oleh

Ibu Hubungan Intim dengan Anak Kandung, Alasannya: Bapak Udah Gak Sanggup!

-Hukum-811 views

Sukabumi, Radar Pagi – Seorang ibu di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berinisial SR (39) senang melakukan hubungan seks sedarah (inses) bersama kedua anak lelakinya. Alasannya, sang suami sudah tidak sanggup memberi kepuasan.

Perempuan warga Kampung Bojongloa, Desa Situmekar, Kecamatan Lembursitu itu diketahui rutin berhubungan intim dengan kedua putranya yakni RG (16) dan R (14).

SR pun menceritakan alasannya berhubungan intim dengan kedua anak kandungnya itu.  “Saya kepengin saja. Bapaknya sudah nggak sanggup lagi,” kata SR di Mapolsek Cibadak, kemarin.

Diketahui usia SR dengan suaminya memang terpaut 30 tahun. Selama ini, untuk melampiaskan hasratnya, SR melakukan hubungan seks dengan kedua anak kandungnya di saat suami sedang di luar rumah.

Tanpa malu SR pun mengaku jika dirinyalah yang pertamakali mengajak anakanya untuk berhubungan intim usai nonton film porno.

“Yang ajak untuk begituan ke anak-anak, ya saya duluan. Spontan gitu aja,” ujar SR sambil mengaku kerap pula melakukan hubungan seks bertiga (threesome) dengan kedua anak kandungnya itu.

Berawal dari Pembunuhan

Terungkapnya kasus inses ini bermula dari ditemukannya mayat bocah perempuan usia 5 tahun berinisial NP yang merupakan anak angkat SR. Jasad korban ditemukan tersangkut di tepi sungai Cimandiri, Kawasan Kampung Platar RT 02/06 Desa Wangunreja, Kabupaten Sukabumi.

Dari hasil penyelidikan dicurigai NP tewas dibunuh keluarga angkatnya sendiri. Polisi pun  membekuk SR dan kedua putranya.

“Berdasarkan hasil autopsi dilakukan penangkapan terhadap ibu angkat korban yaitu Saudari SR kemudian anaknya RG dan R,” kata Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi, Selasa (24/9/2019) silam.

Nasriadi menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan terhadap pelaku, SR mengakui bahwa dirinya yang telah melakukan penyiksaan terhadap korban sampai korban meninggal dunia.

“Pada hari Minggu itu kejadiannya adalah pada saat korban mandi dilihat oleh tersangka RG, kemudian langsung diperkosa. Saat pemerkosaan berlanjut, datanglah R melihat adiknya memperkosa adik angkatnya itu. Kemudian bergantian RG melakukan pemerkosaan kemudian R melakukan pemerkosaan,” ujar Nasriadi.

Lalu setelah itu, datanglah ibu tiri korban, SR. Ketika melihat anaknya memperkosa korban, timbul rasa cemburu di hati SR. Dia pun memukul dan mencekik korban sampai tewas. Usai korban tewas, SR yang terangsang melihat putranya memperkosa korban semasa masih hidup, langsung mengajak putra pertamanya berhubungan badan di samping jenazah korban.

“Yang lebih dzalim lagi adalah setelah korban dicekik, ibu kandung bersama anak kandung si RG ini melakukan hubungan intim di dekat mayat alamarhum,” kata Nasriadi.

Setelah puas melakukan hubungan intim, ketiga pelaku membawa korban untuk dibuang ke Sungai Cimandiri yang berjarak sekitar 900 meter dari rumah mereka.

Melihat kekejaman ketiga pelaku, kiranya pengadilan layak menjatuhkan hukuman mati kepada mereka. Sayangnya hukum di Indonesia rupanya lebih senang mengurusi soal kumpul kebo atau suami memperkosa istri. Karena dua dari tiga pelaku masih di bawah umur, hampir dipastikan keduanya tidak akan dihukum berat.

Keduanya mungkin hanya beberapa tahun menjalani masa tahanan di lapas anak yang di zaman reformasi ini suasananya lebih mirip pesantren ketimbang penjara. Demikian juga dengan ibu mereka. Untuk kasus pembunuhan biasanya hanya dihukum beberapa tahun penjara, itu pun masih bisa mendapat remisi dan bisa bebas setelah menjalani 2/3 masa hukuman.

Setelah bebas, para pelaku bisa menikmati sisa hidup mereka. Sementara korban yang bernasib malang tidak lagi bisa melihat indahnya dunia. (heri)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed