oleh

Menteri Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman Dukung Zakir Naik Diusir

-Utama-81 views

Kuala Lumpur, Radar Pagi – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman mendukung pengusiran Dr. Zakir Naik. Ulama asal India itu dianggap konyol dengan menyebut warga Cina Malaysia dan India Malaysia sebagai tamu di negara itu.

“Serangan terhadap saudara-saudari Cina dan India kita adalah serangan terhadap seluruh orang Malaysia. Sungguh konyol untuk berpikir bahwa sesama warga Malaysia saya adalah tamu saya,” ujar Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, dilansir media Malaysia, The Star, beberapa saat lalu.

“Mereka (warga keturunan Cina dan India) adalah keluarga saya, demi Tuhan. Cukup sudah!” tegasnya.

Syed Saddiq menegaskan kekuatan Malaysia adalah persatuan rakyatnya. “Jangan pertanyakan kesetiaan dan kebersamaan kita,” katanya.

Pernyataan Syed Saddiq itu merespon ucapan Zakir Naik dalam acara talk show bertema, “Executive Talk bersama Dr Zakir Naik” di Kota Baru, Kelantan, pekan lalu. Saat itu Zakir ditanyai bagaimana tanggapannya atas seruan sejumlah pihak mengenai deportasi dirinya. Zakir merespons dengan meminta warga China Malaysia untuk pulang lebih dulu karena mereka adalah “tamu lama” di Malaysia.

Ucapan Zakir itu mengundang reaksi keras dari beragam kalangan, baik golongan Cina, India, dan Melayu. Barangkali Zakir Naik kecele dengan mengira tipikal warga Malaysia seperti masyarakat Indonesia, dimana ketika ada seseorang berkata “Cina numpang di Indonesia” maka semua akan menggangguk setuju. Atau ketika ada yang berteriak “Usir Cina dari Indonesia” maka yang lain akan ikut-ikutan berteriak juga. Ternyata di Malaysia berbeda, ucapan semacam itu dianggap sangat berbahaya karena bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Bukannya banjir dukungan, Zakir Naik malah habis-habisan dikecam masyarakat di sana.

Apalagi masyarakat Cina Malaysia memiliki sejarah dramatis dalam perjuangan mengusir Jepang dan Inggris ketika Perang Dunia ke-2. Sejarah mencatat gerilyawan Cina Malaysia pimpinan Chin Peng (21 Oktober 1924 – 16 September 2013) yang berhaluan komunis tidak kenal kata menyerah dalam usaha mengusir Jepang maupun Inggris.

Meski nama baik Chin Peng belakangan rusak karena tindakan brutalnya menteror warga yang dianggap mau tunduk menjadi ‘budak Inggris’, namun tidak ada yang bisa membantah perannya selama masa perang dunia ke-2, di mana saat itu masyarakat Melayu justru bermain aman dengan mendekat pada penjajah Inggris.

Itu sebabnya ketika negara federasi Malaysia dibentuk, Chin Peng ditawari untuk bergabung ke dalam koalisi pemerintahan dan dijanjikan jabatan tinggi. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah karena dia menganggap negara Malaysia yang baru didirikan itu hanyalah boneka Inggris.

Bersama ratusan gerilyawannya, Chin Peng memilih mundur ke dalam hutan di perbatasan Thailand, dan tetap tinggal dalam kondisi serba sulit di sana sampai akhir hayatnya. Dia memilih tidak merasakan manisnya kemerdekaan dari sebuah negara yang dulu pernah dia perjuangkan.

Sebelumnya, Zakir juga sudah menuai kecaman berbagai pihak terkait komentarnya yang menyebut bahwa warga Hindu di Malaysia lebih loyal kepada Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi daripada PM Malaysia Mahathir Mohamad.  Padahal faktanya tidak begitu karena hampir semua warga keturunan India di Malaysia bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke tanah leluhur mereka.

Zakir juga memicu kontroversi di Malaysia dengan pernyataan-pernyataannya yang mengkritik non-muslim. Dia selalu membanding-bandingkan ajaran Islam dengan ajaran agama lainnya tanpa memikirkan perasaan umat dari agama yang dia serang.

Di India sendiri Zakir sudah terancam kurungan karena dituduh melakukan pencucian uang senilai US$ 28 juta, atau lebih dari Rp 400 miliar, menyebarkan ujaran kebencian dan memancing timbulnya terorisme. Banyak pengikut al-Qaeda yang ditahan dilaporkan mengatakan kepada para pejabat bahwa ia sangat mempengaruhi mereka.

Zakir Naik, yang di kalangan hatters Indonedia namanya sering diplesetkan sebagai Zakar Naik ini menyiarkan Islam radikal melalui saluran televisi Peace TV. Saluran TV ini dilarang di India, namun diperkirakan memiliki 200 juta pemirsa di seluruh dunia.

“Ceramah dan ceramah Naik telah mengilhami dan menghasut sejumlah pemuda Muslim di India untuk melakukan kegiatan yang melanggar hukum dan aksi teroris”, ujar direktorat di pengadilan.

Badan itu menuduhnya menggunakan dana dari “sumber yang meragukan atau mencurigakan” untuk membeli properti di India dan membiayai acara-acara di mana ia membuat “pidato provokatif”.

Karena posisinya sudah terancam di India, maka pada tahun 2017 Zakir Naik mengungsi ke Malaysia. Ternyata di negara tersebut, lagi-lagi dia berulah. (fitria)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed