oleh

Anies Bawesdan Bantah Dirinya Simpati Pada Perusuh Aksi 22 Mei

-Utama-71 views

Jakarta, Radar Pagi – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membantah anggapan dirinya lebih bersimpati kepada para perusuh di Aksi 22 Mei dibanding ke aparat Polri dan TNI, bahkan kepada rakyat kecil seperti PKL yang dagangannya habis dijarah perusuh. Dia menyebut perusuh tidak punya ruang di Jakarta.

“Perusuh-perusuh itu tidak punya ruang di sini. Saya beberapa kali mengatakan, bahwa Jakarta adalah rumah bagi orang berkegiatan baik-baik, termasuk bernegara,” ujar Anies Baswedan di Aeon Mall, Jakarta Timur, Sabtu (25/5/2019).

Dia menyebut pihak yang melakukan kerusuhan akan berhadapan dengan dirinya dan aparat.

“Kalau anda datang ke sini melakukan kerusuhan, maka anda akan berhadapan dengan saya, akan berhadapan dengan Pemprov, berhadapan dengan kepolisian dengan TNI,” tegas Anies.

Meski mengaku memusuhi perusuh, tetapi banyak pihak menganggap Anies sedang memainkan sikap ‘lain di bibir lain di hati’.

Anies memang tidak pernah berbicara soal korban yang jatuh dari pihak aparat, baik Polri maupun TNI, dalam kerusuhan Aksi 21-22 Mei, meski sejumlah aparat terluka akibat massa brutal Aksi 21-22 Mei. Beberapa motor milik polisi dan warga dibakar para perusuh.

Dia juga tak menyinggung mengenai masyarakat yang menjadi korban akibat kerusuhan tersebut. Padahal ada beberapa pedagang yang dagangannya dijarah dan warungnya dibakar.

Selain itu juga, pedagang Pasar Tanah Abang terpaksa tak bisa menjajakan barang jualannya lantaran pasar ditutup beberapa hari buntut dari kericuhan Aksi 21-22 Mei.

Anies malah melayat perusuh yang meninggal dunia akibat bentrokan. Jelas-jelas perusuh dia jenguk, meski dalam keadaan meninggal dunia.

Anies hanya menyoroti soal isu yang ramai dibicarakan di media sosial untuk memecah belah Polri, TNI, dan Pemprov DKI.

Anies juga merupakan pihak yang pertama kali merilis jumlah korban tewas dari pihak perusuh pada aksi demo 21-22 Mei lalu. Padahal Polri sendiri terkesan masih menutupi data tersebut, kemungkinan demi menghindari provokasi lewat media sosial.

Beruntung pemerintah bertindak tegas dengan memblokir sementara akses masyarakat ke media sosial, sehingga provokasi mengenai korban tewas tidak terlalu menyebar.

Sikap-sikap Anies lainnya terkait aksi demo tersebut juga banyak disoroti. TKN Jokowi-Ma’ruf Amin memberikan sindirian.

“Semua orang juga tahu kok keberpihakannya. Lihat saja narasi-narasinya terkait kerusuhan 22 Mei, yang disebut cuma korban dari pihak perusuh. Polisi yang jadi korban dan masyarakat yang jadi korban nggak ada yang dia sebut, apalagi diapresiasi!” kata Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Irma Suryani Chaniago.

Politikus NasDem itu menyoroti bagaimana Anies tidak menaruh simpati kepada aparat TNI/Polri yang bertugas mengamankan aksi demo yang berujung ricuh. Irma juga mengkritik Anies karena tak memberi apresiasi kepada masyarakat yang menjadi korban akibat aksi 21-22 Mei, seperti pedagang yang warungnya dibakar dan barang jualannya dijarah.

“Polisi yang jadi korban dan masyarakat yang jadi korban nggak ada yang dia sebut, apalagi diapresiasi!” sebutnya.

Anies sendiri mengatakan, sebagai kepala daerah, ia bertugas menenangkan massa agar tidak semakin emosional melihat adanya korban. Anies lalu membandingkan kerusuhan 1998 dengan yang terjadi kemarin. Dia mengatakan sebelumnya pemerintah tidak datang menjenguk korban. Kemarin Anies menyatakan rasa peduli dengan mendatangi korban.

“Justru saya harus ke sana, harus menenangkan, dan itu pesan yang saya sampaikan di sana. Bahwa supaya tenang, tidak ada satu pun yang mengharapkan kejadian seperti itu. Bandingkan dengan tahun 1998, ada tidak negara yang datang ke tempat yang meninggal, menyebar kemudian,” kata Anies.

“Saya justru datangi untuk menyampaikan bahwa negara hadir, negara bukan tidak peduli, negara peduli. Karena siapa pun warga negara yang mengalami apa pun, kita punya tanggung jawab yang sama,” imbuhnya.

Tapi kenapa hadirnya cuma ke tetangga sebelah Pak Gubernur? (elz/fdn/dtc/igo)

News Feed