oleh

Duit Haram Mantan Bupati Cirebon Diduga Ngalir ke Acara PDIP

-Hukum-145 views

Jakarta, Radar Pagi – Mantan Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra diduga melakukan pencucian uang senilai Rp 51 miliar. Sebagian kecil dari dana itu ada yang mengalir untuk acara PDIP.

Sebelum dipecat, Sunjaya adalah kader PDIP sehingga tak heran bila dia membantu pembiayaan acara partainya itu.

“Ada uang sekitar Rp 250 juta itu sudah dikembalikan dan kami sita. Diduga uang itu berasal dari tersangka Sunjaya yang digunakan untuk pembiayaan Kongres Sumpah Pemuda PDIP tahun 2018. Itu sudah muncul di fakta sidang. Untuk konfirmasi terkait kebutuhan perkara ini, kami memeriksa beberapa saksi,” kata juru bicara KPK, Febri, di gedung KPK, Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Nico Siahaan-lah, kata Febri, yang mengembalikan uang Rp 250 juta itu. Nico merupakan anggota DPR dari Fraksi PDIP yang kebetulan menjabat sebagai ketua panitia dalam kegiatan yang turut disumbang oleh Sunjaya tersebut.

“Disumbang hari ini, besoknya ditangkap. Kami hanya menyimpan, kemudian kami kembalikan ke KPK,” kata Nico usai persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung pada Rabu, 14 Maret 2019 silam.

Untuk kasus pencucian uang Rp51 miliar ini, KPK menyebut Sunjaya berusaha mengelabui penggunaan uang yang didapatnya dari gratifikasi dengan menggunakan nama orang lain saat membuka rekening dan membeli aset.

Sunjaya diduga menerima suap Rp 6,04 miliar dari pihak Hyundai Engineeering & Construction (HDEC) untuk memuluskan perizinan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2.

Sunjaya juga diduga menerima hadiah atau janji terkait perizinan properti di Cirebon sebesar Rp 4 miliar. Lalu dia diduga menerima gratifikasi dengan total sekitar Rp41,1 miliar dari sejumlah pihak.

Gratifikasi yang diterima Sunjaya berasal dari pengusaha sebesar Rp 31,5 miliar terkait pengadaan barang dan jasa, dari ASN Pemkab Cirebon sekitar Rp3,09 miliar terkait mutasi jabatan, dari setoran Kepala SKPD/OPD Pemkab Cirebon sekitar Rp 5,9 miliar, serta sekitar Rp500 juta terkait perizinan galian.

“Tersangka SUN selaku Bupati Cirebon juga tidak melaporkan gratifikasi tersebut kepada KPK dalam jangka waktu 30 hari kerja sebagaimana diatur Pasal 12 C UU Nomor 20 Tahun 2001,” kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Hasil suap dan gratifikasi itu kemudian ditempatkan di rekening atas nama pihak lain, namun digunakan untuk kepentingan Sunjaya. Kemudian Sunjaya berusaha mencuci duit haram itu dengan memerintahkan bawahannya membeli tanah beberapa kali di Kecamatan Tahun, Cirebon, sejak tahun 2016 sampai 2018 senilai Rp 9 miliar.

Transaksi itu dilakukan secara tunai dan kepemilikannya diatasnamakan pihak lain. Sunjaya juga memerintahkan bawahannya untuk membeli tujuh kendaraan yang diatasnamakan pihak lain, yaitu Honda H-RV, B-RV, Honda Jazz, Honda Brio, Toyota Yaris, Mitsubishi Pajero Sport Dakar, dan Mitsubishi GS41.

Sudah jatuh ketimpa tangga. Kondisi itu kini dialami oleh Sunjaya. Dia mendapat status baru sebagai tersangka kasus pencucian uang. Padahal sebelumnya dia sudah divonis 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 5 bulan untuk kasus suap terkait jual-beli jabatan di Kabupaten Cirebon, dimana saat itu dia terbukti menerima Rp 100 juta untuk melantik Gatot Rachmanto sebagai Sekretaris Dinas PUPR Cirebon.

Belum selesai masa hukuman untuk kasus jual beli jabatan dengan bilai yang terbilang ecek-ecek tersebut, kini Sunjaya harus bersiap-siap menghadapi persidangan yang baru untuk kasus lain yang lebih kakap. (rio)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed