oleh

Saf Salat Campur di Kampanye Prabowo, MUI: Boleh! NU: Haram!

-Utama-595 views

Jakarta, Radar Pagi – Ada salat dengan saf yang campur antara jemaah laki-laki dan perempuan saat kampanye akbar Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Gelora Bung Karno (GBK) pada Minggu (7/4/2019) kemarin. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai salat para jemaah di kampanye akbar Prabowo-Sandiaga di GBK tetaplah sah, meski saf laki-laki dan perempuan bercampur.

Menurut Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni’am Soleh, dalam salat berjemaah makmum tidak boleh berada di depan imam. Jika itu terjadi maka salat tidak sah. Islam pun telah mengatur dan membimbing posisi makmum laki-laki dan perempuan saat salat berjemaah.

“Jika jamaah yang jadi makmum ada laki-laki dan ada perempuan, maka secara berurutan laki-laki di depan, perempuan di belakang,” kata Ni’am melalui pesan singkat, Senin (8/4/2019).

Namun jika kondisi membuat makmum perempuan berada di depan makmum laki-laki atau berada di sampingnya, maka menurut Ni’am salat tersebut tetaplah sah.

“Tapi jika terjadi sebaliknya, makmum perempuan di depan makmum laki-laki, atau berada di sampingnya, salatnya tetap sah, sepanjang syarat rukunnya terpenuhi. Karena urutan saf antar makmum laki-laki dan perempuan tidak termasuk syarat sah salat. Hanya saja, tidak dianjurkan, dan sedapat mungkin mengikuti contoh dan petunjuk yang diajarkan,” jelas Ni’am.

Demikian halnya jika kondisi ramai jemaah seperti yang terjadi saat kampanye akbar Prabowo-Sandi di GBK, di mana panitia tidak memungkinkan untuk membagi dan mengatur saf untuk jemaah laki-laki dan perempuan.

“Tidak batal (salatnya), hanya saja khilaful aula. Sepanjang tidak dikhawatirkan terjadi fitnah,” ungkap Ni’am.

Saf Salat Campur, NU: Haram!

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan di mana pun lokasi salat safnya tidak boleh bercampur laki-laki dan perempuan.

“Dimana-mana orang salat itu nggak boleh campur (laki-laki dan perempuan) safnya, nggak boleh, haram,” kata Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi saat dihubungi wartawan, Minggu (7/4/2019).

Ia mengatakan ibadah salat merupakan sarana umat Islam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, tak boleh melanggar apa yang menjadi larangan Allah SWT, salah satunya berkumpul dengan lawan jenis saat melaksanakan salat

“Karena tujuan salat itukan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tujuan mendekatkan diri maka harus dihindari hal-hal yang menyebabkan kita terlibat dalam hukum yang justru menjauhkan diri kita kepada Allah SWT. Apa yang menjauhkan? Ya hal-hal yang tidak bolehnya, wong kita ini mau mendekatkan diri kepada Allah dalam melakukan kewajiban itukan hal yang harus dihindari adalah larangannya. Larangannya tidak boleh berkumpul laki-laki dan perempuan,” ujar dia.

Ia pun menggarisbawahi salat dengan posisi saf tercampur itu dipebolehkan asal dalam ‘kondisi darurat’ saat melaksanakan hal yang wajib. Ia kemudian mencontohkan kondisi darurat saat melaksanakan kewajiban yakni pada saat di Padang Arafah dan lempar jumrah ketika melakukan ibadah haji.

“Ketika itu prosesi wajib tapi ini kan kampanye, itu wajib nggak datang? Karean itu kan nggak wajib terus kalau doa salat bercampur laki-laki dan perempuan lalu gimana hukumnya kan gitu. Kalau menurut kami nggak boleh jadi itu salatnya harus diatur sedemikian rupa dari awal, karena itu akan lama dan mengharuskan kondisi di mana harus melakukan salat wajib jadi harus diatur saf nya,” ucap Masduki. (nvl/imk/ibh/dtc/red)

News Feed