oleh

Wanita Hamil Asal Indonesia Tewas Digebukin di Kamp ISIS

-Utama-76 views

Damaskus, Radar Pagi – Wanita hamil berkewarganegaraan Indonesia ditemukan tewas dengan sejumlah luka memar di kamp pengungsi Al-Hol. Perempuan bernama Sudarmini itu diduga tewas digebukin sesama perempuan pejuang ISIS di kamp tersebut.

“Dia meninggal akibat (tindak) kekerasan,” tulis kantor berita Kurdi, Hawar News, yang berkantor di wilayah Kurdi, Al Hasaka, Suriah Utara, mengutip hasil pemeriksaan dokter forensik.

Sodarmini (koran lokal di sana menyebut Sudarmini sebagai Sodermini) berusia 30-an dan sedang hamil 6 bulan. Diketahui 3 anak Sudarmini juga berada di kamp tersebut. Identitas lainnya, ayah Sudarmini bernama Sardi dan ibunya bernama Nasia. Belum diketahui dari daerah mana Sudarmini berasal.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Yudha Nugraha, mengatakan masih melakukan verifikasi kewarganegaraan apakah benar yang bersangkutan warga negara Indonesia.

Motif dari pembunuhan ini masih belum jelas. Namun kasus kekerasan antara para perempuan pejuang ISIS sering terjadi di kamp Al-Hol, yang menampung 70 ribu keluarga pejuang asing ISIS. Padahal daya tampung kamp tersebut hanya 20 ribu orang.

Pejabat Kurdi, Mustafa Bali, menyatakan kepada BBC News Indonesia pada Maret lalu bahwa ada puluhan WNI berada di kamp itu.

Al-Hol terletak di Suriah barat laut dan berada di bawah administrasi Kurdi. Kamp ini menjadi “semacam bom waktu” karena sangat rawan kekerasan.

Bila anda membayangkan indahnya persaudaraan sesama muslim, betapa bahagianya bisa hidup hanya di antara sesama saudara seiman, dan bila anda mengkhayalkan betapa rukun dan harmonisnya hidup dalam kekhilafahan, maka anda salah besar.

Di kamp Al-Hol, anda akan langsung disiksa bila berani melepas cadar di muka umum, meski dengan alasan cuaca sangat panas. Siksaan juga akan anda terima bila kedapatan berbicara dengan lelaki, meski anda hanya sekadar sedang bertanya pada penjaga kamp atau tentara ISIS yang ada di sana.

“Bahlul ente, kenapa bicara bukan dengan muhrim?!” barangkali itulah ucapan terakhir yang anda dengar sebelum pukulan melayang ke wajah anda.

Pelaku penyiksaannya adalah saudara seiman anda sendiri, yaitu para pejuang wanita ISIS lainnya yang memegang teguh ajaran kekhilafahan ala ISIS. Kondisi ini jelas menyiksa banyak perempuan dan anak-anak di sana, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena kalah jumlah dibanding kelompok yang masih memegang teguh fanatisme mereka.

Penderitaan mereka semakin berlarut karena hampir 50 negara telah menolak menerima mereka kembali. Inggris yang paling tegas menolak kembalinya mereka. Sebab dikhawatirkan mereka akan membawa masuk ideologi ISIS dan kemampuan merakit bom ke tanah air masing-masing. Yah, memang tidak ada jaminan bila para perempuan itu benar-benar meninggalkan ideologi ‘jalan kekerasan’. Selain itu, dengan meninggalkan tanah air untuk bergabung dengan ISIS, sejatinya mereka tak lagi mencintai negaranya.

Seorang WNI bernama Maryam ditemui di Al-Hol pada pekan pertama bulan Maret oleh Afshin Ismaeli, seorang wartawan lepas. Bersama empat anaknya, dia sangat ingin pulang ke Indonesia.

“Kami ingin pulang ke negara asal kami, ke Indonesia,” kata Maryam dalam rekaman video yang dibuat Afsin.

Maryam yang semula menggebu ingin hidup dalam negara khilafah mengaku sangat menyesal meninggalkan Indonesia. Dalam benaknya pasti terbayang kebahagiaan hidup semasa di Indonesia, meski di Indonesia dimana-mana dia selalu melihat umat Kristen, Budha, Hindu dll.

Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan awal Juli lalu bahwa pemerintah belum mengambil keputusan apakah akan merepatriasi mereka.

“Bukan sekadar memulangkan orang ini. Masalah ideologinya kan sudah keras, dan lain sebagainya, bagaimana kita bisa mereduksi ideologi itu, bagaimana treatmentnya, itu harus kita pikirkan dengan baik,” kata Suhardi dalam diskusi ‘Para Pengejar Mimpi ISIS: Layakkah mereka kembali?’

Benteng Pertahanan Terakhir ISIS

ISIS menjadikan kamp Al-Hol sebagai benteng pertahanan terakhir, dan para perempuan dan anak-anak di sana dijadikan tameng hidup. Terkadang, pejuang ISIS sengaja memarkir kendaraan tempur di sela-sela kamp untuk memancing serangan udara pasukan sekutu.

Percuma anda mengemis kepada mereka untuk memindahkan peralatan militer itu karena tidak bakal ada yang menghiraukan. Bila ketahuan bicara dengan tentara lelaki pun, anda akan disiksa oleh sesama pengungsi wanita.

Dan nanti bila pasukan sekutu benar menjatuhkan bom di kendaraan tersebut, tentunya para penghuni kamp pasti ada yang menjadi korban. Jatuhnya korban ini justru akan dipakai oleh ISIS sebagai senjata untuk mendoktrin para pengungsi bahwa pasukan sekutu adalah iblis kejam yang harus dilawan.

“Dalam satu hari, setidaknya 2.000 orang tewas,” ujar seorang bocah laki-laki asal Irak yang selamat dari berbagai serangan. “ISIS memarkirkan kendaraan di antara tenda-tenda keluarga. Kami tahu bahwa kendaraan menjadi sasaran serangan, maka kami bilang kepada mereka untuk memindahkan kendaraan-kendaraan itu. Tapi mereka tidak melakukannya, dan semua kendaraan itu meledak.”

Nour adalah korban lainnya dari kekacauan itu. Ia terbaring di tempat tidur di klinik Red Crescent di kamp tersebut. Bocah berusia enam tahun itu tertembak di bagian wajah.

Hal itu terjadi 15 hari sebelumnya, dan sejak itu ia baru menerima pengobatan ringan. Pipinya membengkak dan giginya rontok. Rasa sakit tampaknya menjadi hal yang sudah biasa ia alami, karena ia hanya menjerit saat tubuhnya dipindahkan.

Rentetan tembakan penembak jitu yang menembus tendanya di Baghouz. Ia tengah bersembunyi bersama keluarganya, bagian dari pasukan garis keras yang bertahan dengan ISIS hingga akhir.

Ratusan anak telah telah tewas di kamp tersebut. Mereka adalah korban dari fanatisme orangtuanya sendiri. (fitria)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed