oleh

Habib Abdul Qodir Al Hadad Ditetapkan Sebagai Dalang Pembakaran Polsek Sampang

-Hukum-114 views

Surabaya, Radar Pagi – Polisi menahan enam pelaku pembakaran Mapolsek Tambelangan, Sampang, Madura, Jawa Timur, termasuk dalang utama dalam kasus ini merupakan oknum habib bernama Habib Abdul Qodir Al Hadad.

“Hasil penangkapan ada beberapa pengembangan. Dari rumah tersangka kami juga mendapatkan alat-alat komunikasi, dari salah satu tersangka dari inisial AK (Abdul Kodir atau Abdul Qodir). Ini oknum habib,” kata Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan saat rilis di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Senin (27/5/2019).

Selain itu, Luki mengatakan oknum Habib Abdul Qodir ini yang merencanakan pembakaran. Tersangka yang merencanakan membuat bom molotov, membuat sumbu, membawa massa sebanyak dua pick up atau 70-an orang hingga memberi komando pada massa untuk melempari mapolsek dengan bom molotov dan batu.

Habib Abdul Qodir ini juga ikut melempari mobil dinas di Mapolsek Tambelangan. Dia juga menyuruh massa untuk membeli bensin sebanyak dua liter yang digunakan dalam pembakaran.

Selain itu, Luki mengatakan pelaku lain yang memiliki tugas masing-masing. Misalnya saja pelaku bernama Hasan yang bertugas menghalangi mobil pemadam kebakaran yang datang untuk memadamkan api. Sementara pelaku bernama Hadi, Supandi dan Ali ikut dalam melempari Mapolsek Tambelangan dengan batu.

Sementara itu, lima dari enam tersangka ini akan dijerat pasal berlapis, namun untuk sementara dijerat Pasal 170 KUHP tentang perusakan. Sedang satu orang pelaku masih didalami terkait apa tugasnya.

Mapolsek Tambelangan, Sampang, Madura sebelumnya dibakar sejumlah massa. Pembakaran terjadi, Rabu (22/5/2019) silam, sekitar pukul 22.00 WIB. Pembakaran berawal dari adanya sekelompok massa yang datang secara tiba-tiba ke Mapolsek Tambelangan.

Massa selanjutnya melempari mapolsek dengan menggunakan batu. Polisi berupaya memberikan pengertian dan melarang mereka berbuat anarkis, namun tidak diindahkan. Dalam hitungan menit, jumlah massa semakin banyak dan semakin beringas, hingga akhirnya terjadi pembakaran dengan melempar bom molotov.

Aksi anarkistis tersebut dipicu beredarnya video hoaks di media sosial. Ada salah satu ulama dikabarkan ditahan polisi saat mengikuti aksi 22 Mei di Jakarta.

Usai melakukan pembakaran, para pelaku disebut menyebar dan bersembunyi di pesantren-pesantren di Sampang. “Setelah aksi pembakaran, para pelaku menyebar dan bersembunyi di pesantren-pesantren,” kata Irjen Luki Hermawan. (hil/bdh/dtc/dbs/igo)

News Feed