oleh

Ingin Dianggap Pintar Jadi Motif Ahli IT Ini Sebar Hoax Server KPU Disetting Menangkan Jokowi

-Utama-599 views

Jakarta, Radar Pagi – Ahli IT Wahyu Nugroho (54) ditangkap karena menyebar berita bohong (hoax) bahwa server KPU di-setting di angka 57% untuk menangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Ternyata motivasinya supaya dianggap pintar oleh masyarakat dan bisa dipekerjakan menjadi anggota tim IT paslon capres kubu 02.

“(Motif) mendapat pengakuan kredibilitasnya, ingin memperoleh pengakuan oleh tim (paslon capres) 02 dan dijadikan bagian dari pemenangan,” ujar Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Kombes Rickynaldo, kemarin.

Hoax ala Wahyu ini sebelumnya sudah ribuan kali dibagikan ulang di dunia maya untuk menjadi pendukung teori kecurangan Jokowi. Bahkan para petinggi kubu 02 pun tertarik, apalagi Wahyu sudah berkoar akan  memaparkan temuannya.

Masalahnya paparan yang dijanjikan tak kunjung terjadi. Sebaliknya dosen di dua perguruan tinggi di Solo, Jawa Tengah yang bergelar Master Ilmu Komputer ini malah diciduk polisi.

“Direktorat Siber menangkap penyiar berita bohong atau hoax tentang bocornya server KPU dan di-setting di angka 57% untuk salah satu pasangan calon presiden,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2019) silam.

Sementara menurut Kombes Rickynaldo, Wahyu hadir di rumah mantan Bupati Serang Ahmad Taufik Nuriman dalam rangka rapat pemenangan salah satu paslon capres-cawapres pada Rabu (27/3/2019). Di sanalah Wahyu menyampaikan hoax tersebut yang langsung disambut ‘hangat’ oleh pendukung kubu 02 karena dilontarkan oleh seseorang yang memang memiliki latar belakang dunia IT.

“Di KPU, saya bulan Januari ke Singapore karena ada kebocoran data. Ini tak (tak dalam bahasa Jawa artinya saya) buka saja. 01 sudah membuat angka 57%,” kata Wahyu dalam video yang viral di media sosial.

Tapi sayang seribu sayang, belakangan Wahyu mengakui kalau pendapatnya tidak didukung bukti dan sebenarnya hanya berdasar informasi dari media sosial.

Wahyu pun meminta maaf atas perbuatannya. Permintaan maaf itu ditujukan kepada KPU dan pemerintah.

“Saya minta maaf ke KPU dan ke pemerintahan yang sekarang, maaf,” katanya.

Dia mengaku tidak kenal dengan dua tersangka buzzer yang terlebih dulu ditangkap. Sebelumnya, polisi memang sudah menciduk dua orang yang kerjanya menyebarkan berita bohong untuk menggiring opini masyarakat agar membenci pihak tertentu. Keduanya ditangkap di tempat terpisah, yakni Jakarta Timur dan Lampung pada awal April 2019.

Masih ada lagi seorang yang diperiksa terkait kasus ini. Dia adalah si perekam ucapan Wahyu saat sedang melakukan presentasi dalam rapat koordinasi pemenangan paslon capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di kediaman Ahmad Taufik Nuriman.

“Yang rekam masih didalami. Sudah diperiksa,” tutur Kombes Rickynaldo.

Wahyu ditangkap di Jalan Mangunrejan, RT 001/RW 001, Kelurahan Mojogeli, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada Selasa (11/6), pukul 21.45 WIB. Tapi dia sempat kabur sebelum ditangkap. Diketahui sejak KPU melaporkan adanya hoax tersebut ke Bareskrim, Wahyu langsung masuk dalam daftar buronan kepolisian. Namun dirinya berpindah-pindah tempat antara Jakarta dan Solo.

“Selama menjadi DPO, dia berputar-puta di Jakarta, lalu ke Solo,” ucap Kombes Rickynaldo.

Kini Wahyu dijerat pasal berlapis dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun.

Dia dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana; dan/atau Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Polisi juga menjerat WN dengan Pasal 310 KUHP dan/atau Pasal 311 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik dan/atau Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa, dalam kasus ini KPU.

“Dengan ancaman hukuman pidana penjara setinggi-tinggginya 10 tahun dengan denda paling banyak Rp 750 juta,” ujar Rickynaldo.(maria)

News Feed