik kerudung lawannya.

Beruntung perkelahian keduanya tidak berlangsung lama karena dipisahkan oleh rekan-rekan mereka. Emak-emak pendukung Prabowo lalu terlihat mengalah dan memilih untuk pergi dari sana.

Dalam rekaman video yang tidak jelas disebutkan kapan tanggal kejadiannya itu, kemudian terdengar beberapa suara yang menyayangkan tuduhan bahwa semua pendukung Jokowi-Ma’ruf pastilah kafir.

“Bu, kafir itu kalau nggak punya agama,” teriak seorang pria.

“Ibu, jangan suka bilang orang kafir. Semua orang bisa marah,” ujar lainnya.

Di media sosial, terutama facebook, memang semakin ramai dikesankan dalam berbagai postingan bernada provokasi bahwa pendukung Jokowi-Ma’ruf pasti berasal dari golongan kafir dan etnis Cina. Sementara pendukung Prabowo-Sandiaga pasti berasal dari kaum muslim dan pribumi.

Tudingan tersebut tentu patut disayangkan. Apalagi mengingat fakta bahwa banyak juga non muslim dan etnis tionghoa yang justru mendukung Prabowo. Sebaliknya, sebagian besar pendukung Jokowi-Ma’ruf kenyataannya beragama Islam.

Ironisnya lagi, meski dikesankan didukung oleh kaum muslim dan pribumi, Prabowo sendiri sebenarnya berasal dari keluarga nasrani dan memiliki darah tionghoa dari garis keturunan ibunya.

Salah seorang adik kandung Prabowo, Hasjim Djojohadikusumo, bahkan dikenal sebagai salah satu tokoh gereja. Hal ini yang membuat banyak orang Kristen dan tionghoa justru menjatuhkan pilihan pada Prabowo.

“Penggunaan kata ‘kafir’ secara sembarangan itu dipakai untuk mendiskreditkan sesama muslim yang berbeda pandangan politik. Tentunya tidak bisa dibenarkan,” ujar Budi Hartono, peneliti dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Asia, Jumat (29/3/2019).

Hartono menduga kata tersebut sengaja digunakan untuk menimbulkan rasa malu di tengah masyarakat. Mereka akan takut dan malu dituduh sebagai kafir bila memilih Jokowi.

“Dengan demikian diharapkan pilihannya akan jatuh kepada pasangan calon lainnya,” ujar Hartono.

Penggunaan kata ‘kafir’ yang diulang-ulang dan disebarluaskan ke tengah masyarakat ini, dinilai Hartono mirip dengan yang dilakukan mesin propaganda Nazi pada masa menjelang dan selama Perang Dunia ke-2 dulu. Bedanya dulu Nazi menggunakan kata ‘Yahudi’, sementara sekarang di Indonesia digunakan kata ‘kafir’.

“Tentunya saya tidak menuduh tim sukses Prabowo, karena pelaku yang menyebarkan dogma bahwa pemilih Jokowi pastilah kafir ini bisa saja cuma berasal dari kalangan simpatisan, atau bahkan pihak-pihak lain yang ingin mengadu domba,” katanya.

Dia juga menilai facebook harus ikut bertanggungjawab atas perpecahan yang terjadi di tengah masyarakat akibat berbagai postingan yang diunggah lewat media sosial tersebut.

“Sering kan kita beri laporan ke facebook tentang postingan bernada SARA yang sangat melecehkan satu agama atau etnis tertentu. Tapi  apa tanggapan facebook? Mereka cuma bilang, ‘postingan yang anda laporkan tidak melanggar standar komunitas kami’. Ini kan ngawur karena lepas tangan begitu saja,” katanya.

Lucunya, sambung Hartono, facebook banyak memblokir postingan akun-akun yang hanya berjualan produk. Akun-akun tersebut, kata Hartono, hanya berniat mempromosikan produknya di berbagai grup, tapi malah dianggap sebagai spam.

“Ujung-ujungnya setelah diblokir, si pemosting malah ditawari oleh facebook untuk mempromosikan postingannya dengan harga tertentu. Jadi facebook ini ujung-ujungnya cuma mikirin duit. Postingan barang dagangan yang berpotensi dijadikan pemasukan iklan diawasi sangat ketat oleh mereka. Sementara postingan adu domba yang nggak ada nilai duitnya, dianggap angin lalu, padahal bahayanya sangat besar bagi persatuan dan kesatuan negara ini,” tandasnya. (zal)

News Feed