oleh

Papua Rusuh Lagi, 1 TNI Tewas, Kantor PLN Dibakar

-Utama-76 views

Jayapura, Radar Pagi – Mulutmu harimaumu. Pepatah itu tepat menggambarkan kondisi Papua saat ini yang berulangkali rusuh gara-gara ujaran rasis ‘monyet’ yang diteriakkan massa saat mengepung asrama mahasiswa di Surabaya, beberapa waktu lalu. Warga Papua yang sakit hati disamakan dengan monyet tak bisa lagi menahan amarah akibat perlakuan diskriminatif yang mereka terima di Pulau Jawa.

Terbaru, Prajurit Yonif 751/Raider, Praka Zulkifli, gugur dalam kerusuhan di Waena Expo Jayapura, Papua. Praka Zulkifli gugur terkena bacokan massa Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang diangkut dari aula Universitas Cenderawasih (Uncen).

“Demo massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) kembali melakukan penyerangan terhadap aparat. Akibatnya, seorang prajurit Yonif 751/Raider, Praka Zulkifli, yang sedang melaksanakan tugas BKO Polda Papua sebagai pengemudi kendaraan dinas truk pengangkut pasukan menjadi korban pembacokan yang diduga dilakukan oleh massa AMP,” ujar Kapendam Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto dalam keterangan tertulis, Senin (23/9/2019).

Praka Zulkifli ikut membantu pengamanan pemulangan mahasiswa eksodus yang sempat menduduki aula Uncen. Ratusan mahasiswa diangkut dari Uncen menggunakan truk dan bus umum. Di aula Uncen, mahasiswa eksodus yang studi di luar Papua disebut menuntut pendirian posko.

“Massa AMP kemudian difasilitasi petugas untuk kembali ke daerah Expo Waena dengan menggunakan kendaraan truk dan bis umum dengan dikawal aparat keamanan yang menggunakan kendaraan dinas yang dikemudikan Praka Zulkifli,” sambung Eko.

Sekitar pukul 11.00 WIT, massa yang tiba di Expo Waena langsung menyerang aparat keamanan yang mengawal mereka pulang. Massa memprovokasi kelompok lainnya di Expo Waena untuk melakukan kerusuhan.

“Almarhum Praka Zulkifli yang sedang beristirahat sejenak usai mengantar pasukan pengamanan tiba-tiba diserang oleh massa dengan menggunakan senjata tajam. Almarhum mengalami luka bacokan di kepala bagian belakang. Korban sempat dievakuasi menuju RS. Bhayangkara untuk mendapat perawatan medis,” papar Eko

Namun karena mengalami pendarahan hebat, Praka Zulkifli pada sekitar pukul 12.30 WIT meninggal dunia. Pangdam Mayjen TNI Herman Asaribab menyatakan turut berduka cita kepada keluarga almarhum.

“Sebagai seorang prajurit, almarhum Praka Zulkifli telah memberikan bakti terbaiknya kepada bangsa dan negara dengan memberikan jiwa dan raganya demi terciptanya rasa aman di tanah Papua” ujar Pangdam saat melihat jenazah Praka Zulkifli di RS. Bhayangkara.

Dua anggota Brimob dilaporkan mengalami luka dalam insiden ini.

Kantor PLN Dibakar

Di tempat terpisah, Kantor PLN Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, ikut jadi sasaran amuk massa. Kantor PLN dibakar.

Manager Komunikasi PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Onisimus Reba, mengatakan kantor Rayon Wamena yang dibakar berada di bagian depan bangunan.

“Kami belum mendapat penjelasan secara lengkap terkait dengan pembakaran ini,” kata Onisimus dikutip Antara, Senin (23/9/2019).

Menurut Onisimus, pihaknya berulang kali mencoba mengontak petugas di Kantor Rayon Wamena. Namun hingga kini belum ada satu pun petugas yang bisa dihubungi.

Polisi menyebut ada massa dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menyusup di demonstrasi pelajar SMA PGRI di Wamena, Jayawijaya, Papua. Para penyusup menggunakan seragam SMA.

“Itu (aksi pelajar) dari PGRI yang disusupi KNPB dan mahasiswa. Mereka pakai baju seragam SMA. Jadi bukan pelajar semuanya, tapi aksi itu sudah disusupi,” ujar Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya saat dihubungi wartawan, Senin (23/9/2019).

Aparat gabungan saat ini sudah berhasil mengendalikan situasi Wamena. Polisi kini mengevakuasi warga ke pengungsian.

“Saya sedang mengawal pengungsian. Situasi sudah terkendali, kondusif tapi kita masih jaga-jaga,” ujar Tonny.

Sebelumnya Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal memaparkan, pada sekitar pukul 07.25 WIT, terjadi penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena. Penyerangan diduga dilakukan massa bersama pelajar dari SMA PGRI.

“Telah terjadi penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena oleh anak SMA PGRI yang tergabung dengan masyarakat kurang-lebih sekitar 200 orang,” kata Kamal dalam keterangan tertulis.

Penyerangan, menurut Kamal, terjadi saat pelajar SMA PGRI berdemonstrasi di halaman sekolah dengan mengajak sekolah Yayasan Yapis. “Namun Sekolah Yapis tidak mau ikut demonstrasi, sehingga anak sekolah Yayasan Yapis melakukan perlawanan,” imbuh dia.

Dari sini massa membakar sejumlah fasilitas pemerintah, umum, dan milik warga. Polisi dan TNI masih berupaya mengendalikan situasi.

“Terkait dengan isu ucapan rasisme, itu tidak benar. Kami juga sudah menanyakan kepada pihak sekolah dan guru dan kita pastikan tidak ada kata-kata rasis. Kami harap masyarakat di Wamena dan di tanah Papua tidak mudah terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya,” tutur Kamal.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo sebelumnya menyatakan demo yang berujung pembakaran itu diduga dipicu hoax. Namun belum dijelaskan hoax rasis yang dimaksud.

“Untuk Wamena, saat ini situasi sudah dikendalikan oleh aparat dari TNI dan Polri,” kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta.

Dedi menyampaikan pihaknya terus melakukan dialog dengan para tokoh, seperti tokoh masyarakat, agama, dan adat. “Untuk sama-sama kita menjaga situasi kamtibmas,” ujarnya.

Rusuh Wamena pada Senin (23/9/2019) ini juga mengakibatkan Kantor Bupati Jayawijaya di Jalan Yos Sudarso Kota Wamena hangus dibakar massa yang bertindak anarkis. Selain itu, massa juga membakar rumah-rumah dan supermarket di Jalan Homhom, Kota Wamena. Sebagian massa juga terlibat bentrok dengan aparat kepolisian dan TNI. (Om Yan/dtc)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed