oleh

Gara-gara ‘Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator’, Hendropriyono Dipolisikan

-Utama-659 views

Jakarta, Radar Pagi – PA 212 berencana melaporkan Hendropriyono ke polisi atas tuduhan ujaran kebencian terkait pernyataan ‘Keturunan Arab jangan jadi provokator’.

“InsyaAllah saya dan keturunan Arab yang lain akan melaporkan Hendropriyono yang telah melakukan ujaran kebencian membuat provokator bernuansa sara,” kata Novel Bamukmin kepada wartawan, beberapa saat lalu.

Namun, Novel tak menjelaskan kapan pelaporan itu akan dilakukan. Dia mengaku masih berkoordinasi dengan pengacara.

“Hari ini kita dari korlabi masih kordinasikan dengan advokat muslim alumni 212 yang lain dan insyaAllah akan kita laporkan ke Mabes Polri,” katanya.

Sementara Ketua PA 212 Slamet Ma’arif menilai pernyataan itu menunjukkan bahwa Hendropriyono seorang yang rasis. Slamet juga menilai Hendropriyono tak paham sejarah.

“Bukti dia rasis dan nggak ngerti sejarah,” kata Slamet.

Sedangkan  Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai pernyataan Hendropriyono itu disebut BPN bisa memunculkan permasalahan baru.

“Menggunakan istilah keturunan Arab kurang tepat. Kita ini sebagai bangsa terdiri dari berbagai etnis, banyak suku, banyak budaya banyak bangsa jadi jangan mengeneralisir satu kelompok itu saya kira tidak bijaksana. Baiknya para elite apalagi penjabat jangan menggunakan istilah satu etnik, satu suku tertentu, ini malah memunculkan masalah, kegaduhan baru, keramaian baru, konflik baru nanti justru itu,” kata Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Ahmad Riza Patria saat dihubungi, Rabu (8/5/2019).

Riza menilai penyataan Hendropriyono itu bisa saja menyakiti kelompok tertentu. Karena itu, menurut dia, dalam situasi yang seperti saat ini alangkah baiknya para elite mengeluarkan penyataan-pernyataan yang menyejukan.

“Sekarang ini mari sesama elite harus menyejukan yang santun yang bijaksana kalau menyebut suatu kelompok, suatu keturunan sebagai provokator itu kan nanti keluarga besarnya, keturunannya marah muncul kegaduhan baru yang harusnya tidak perlu. Kita semua marilah kita harus hati-hati, harus bijaksana,” sebutnya.

Pendapat berbeda dilontarkan pengamat dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Asia (PKPEA) Barata. Menurut Barata, PA 212 harus berkaca pada ujaran-ujaran yang sebelumnya pernah dilontarkan, terkait pernyataan ‘Asing’ dan ‘Aseng’.

“Mereka sendiri kan juga getol meneriakkan slogan anti asing dan aseng, ya sudahlah sama-sama kan. Kenapa senang mencubit sih kalau nggak suka dicubit?” sindir Barata di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Menurut Barata, mereka bisa saja berkilah bahwa Aseng yang dimaksud adalah RRC atau Tiongkok dan bukan WNI keturunan Cina, tapi tetap saja imbasnya akan mengena pada keturunan Cina yang ada di Indonesia.

“Masyarakat kita kan begitu, apapun yang menyangkut Tiongkok pasti dikaitkan dengan ke-Cinaan. Apa mereka sadar mereka juga sudah rasis?” tanya Barata.

Menurut Barata, kalau mau fair, mulai sekarang istilah ‘Aseng’ juga harus ditiadakan. “Itu baru gentle dan fair namanya,” katanya. (maria)

News Feed