oleh

Rofik Asharuddin, Bomber Pos Polisi Kartasura Warga Desa Wirogunan Sukoharjo

-Utama-89 views

Kartasura, Radar Pagi – Rumah pelaku peledakan pos polisi Kartasura, Senin (3/6/2019) kemarin malam sekitar pukul 22.30 WIB, Rofik Asharuddin ternyata tak jauh dari lokasi TKP, yaitu di Kranggan, Desa Wirogunan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Di rumah tersebut, Rofik diketahui masih tinggal bersama orangtua.

Ketika polisi menggeledah rumah tersebut ditemukan barang yang diduga bahan peledak, antara lain serbuk belerang.

“Ada serbuk belerang, areng, serbuk putih sedikit, sama tempat untuk ngaduk,” kata Kades Wirogunan, Marjono, ketika ditemui di sekitar rumah Rofik, Selasa (4/6/2019). Marjono ikut menyaksikan penggeledahan di rumah tersebut.

Selain itu ditemukan juga saklar, kabel, baterai ponsel dan benda yang terbuat alumunium sebesar jari tangan. Menurutnya tidak ada senjata yang ditemukan di rumahnya. Lokasi masih disterilkan dari masyarakat umum.

“Rumahnya sekarang kosong, keluarganya sedang diperiksa polisi. Ini dijaga polisi,” ujar dia.

Polisi menyatakan Rofik Asharuddin beraksi sendiri atau lone wolf saat melakukan upaya bom bunuh diri di Pos Polisi Kartasura yang terletak di bundaran Tugu Kartasura Sukoharjo, Jawa Tengah. Polisi mengungkap alasan pelaku menyerang pos polisi Kartasura karena letaknya dekat dengan rumah.

“Ya, kebetulan pelakunya tidak terlalu jauh dari tempat tersebut kemudian,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Brigjen Dedi Prasetyo, Selasa (4/6/2019).

Selain itu, lanjut Dedi, kelompok teroris juga menjadikan polisi sebagai sasaran utama. Sebab polisi selama ini menindak jaringan teroris di Indonesia.

Namun alasan sesungguhnya adalah karena pelaku menganggap polisi sebagai thogut karena berusaha menghalangi aksi terorisme. “Polisi dianggap thogut karena sekian lama melakukan upaya penangkapan tindakan penegakan hukum terhadap jaringan teroris di Indonesia,” ujarnya.

Polisi belum bisa memastikan jaringan pelaku, apakah pelaku masuk dalam jaringan yang terorganisir atau hanya sel tidur dari ISIS. Saat ini hanya diketahui pelaku menjalankan aksinya seorang diri.

“Aksinya masih lone wolf (seorang diri). Cuma untuk jaringannya apakah dia masuk dalam jaringan terstruktur atau dia sleeping sel dari ISIS aja, itu masih kita dalami,” kata Dedi.

Dari keterangan saksi, diketahui seseorang berjalan menuju pos pengamanan Kartasura. Orang tersebut memakai kaus warna hitam dan celana jins. Tiba-tiba sekitar pukul 22.30 WIB, Senin (3/6/2019), terjadi ledakan.

Karena berdaya ledak rendah, pelaku mengalami luka parah dan dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Kartasura sekitar 1 jam setelah ledakan, kemudian dipindahkan ke RSUD dr Moewardi Solo. Saat berita ini diturunkan masih dalam kondisi kritis.

Pemuda yang ingin cepat masuk surga supaya bisa menyetubuhi 72 bidadari itu mengalami luka parah di sekitar tangan dan pinggangnya. Berdasarkan luka yang diderita pelaku ini, Polri menduga RA menggunakan bom pinggang saat beraksi.

“Dari olah TKP yang sudah dilakukan tim Inafis, Labfor, bahwa yang terjadi di depan pospam tersebut adalah low explosive. Didapat dari partikel-partikel dari hasil olah TKP yang ditemukan di pos pam tersebut, karena yang serbuk serbuk black powder dan lain sebagainya termasuk diidentifikasi di tubuh pelaku,” kata Dedi.

Dalam peristiwa ledakan di pos polisi Kartasura itu, tak ada petugas polisi yang terluka. (igo)

 

News Feed