oleh

UGM Ungkap Kematian Petugas KPPS di Yogyakarta, Ternyata Ini Penyebabnya

-Utama-668 views

Yogyakarta, Radar Pagi – Saat Pilpres dan Pileg 2019 kemarin, terdapat 12 petugas penyelenggara pemilu (KPPS) yang meninggal dunia di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dugaan kematian tidak wajar pun muncul sebagaimana terjadi di banyak daerah lain. Penelitian pun dilakukan dan hasilnya mengejutkan.

Kajian Lintas Disiplin Universitas Gajah Mada (UGM) merilis hasil riset independen selama satu bulan sejak 20 Mei 2019 terkait kematian yang dialami belasan petugas KPPS di DIY.

Kajian Lintas Disiplin UGM ini terdiri dari para ahli setingkat Doktor dan Profesor, seperti Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., PhD., Sp.OG(K) dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK).

Tim juga beranggotakan para ahli dari dua fakultas lainnya, yaitu Prof. Dr. Faturochman, M.A. dari Fakultas Psikologi, serta DR. Erwan Agus Purwanto, M.Si. dari Fakultas Ilmu Sosial Politik.

Riris Andono Ahmad, MPH, PhD dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM menjelaskan pihaknya melakukan otopsi verbal sebelum hasilnya dianalisis oleh para ahli.

“Otopsi verbal kami lakukan dan dianalisis oleh panel ahli yang beranggotakan tiga dokter spesialis forensik,” ujar Riris di Kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).

Dia menjelaskan, UGM melakukan otopsi kepada 10 dari 12 korban meninggal. Semula UGM ingin mengotopsi seluruh korban meninggal, namun keluarga dari 2 lainnya menolak.

Hasilnya, UGM menyimpulkan 10 petugas KPPS yang meninggal dipastikan karena alasan medis, dan jauh dari praduga kesimpangsiuran yang berkembang, seperti mati diracun dan sebagainya.

Ternyata 80 persen petugas KPPS meninggal dunia di DIY memang punya riwayat penyakit kardiovaskular, dan 90% dari mereka adalah perokok aktif.

“Jadi seluruh kematian terjadi secara natural, dan tidak ditemukan indikasi adanya kekerasan maupun kejadian tidak wajar,” ujar Riris.

UGM juga meyimpulkan kematian semua petugas KPPS adalah karena kelelahan akibat kelebihan jam kerja.

“Dari sample total 212 KPPS di DIY, baik yang sehat maupun sakit, 80% menilai tuntutan pekerjaan sebelum, saat, dan setelah tergolong tinggi. Mereka mengalami kelelahan, ditambah tak memiliki waktu istirahat cukup dan harus langsung melanjutkan aktivitas kerja formalnya di hari berikutnya,” kata dia.

“Kami juga berkesimpulan ada beban kerja terlalu tinggi dan riwayat penyakit KPPS sebelumnya, menjadi pemicu meningkatnya risiko kematian dan kesakitan,” sambungnya. (fitria)

 

News Feed