oleh

Soal ‘Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator’, Prabowo dan Fadli Zon: Rasis!

-Utama-465 views

Jakarta, Radar Pagi – Prabowo Subianto menilai pernyataan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono yang mengingatkan agar WNI keturunan arab tidak menjadi provokator di Indonesia sebagai pernyataan yang bersifat rasis.

“Kami melihat pernyataan tersebut bersifat rasis dan berpotensi untuk mengadu domba dan memecah belah anak bangsa,” ujar Prabowo di kediamannya, Jl. Kertanegara No. 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2019).

Prabowo juga melihat ada nada ancaman dalam pernyataan Hendropriyono tersebut.  “Ini lebih memprihatinkan karena juga ada nada ancaman dan dilakukan oleh seseorang yang dekat dengan lingkaran kekuasaan,” ujarnya.

Sementara Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai pernyataan eks Kepala BIN AM Hendropriyono memiliki bibit rasialisme.

“Jangan hanya karena perbedaan pendapat kemudian menyudutkan, bahkan cenderung rasialis. Rasialisme, saya kira, kita tahu sangat berbahaya,” kata Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Fadli juga tidak terima jika Hendropriyono membawa-bawa Habib Rizieq dalam pernyataannya soal keturunan Arab. Sebab, menurut dia, Habib Rizieq dihormati para tokoh nasional.

Sebelumnya, Hendropriyono mengingatkan sejumlah WNI keturunan Arab, terutama Habib Rizieq dan Yusuf Martak agar tidak menjadi provokator yang mengompori masyarakat untuk turun ke jalan membuat revolusi.

“Saya peringatkan Rizieq, Yusuf Martak, dan orang-orang yang meneriakkan revolusi kan sudah banyak. Itu inkonstitusional, merusak disiplin dan tata tertib sosial, jangan seperti itu,” kata Hendropriyono kepada wartawan, Selasa (7/5/2019) kemarin.

Hendropriyono sendiri sudah menegaskan bahwa dirinya tidak bersikap rasis karena dia sendiri merupakan keturunan Arab. Dia mengaku hanya mengingatkan keturunan Arab yang ada di Indonesia untuk menghormati konstitusi.

“Jangan malah memprovokasi revolusi, memprovokasi untuk turun melakukan gerakan politik jalanan. itu inkonstitusional,” katanya.

Terkait rencana PA 212 yang ingin melaporkan dirinya ke polisi atas tuduhan ujaran kebencian, Hendropriyono mengingatkan PA 212 bila tidak mau ditegur oleh orangtua, maka nanti Tuhan yang akan memberi teguran.

“Saya kan sudah tua sudah 74 tahun, (kalau) tidak mau diperingatkan oleh orang tua, ya mudah-mudahan nanti diperingatkan oleh Tuhan,” kata Hendropriyono kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Hapus ‘Asing’ dan ‘Aseng’, Baru Adil

Sebelumnya, pengamat dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Asia (PKPEA) Barata. Juga mengatakan bila PA 212 dan kelompok-kelompok sejenis lainnya seharusnya berkaca pada ujaran-ujaran yang sebelumnya pernah dilontarkan, terkait pernyataan ‘Asing’ dan ‘Aseng’.

“Mereka sendiri kan juga getol meneriakkan slogan anti asing dan aseng, ya sudahlah sama-sama kan. Kenapa senang mencubit sih kalau nggak suka dicubit?” sindir Barata di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Menurut Barata, mereka bisa saja berkilah bahwa Aseng yang dimaksud adalah RRC atau Tiongkok dan bukan WNI keturunan Cina, tapi tetap saja imbasnya akan mengena pada keturunan Cina yang ada di Indonesia.

“Masyarakat kita kan begitu, apapun yang menyangkut Tiongkok pasti dikaitkan dengan ke-Cinaan. Apa mereka sadar mereka juga sudah rasis?” tanya Barata.

Menurut Barata, kalau mau fair, mulai sekarang istilah ‘Aseng’ juga harus ditiadakan. “Itu baru gentle dan fair namanya,” katanya. (maria)

 

 

News Feed