oleh

Wiranto Ditusuk, Polda Banten Bantah Pengamanan Lemah

-Hukum-208 views

Pandeglang, Radar Pagi – Polda Banten membantah bahwa pengamanan untuk Menko Polhukam Wiranto lemah saat berkunjung ke  Universitas Mathla’ul Anwar,di Pandeglang, Banten.. Menurut polisi,  Wiranto saat itu ingin menemui warga.

“Karena Pak Wiranto yang berkeinginan untuk menyambangi masyarakat. Beliau yang menginginkan untuk menyambangi masyarakat, menyapa warganya sehingga ini kan hal yang normal dia sebagai pemerintah, sebagai seorang menteri,” ujar Kabid Humas Polda Banten Kombes Edy Sumardi di Alun-alun Menes, Jalan Perintis Kemerdekaan, Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019).

Selain itu, kata Edy, pelaku penusukan berbaur dengan masyarakat, bersama istri dan anak di sekitar alun-alun. Area itu memang tidak termasuk yang disterilkan. “Kejadian itu kan di luar (alun-alun),” ujarnya.

Menurut Edy, tidak ada prosedur pengamanan yang dilanggar polisi. Polisi juga berkoordinasi dengan TNI dan Satpol PP untuk pengamanan Wiranto.

“Tidak ada (prosedur yang dilanggar). Awal kegiatan itu sudah dilakukan apel sinergitas TNI-Polri dengan Satpol PP. Itu diarahkan, siapa, berbuat apa, berada di mana, ring I itu tanggung jawab siapa. Termasuk jalur sudah kita amankan. Semuanya sudah clear nggak ada masalah. Karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama, Polri menjamin ini. Karena selama kegiatan beliau kan berjalan dengan baik,” tuturnya.

Edy menjelaskan, dari hasil penyelidikan awal, pelaku Abu Rara sudah berencana melakukan penusukan. Sebab, pelaku sudah menyiapkan senjata tajam yang disembunyikan di balik baju.

“Ya, kalau saya katakan terencana, pasti. Karena yang bersangkutan kan membawa senjata tajam di balik bajunya. Berarti sehingga sudah merencanakan,” kata Edy,

Namun, dia belum mengetahui secara pasti ada-tidaknya pihak yang menginstruksikan dua pelaku untuk menyerang Wiranto. Dugaan sementara, penyerangan Wiranto murni penganiayaan.

“Sementara kita duga masih murni penganiayaan yang dilakukan oleh kedua pelaku penganiayaan ya, orang yang melakukan upaya untuk bersalaman tetapi melakukan tindakan upaya penganiayaan,” terangnya.

Edy menegaskan, pelaku baru dua bulan tinggal di Pandeglang, jadi bukan warga asli sekitar.

“Pelaku berada dari luar Provinsi Banten yang baru saja berada di Kabupaten Pandeglang ini sekitar dua bulan dan dia informasinya bekerja sebagai penjual pulsa,” katanya. (heri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Kamtibmas NKRI kini memang lemah. Pada hal Kapolrinya, Tito Karnavian, sudah lulusan Nomor Satu Akpol. Nggak bisa ngebayangin bagaimana lemahnya Polri bila Kepalanya bukan lulusan Akpol Nomor Satu.
    Bukti kelemahan professionalisme kamtibmas lainnya adalah dibantainya warga Minangkabau 23 Sep 2019 di Wamena.

News Feed