oleh

Ada Parlemen Rusia Ikut dalam Rombongan Prabowo ke Dubai

-Utama-99 views

Jakarta, Radar Pagi – Dalam rombongan Prabowo Subianto ke Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa (28/5/2019), ternyata ada Sekretariat Parlemen Rusia. Bernama Mikhail Davydov, dan Amzhelika Butaeva.

Selain Davydov dan Butaeva, ikut pula dalam rombongan Prabowo warga Amerika Serikat bernama Justin Darrel Flores Howarddan Mischa Gemermann asal Jerman.

Sejumlah nama lain yang ikut dalam penerbangan menggunakan jet pribadi  Ambraer 190/Lineage 1000 Noreg: 9HNYC itu antara lain asisten pribadi Prabowo Tedy Arman, Yuriko Fransiska Karundeng, dan Gibrael Habel Karapang.

Diketahui Kedua warga Rusia yang ikut terbang bersama Prabowo sebelumnya juga pernah diundang oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon untuk menyaksikan langsung proses pemilu serentak di Tanah Air. Undangan kepada Davydov dan Butaeva diinisiasi DPR RI dan baru pertama kali dilakukan.  Negara lain yang juga diundang di antaranya parlemen Turki, Malaysia, dan Pakistan, serta beberapa perwakilan organisasi Islam internasional.

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria membenarkan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto pergi ke  untuk bertemu kolega sekaligus cek up kesehatan rutin. “Betul ke Dubai Selasa pagi. Ada urusan bertemu kolega bisnis dan cek up kesehatan,” kata Riza Patria di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Menurut dia, Prabowo melakukan cek kesehatan bukan karena sedang sakit,  melainkan cek rutin yang biasa dilakukan Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu. Periksa kesehatan rajin, bagus kok, kesehatan prima. Prabowo itu kan disiplin menjaga kesehatan, mantan tentara, hidupnya disiplin dan tertib,” ujarnya.

Untung Bukan Jokowi

Menurut peneliti dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Asia (PKPEA) Barata, beruntung bukan Jokowi yang pergi ke Dubai bersama anggota parlemen Rusia.

“Kalau sampai Jokowi yang pergi, pasti ramai isu PKI bangkit. Pasti digunjingkan bila pemerintah komunis Rusia sudah menyusup ke Indonesia,” sindir Barata melalui selular, Selasa (28/5/2019) malam.

Menurut Barata, politisi dan rakyat Indonesia umumnya memang bias atau penuh prasangka dalam memandang suatu persoalan karena kerap menggunakan standar ganda.

“Misalnya bila ada tokoh berfoto bersama anggota Partai Komunis Cina langsung dituduh PKI akan bankit, PKC akan menguasai Indonesia. Tapi lucunya bila tokoh lain yang berfoto dengan orang yang sama, tidak ada tuduhan seperti itu,” katanya.

Padahal, menurut Barata, bukan soal siapa yang berfoto bersama mereka, tapi persoalannya sebuah foto bisa berarti sejuta makna, tetapi bisa juga tidak berarti apa-apa.

“Kalau misalnya anda berfoto bersama seorang perampok, bisa saja diartikan anda perampok juga, tetapi bukan berarti anda rampok juga kan meski anda kenal dengan dia?” kata Barata.

Dengan demikian, kata Barata, Jokowi tidak serta merta bisa dituduh PKI hanya lantaran berfoto bersama anggota PKC. Pun tidak bisa RRC atau Tiongkok dituduh sudah menyusup dan menguasai negeri hanya gara-gara mereka banyak mengerjakan proyek infrastruktur di sini.

“Sekarang kalau cuma gara-gara ada orang Rusia ikut serta dalam rombongan Prabowo apa mau disebut Prabowo akan membangkitkan komunisme juga di Indonesia? Nggak kan? Atau apa mentang-mentang ada orang Amerika dan Jerman ikut dalam rombongan lalu Prabowo mau dituduh siap menjual negeri ini pada kapitalis?” tanyanya. (arman/igo)

 

News Feed