oleh

Gara-gara Pilpres Idris Tembak Mati Subaidi, Sekarang Divonis Seumur Hidup

-Nasional-102 views

Sampang, Radar Pagi – PN Sampang, Madura, Jawa Timur, mengabulkan tuntutan seumur hidup yang diajukan jaksa terhadap Idris Afandi alias Andika bin Misnadin. Idris dinyatakan terbukti menembak Subaidi hingga tewas. Ironisnya, pembunuhan ini dipicu masalah pilpres.

“Menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dan tanpa hak memiliki senjata api dan amunisi, menjatuhkan hukuman seumur hidup,” kata ketua majelis hakim Budi Setyawan didampingi hakim I Gde Perwata dan Afrizal, Selasa (3/4/2019) kemarin.

Kini Idiris pun harus menghabiskan sisa usianya meringkuk dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Nasib malang yang menimpa Idris sebagai pelaku penembakan dan Subaidi selaku korban tewas bermula dari beredarnya foto di akun Facebook. Foto itu bergambar Habib Bahar sedang memegang samurai. Dalam postingan tersebut terdapat keterangan: “Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini?”

Unggahan itu kemudian dikomentari oleh akun Idris Afandi. Dia menulis, “Saya pengin merasakan tajamnya pedang Habib Bahar tersebut.”

Pada hari Minggu, 28 Oktober 2018 sekitar pukul 16.00 WIB, seorang pria bernama Bahrud yang mengaku dari Front Pembela Islam (FPI) datang ke rumah Idris Afandi. Bahrud hendak mengklarifikasi mengenai komentar akun milik Idris di laman Facebook yang membuat status berkaitan dengan capres.

Namun Idris menjelaskan bukan dia yang berkomentar seperti itu.  Dia beralasan ponselnya telah dijual dan saat ponsel itu diserahkan kepada pembeli, dia lupa ‘log out’ atau keluar dari Facebook. Masalah pun selesai.

Namun keesokan harinya, pada Senin 29 Oktober 2018, Idris diberitahu kakak iparnya bahwa ada video viral mengenai dirinya beredar di dunia maya. Dalam video itu terekam momen saat Idris sedang diklarifikasi mengenai komentarnya.

Namun yang membuat Idris sakit hati, dalam video yang diposting di akun Ahmad Alfateh dibumbui kata-kata bernada mengancam dan mempermalukan Idris.

“Ini dia orang yang mau melawan Habib Bahar, ketakutan sampai kencing di celana saat didatangi FPI. Saya tahu siapa kamu Idris dan kapan saja saya ketemu, akan saya bunuh kamu. Cuma jadi LSM tai kamu itu jangan sok jago,” tulis keterangan dalam postingan video itu.

Idris pun mencari tahu siapa pemilik akun Ahmad Alfateh tersebut, ternyata akun tersebut dimiliki oleh Subaidi. Kali ini gentian Idris yang ingin meminta klarifikasi karena dia merasa bukan dia yang menantang Habib Bahar.

“Pelaku sakit hati karena korban mengunggah video tersangka di Facebook dan mengancam akan membunuh tersangka,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera, Minggu (25/11/2018) silam.

Rumah Subaidi kemudian didatangi, tapi Subaidi yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang gigi palsu itu sedang tak ada di rumah.

Sampai akhirnya tibalah hari naas itu. Pada 21 November 2018, Idris tak sengaja bertemu Subaidi ketika sama-sama berkendara dengan sepeda motor. Subaidi langsung menabrak motor Idris. Idris terjatuh sedang Subaidi tetap berdiri. Subaidi kemudian menarik pisau dan menyabetkannya ke Idris.

Merasa terdesak, Idris mengambil senjata api rakitan yang dia simpan di kantong celana dan langsung menembakkannya ke dada Subaidi. Masa kontrak Subaidi di dunia pun berakhir.

Meski Idris sebenarnya diserang duluan oleh Subaidi, tetapi dia tetap bersalah. Pasalnya, saat kejadian dia membawa-bawa senjata api sehingga terindikasi melakukan pembunuhan berencana, bukan membela diri.

Polres Sampang kemudian menetapkan Idris dengan pasal pembunuhan berencana dan kepemilikan senjata api ilegal dengan ancaman hukuman mati atau selama-lamanya penjara 20 tahun.

Kekerasan yang terjadi di level terbawah pendukung capres ini tak lain merupakan dampak dari apa yang terjadi di kalangan elite politik masing-masing yang kerap mempertontonkan gaya agresif untuk menyerang lawannya.

Ibarat guru kencing berdiri, murid kencing berlari, pendukung level terbawah mudah sekali meniru gaya berpolitik para politikus di tingkat atas.

Kini yang tersisa cuma penyesalan. Hanya gara-gara Pilpres, seseorang menjadi pembunuh, lainnya terbunuh. Padahal siapapun presiden negeri ini nantinya, nasib rakyat tidak akan banyak berubah, kecuali bila masing-masing individu mau bekerja keras dan pandai mencari kesempatan.

Sebab bila sehari-harinya hanya ongkang-angking kaki sambil menunggu tersedianya lapangan pekerjaan yang dibuka oleh pemerintah, wah bahkan Tuhan pun tidak mau merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri. (tirto/dtc/jar)

 

 

News Feed