oleh

Mantan TNI yang Culik 7 Bocah Kendari Juga Cabuli Korbannya

-Hukum-738 views

Kendari, Radar Pagi – Tujuh anak di bawah umur berusia antara 10-12 tahun di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), hilang sejak Kamis (25/4/2019) malam hingga Senin (29/4/2019). Pelakunya Adrianus Pattian, anggota TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) 725 Woroagi. Pelaku kini sudah dipecat.

Selain karena memalukan nama baik TNI, Andrianus sudah setahun desersi. Apalagi di masa lalu dia juga pernah melakukan kejahatan yang sama  terhadap anak di bawah umur, sehingga pernah dihukum berat oleh komandannya.

“Terhitung sejak Senin (dipecat), sudah inkrah diputuskan satu tahun sudah desersi dengan tambahan pemecatan,” ujar Kepala Staf Korem 143 Halu Oleo Kendari, Letkol Inf Arif Susanto, Selasa (30/4/2019).

Ibarat jeruk makan jeruk, pelaku tidak pandang bulu dalam memilih sasarannya. Salah satu bocah yang diculik ternyata anak rekan sesama TNI.

“Salah satunya, ada anak dari anggota kami. Sehingga, intelijen kami dan Polri sudah melakukan kerja sama untuk menangkap pelaku,” ujar Letkol Arif Susanto.

Menurut keterangan yang didapat wartawan, pelaku kelahiran 21 Januari 1994, berasal dari Desa Romean Kecamatan Yaru Kabupaten Maluku Tenggara. Dia masuk TNI pada tahun 2015 dan langsung bertugas di Yonif 725 Woroagi. Pangkat terakhirnya Prajurit Dua (Prada).

TNI dan tim Buru Sergap (Buser)77 Satreskrim Polres Kendari kemudian bekerjasama memburu pelaku sampai hutan Nanga-Naga di pinggiran Kota Kendari hingga akhirnya berhasil ditangkap saat bersembunyi di kolong rumah warga di Jalan Jati Raya, dan langsung dibawa ke Kantor POM XIV/3 Kendari.

Meskipun telah dipecat, namun Adrianus akan menjalani proses hukum di POM. Pasalnya, Adrianus melakukan pelanggaran desersi pada tahun 2018, sehingga pelaku akan dihukum terlebih dahulu untuk kasus desersinya itu sesuai hukum kemiliteran, baru kemudian untuk kasus lainnya.

Namun kabar terakhir menyebutkan bila Adrianus Pattian, pelaku penculikan dan pemerkosaan anak di Kota Kendari, sudah diterbangkan ke Makassar.

Kapenrem Korem 143 Halu Oleo, Mayor ARM Sumarsono mengatakan jika pelaku diterbangkan ke Makassar atas perintah langsung dari panglima.

“Perintah langsung dari Panglima melalui Dandem 143 HO hari ini juga untuk dibawa ke Makassar biar diproses cepat,” katanya, Rabu (1/5/2019).

Dikatakannya, ancaman hukuman yang akan didapatkan oleh pelaku maksimal seumur hidup.

Berawal dari Laporan Orangtua

Perburuan terhadap pelaku berawal dari laporan adanya dua anak di bawah umur hilang pada Kamis, di wilayah Kelurahan Kemaraya, Kota Kendari. Beberapa jam setelah itu, keduanya ditemukan di depan Kompleks Kantor Museum Sulawesi Tenggara pada malam hari.

Laporan kehilangan kedua, terjadi pada Jumat (26/4/2019). Awalnya, satu anak dilaporkan hilang dari rumahnya, kemudian menyusul satu laporan lagi soal hilangnya anak secara misterius. Keduanya ditemukan beberapa jam setelahnya.

Laporan ketiga, terjadi pada Minggu (28/4/2019). Satu anak hilang dan beberapa jam kemudian ditemukan warga dan orang tuanya. Laporan keempat, terjadi pada Senin (29/4/2019) sekitar pukul 15.30 Wita, seorang anak perempuan dijemput dari sekolah oleh seseorang yang mengaku pamannya.

Selain menculik, pelaku diduga mencabuli korbannya karena pada celana korban ditemukan bercak darah.

Dandim 1417 Kendari, Letkol Cpn Fajar Lutfi Haris Wijaya, dalam keterangannya, Rabu (1/5/2019) menegaskan akan menghukum berat mantan anggotanya itu.

“Iya, pelaku akan kami hukum seberat-beratnya karena aksi biadabnya,” kata Letkol Cpn Fajar Lutfi Haris Wijaya.

Sementara itu, ratusan warga memadati kantor POM XIV/3 yang terletak di Baypass Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Mereka meminta agar Adrianus Pattian diperlihatkan kepada warga. Warga ingin menghakimi pelaku karena geram atas perbuatannya. Beruntung anggota TNI berhasil meredam aksi massa.

Pelaku Sebenarnya Berprestasi

Sebelum nyeleneh nyambi jadi penculik anak dan ditetapkan sebagai DPO pada 13 September 2018 oleh kesatuannya karena desersi, pelaku sebenarnya merupakan anggota TNI yang berprestasi. Pada tahun  2017, pelaku pernah mencatatkan diri sebagai juara Cross Country (lomba lari lintas alam) yang diikuti seluruh perwakilan anggota TNI terbaik se-Indonesia.

Di angkatannya, pelaku memang dikenal memiliki fisik yang kuat dan mampu bertahan lebih lama pada sejumlah latihan fisik.

Bahkan Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP Diki Kurniawan mengakui lari pelaku terhitung sangat cepat. Sebab saat dalam pengejaran, pelaku sempat terjatuh bersama seorang bocah yang diculiknya dari atas motor.

Namun pelaku mampu kabur dengan berlari kencang sambil menggendong korban. Barulah ketika mobil polisi berhasil menyusulnya, pelaku menjatuhkan korban tersebut dan lari masuk ke dalam hutan.

“Pelaku kemudian bangkit dengan cepat karena di belakangnya ada mobil anggota kami. Hanya berjarak beberapa meter, pelaku langsung bangkit, dan lari masuk hutan,” katanya.  (maria)

 

 

 

 

News Feed