oleh

Bambang Diponegoro : Banyak Pihak Halalkan Segala Cara untuk Berkuasa

-Utama-165 views

Jakarta, Radar Pagi – Budayawan Drs. Bambang Diponegoro menilai perpolitikan Indonesia saat ini dalam kondisi menyedihkan, karena terlalu banyak pihak terperangkap pada pemahaman menghalalkan segala cara untuk berkuasa.

”Fenomena sikap dan tindakan para politisi seperti ini membuat kita hafal sejumlah kata sifat, yaitu fitnah, intrik, dan hoax,” kata Bambang Diponegoro, di Jakarta, Minggu (21/4/2019).

Menurut Bambang yang juga dikenal sebagai pakar Pembinaan dan Pendalaman Karakter dan Mental ini, jika kata sifat berupa fitnah, intrik, dan hoax yang kini memenuhi kepala masyarakat itu diumpamakan sebagai asap, maka ucapan dan tindakan para elite politik bersama timnya adalah sumber apinya.

Seperti halnya yang terjadi saat ini, sambung Bambang, hasil hitung cepat (quick count) telah keluar di sejumlah lembaga survei dan menimbulkan kegaduhan.

“Jika Jokowi hanya bersyukur atas QC (quick count), Prabowo justru menentang, begitu juga sebaliknya, Ini suatu sikap normatif para calon dalam merespons hasil pemilihan yang diharapkan tidak membakar emosi pendukung,” ujarnya.

Agar Suasana tidak gaduh, Bambang mengimbau para pendukung dari kedua kubu capres untuk tidak mengklaim hasil pilpres sebelum pengumuman resmi yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Untuk menghindari potensi ketegangan baru antar pendukung, semua pihak tidak melakukan klaim-klaim dan perayaan berlebihan. Semua pihak tetap menunggu proses penghitungan manual yang dilakukan KPU,” katanya.

Dia pun meminta agar KPU mempercepat penghitungan suara Pilpres 2019 guna menghindari pertentangan saling mengklaim menang yang terjadi di antara dua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Bambang pun menyayangkan kegaduhan yang terjadi sebelum, selama dan sesudah pemilu, sebab peristiwa politik seperti pilpres dan pileg seharusnya disadari sebagai sebuah peristiwa budaya. Di situ ada sistem nilai yang dipraktikkan. Di situ ada sistem sosial yang bekerja.

“Dari situlah akan dilahirkan karya berupa tatanan negara dan tatanan masyarakat adil dan makmur, dan dari situ pula akan dilahirkan pemimpin sebagai pemikul amanah pendiri negeri ini. Dari situ kita makin membentuk jiwa nasional kita secara utuh dan tiga dimensi,” katanya.

Bambang menegaskan bahwa pemilu adalah peristiwa politik yang memperjuangkan kemaslahatan orang banyak, sebagai berkah dari Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kemerdekaan kepada bangsa ini, bukannya malah melahirkan pertikaian, permusuhan dan kerusakan.

“Begitulah menurut saya bahwa peristiwa pemilu seharusnya menjadi sebuah peristiwa kebudayaan yang besar yang bisa membentuk karakter dan kejiwaan kita,” katanya.

Bambang berpendapat ada banyak cara untuk merawat dan menjaga integrasi nasional di Indonesia, antara lain dengan mempertahankan kesatuan Indonesia.

“Meski masyarakat Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda, tetapi semua memiliki kewajiban untuk bersatu sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tandasnya. (jar)

 

News Feed