oleh

Usai Rusuh dan Bakar-bakaran, Tanah Abang Belum Kondusif, Polisi Tangkap 20 Provokator

-Utama-659 views

Jakarta, Radar Pagi – Aksi demo di depan kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019) dini hari berbuntut kerusuhan. Mobil-mobil yang diparkir di depan Asrama Brimob Petamburan, Jakarta Pusat, dibakar orang tidak dikenal (OTK). Meski kerusuhan sudah terkendali, namun suasana ternyata belum kondusif benar. Terbukti, Rabu pagi ini, Stasiun KA Tanah Abang dilempari batu oleh pendemo.

Akibat lemparan batu itu, penumpang memilih bertahan di dalam stasiun. Mereka menumpuk di Pintu Keluar Utara. Akibat kericuhan itu, transportasi tidak ada yang melewati jalur tersebut, termasuk tukang ojek.

Saat berita ini diturunkan, belum terlihat penanganan dari aparat guna menghalau aksi pelemparan batu tersebut.

Namun sampai pagi ini, lebih dari 20 orang terduga provokator dan pelanggaran hukum ditangkap aparat kepolisian terkait demo di depan gedung Bawaslu kemarin malam hingga dini hari tadi. Mereka diamankan di Mapolres Jakarta Pusat untuk diproses hukum lebih lanjut.

“Kami sudah mengamankan lebih dari 20 orang yang diduga pelaku provokator dan melakukan tindak pidana lainnya. Ditahan di Polrestro Pusat untuk dimintai keterangan,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi wartawan, Rabu (22/5/2019).

Berdasarkan proses identifikasi, kata Dedi, para provokator adalah warga dari luar Jakarta.

“Oleh karenanya, masyarakat tidak boleh terprovokasi. Polri sudah mengidentifikasi bahwa pelaku provokator pertama itu warga dari luar Jakarta,” kata Dedi.

Belum diketahui alasan mengapa para pendemo melempari Stasiun KA Tanah Abang. Namun bila merunut pada ‘ilmu klasik’ cara menciptakan chaos (suasana kacau tak terkendali), maka hal itu sejatinya merupakan upaya awal untuk memancing kerusuhan yang lebih besar.

“Tampaknya ada pihak yang ingin agar kerusuhan Mei 98 kembali terulang. Sama persis. Bedanya, dulu yang jatuh adalah Soeharto, sekarang diharapkan Jokowi yang terjungkal,” ujar Barata dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Asia (PKPEA) melalui selular, Rabu (22/5/2019).

Namun Barata meyakini kerusuhan skala besar tidak akan terjadi karena TNI/Polri sudah melakukan sejumlah antisipasi berdasarkan informasi intelijen yang mereka terima.

“Yang penting asal tidak ‘kecolongan’ saja. Umpamanya sampai ada pendemo yang tewas, entah karena aksi dari aparat Polri atau TNI, atau tewas karena pihak-pihak lain yang ingin memancing di air keruh,” katanya.

Menurut Barata, tipikal sebagian masyarakat Indonesia yang cenderung berpikiran pendek sehingga mudah termakan hasutan dan hoax, tidak akan mampu memproses apa dan bagaimana sebuah peristiwa terjadi.

“Mereka hanya berpikir berdasarkan apa yang mereka dengar atau lihat. Tidak mampu menganalisa apa yang mereka dengar dan lihat itu dengan lebih mendalam. Semua hal dilihat abu-abu tanpa menyadari bahwa warna abu-abu itu bisa tercipta dari berbagai spectrum warna,” katanya.

Dengan demikian, kata Barata, bila sampai ada pendemo yang tewas, maka pemerintahlah yang pasti akan disalahkan dan hal itu akan memicu antipasti masyarakat yang berujung pada kerusuhan besar.

“Persis seperti yang terjadi tahun 1998 dulu usai beberapa mahasiswa Trisakti mati tertembak,” katanya.

Msyarakat memang perlu mewaspadai hoax yang disebarkan pihak tidak bertanggungjawab. Seperti yang marak beredar di hari Selasa ini lewat grup-grup whatsapp adalah video seseorang menunjukkan 5 butir peluru yang disebutnya berasal dari peluru aparat.

Menurut orang tersebt, polisi telah menembaki seseorang bernama Ustad Mancung dari Sawangan. Juga beredar video orang tergeletak dengan leher berlumuran warna merah seperti darah.

Menanggapi beredarnya video tersebut, Dedi mengimbau masyarakat tidak terpancing, sebab polisi telah mewaspadai kemungkinan  adanya pihak ketiga yang memanfaatkan situasi untuk mencelakai orang lain. Karena itu, sejak jauh-jauh hari sudah diumumkan bahwa aparat keamanan dalam pengamanan unjuk rasa tidak dibekali oleh peluru tajam dan senjata api.

“Aparat keamanan dalam pengamanan unjuk rasa tidak dibekali oleh peluru tajam dan senjata api. Kita sudah sampaikan jauh-jauh hari bahwa akan ada pihak ketiga yang akan memanfaatkan situasi unjuk rasa tersebut,” ucap Dedi. (gunawan/maria)

 

 

News Feed