oleh

Merasa Terganggu Jadi Alasan Tukang Bubur Ini Bunuh Bocah 7 Tahun

-Hukum-646 views

Pemalang, Radar Pagi – Sungguh keji perbuatan Haryanto (23). Tukang bubur yang mengontrak rumah di Megamendung, Bogor, Jawa Barat ini tega menghabisi bocah perempuan berusia 7 tahun berinisial FAN, cuma gara-gara merasa terganggu dengan kehadiran si bocah usai berjualan.

“Dari keterangan sementara, pembunuhan ini dilakukan mengingat pelaku capek, baru jualan, dan diganggu korban,” kata Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP Suhadi, Rabu (3/7/2019).

Setelah membunuh, pelaku kabur ke kampungnya, Desa Gendong, Kecamatan Moga, Pemalang, Jawa Tengah. Namun Rabu (3/7/2019) kemarin, Haryanto menyerahkan diri ke Polres Pemalang.

Dari pengakuan kepada polisi, usai melakukan pembunuhan pelaku bingung dan sempat lari ke Surabaya dan berpindah-pindah ke beberapa kota lainnya.

“Pelaku bingung, dia akhirnya melarikan diri ke Surabaya, Semarang bahkan sempat ke Cirebon, sebelum akhirnya pulang ke Moga,” jelas jelas Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP Suhadi.

“Oleh pihak keluarga akhirnya disarankan untuk menyerahkan diri ke Polsek Moga. Diantar pihak keluarga pelaku menyerahkan diri ke Polsek,” lanjut Suhadi.

Suhadi mengatakan, dari pengakuan tersangka saat diperiksa di bagian Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Pemalang, tersangka mengaku ketakutan usai melakukannya. “Selalu terbayang-bayang wajah korban. Hingga akhirnya menyerahkan diri,” jelasnya.

Sempat diperiksa dan dibawa ke Polres Pemalang, selanjutnya pada Rabu malam tersangka sudah dijemput anggota Polsek Megamendung, Bogor. Dengan kondisi kedua tangan diborgol, pelaku dibawa dibawa ke Bogor dengan perjalanan darat.

“Sudah dijemput (polisi) dari Megamendung,” jelas AKP Suhadi, Kasatreskrim Polres Pemalang, Kamis (4/7/2019).

Pelaku Kenal Dekat dengan Korban

Korban pembunuhan merupakan cucu pemilik kos tempat pelaku tinggal di Megamendung. Bocah malang itu dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak 29 Juni lalu.

Di mata tetangga, Haryanto biasa dipanggil Yanto, merupakan sosok pendiam dan tidak pernah terlibat masalah. Tetangga korban, Aay bahkan menyebut Yanto punya hubungan yang dekat dengan korban dan keluarga Didin.

“Kalau di sini kan istilahnya memang tempat anak kecil kumpul. Si korban juga sering ada di sini, kadang dia (Yanto) juga suka ke sini ikut ngobrol sama korban. Kelihatannya sih baik-baik saja. Kalau bercanda sudah kaya saudara,” kata Aay ditemui di warung kelontongnya di Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.

“Ya, memang keluarga besar korban juga hubungannya baik, sudah anggap Yanto ini kaya saudara gitu,” sambungya.

Pagi hari sebelum korban dikabarkan hilang, Aay menyebut korban sempat meminta uang kepada Y.

“Iya katanya pagi sebelum dia (FAN) hilang, berarti hari Sabtu (29/6) ya, korban sempat minta uang gitu sambil pegang gerobak bubur, itu pas dia (pelaku) baru pulang dagang,” kata Aay.
“Habis itu ya gitu, dia hilang, tukang bubur juga nggak ada di kontrakannya,” sambungnya.

Kepada polisi, Yanto mengaku membunuh korban karena diganggu usai berjualan. Mungkin rengekan korban meminta uang ini yang menjadikan pelaku kesal hingga tega menghabisi nyawa korban.

Jasad korban sendiri ditemukan oleh kakek korban, H. Didin, pada Selasa (2/7/2019) malam. Sang kakek saat itu mencium bau busuk menyengat dari kontrakan yang dihuni pelaku.

Sang kakek bersama saksi kemudian mendobrak pintu kontrakan tersebut dan menelusuri sumber bau. Hingga akhirnya tiba di kamar mandi, ditemukan jasad korban yang terbungkus kain seprai meringkuk di dalam kamar mandi.

Temuan mayat korban ini membuat keluarga histeris. Ayah korban, Taufik, pun sampai tidak sadarkan diri setelah mengetahui putrinya yang dicari-carinya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Taufik begitu terpukul atas kematian putrinya yang tragis. Betapa tidak, Sabtu (29/6) itu menjadi hari terakhir dia melihat putrinya, sebelum berangkat kerja di sebuah hotel. Ia berpesan kepada sang anak untuk tidak pulang ke rumah dan menginap di rumah kakek.

“Saya sempat pamit sama anak saya pas mau kerja hari itu, sekitar jam 1 siang. Saya bilang, ‘Teteh (panggilan Taufik ke korban) nggak usah pulang, ya, Ayah mau kerja.’ Setelah itu, saya langsung kerja,” kata Taufik.

Salah satu anggota keluarga korban, Yeni Mariyani, berharap pelaku diberi hukuman yang setimpal atas kematian korban. Sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan bagaimana cara pelaku menghabisi nyawa korban.

Kini Haryanto harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bila tukang bubur lain naik haji, maka Yanto harus mendekam dalam jeruji besi. (igo/dtc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed