oleh

Buntut Lakalantas dan Penganiayaan, Raja Negeri Iha dan Warga Tanah Goyang Sepakat Berdamai  

-Hukum-652 views

Maluku, Radar Pagi – Pasca konflik antara warga Negeri IHA dan Dusun Tanah Goyang pada Sabtu (31/8/2019) silam, Raja Negeri Iha dan warga Dusun Tanah Goyang Desa Lokki Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) menggelar rekonsiliasi perdamain di ruangan Kasat Reskrim Polres SBB Kota Piru, Selasa (8/10/2019) lalu.

Rekonsiliasi perdamaian itu dipimpin oleh Kasat Reskrim Polres SBB AKP Mido J Manik.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut  Raja Negeri Iha Zain Syaiful Latukaisupy, Penjabat Kepala Desa Lokki Demitri Y. Riry, Kepala Dusun Tanah goyang  Munir Boufakar, Mantan Kadus Tanah Goyang, Tengku Abd. Rahman Taipabu, Kepala Pemuda Tanah Goyang Samsudin Sangaji, tokoh-tokoh masyarakat dari Negeri Iha dan Dusun Tanah Goyang.

Dalam kegiatan perdamaian ini ada beberapa penyampaian, di antaranya Raja Iha Zain Syaiful Latukaisupy, menyampaikan bahwa  kejadian lakalantas darinya kepada  Putra Tuarita adalah musibah tidak sengaja, dan penganiayaan terhadapnya adalah kesalahan sebagai manusia biasa yang harus saling memaafkan.

“Saya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Untuk itu dengan hati yang tulus saya memaafkan beberapa Oknum yang melakukan penganiyaan terhadap saya,” ujar Raja Iha, Latukaisupy.

Dia melanjutkan, perdamaian yang dilakukan hari ini akan disampaikan ke masyarakat Negeri Iha bahwa tidak ada permasalahan lagi antara masyarakat Negeri Iha dengan masyarakat Dusun  Tanah Goyang  dan tidak boleh ada masyarakat Iha yang menyimpan dendam terhadap masyarakat Tanah Goyang, begitupun sebaliknya.

“Perdamaian ini akan saya sampaikan kepada seluruh warga saya di Iha, dan kita saling memaafkan dan tidak lagi kita saling dendam,” ujar Latukaisupy.

Dia  juga berharap agar masalah tersebut yang telah di roses hukum   agar ditutu karena perdamaian telahk dilakukan.

“Untuk itu saya minta agar pihak kepolisian dan kejaksaan menutup perkara yang sudah masuk dalam proses hukum yang sementara berjalan kepada oknum pelaku penganiayaan terhadap saya,” pinta Latukaisupy.

Sementara itu  Kepala Dusun Tanah Goyang, Munir Boufakar, menyampaikan bahwa dia mewakili warganya meminta maaf kepada Raja Negeri Iha.

“Bapak Raja Negeri IHA dengan harapan dapat memaafkan perbuatan yang telah dilakukan oleh beberapa oknum pemuda  Tanah Goyang.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Raja Iha yang dengan kerendahan hati dapat memaafkan kami masyarakat Tanah Goyang,” katanya.

Munir Boufakar mengatakan apabila sudah ada titik terang dalam perdamaian ini, para pelaku penganiayaan dengan didampingi orangtua masing-masing akan mencari waktu bertemu dengan Raja Iha untuk meminta maaf secara pribadi.

Kasat Reskrim Polres SBB, AKP Mido J Manik mengapresiasi langkah perdamaian yang dilakukan oleh Raja Negeri IHA dan warga Tanah Goyang ini.

“Upaya perdamaian yang dilakukan oleh Iha dan Tanah Goyang dapat menciptakan kedamaian antara kedua masyarakat,” ujarnya.

Rencananya pada Jumat (10/10/2019) akan diadakan proses perdamaian secara resmi dengan menandatangi Surat Perdamaian oleh kedua belah pihak.

Kerajaan Iha adalah sebuah kerajaan Islam di Pulau Saparua, Maluku. Pada masa penjajahan Belanda, Kerajaan Iha di sebelah utara bersama Kerajaan Honimoa di sebelah tenggara merupakan kerajaan besar yang ada di Pulau Saparua.

Pamor kejayaan Kerajaan Iha menyusut setelah terlibat dalam perlawanan melawan kolonial Belanda dalam Perang Iha (1632-1651) yang mengakibatkan kerajaan ini kehilangan sebagian daerah kekuasaan sehingga mengalami kemunduran. (jabar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed