oleh

Sepanjang 2019 KBRI Pulangkan 36 Wanita Indonesia Korban ‘Pengantin Pesanan’ dari Cina

-Anehsiana-165 views

Jakarta, Radar Pagi – Sepanjang tahun 2019, KBRI Beijing telah memulangkan 36 WNI korban kasus ‘pengantin pesanan’ atau (mail-order bride) kembali ke Indonesia.

Pencapaian KBRI Beijing tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan langkah-langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terulang pada masa mendatang. Namun dipastikan, kasus serupa bakal terus terjadi di masa depan.

“Ini belum usai. Dengan pulangnya para WNI ini, trennya (pernikahan pesanan) malah berkembang seperti sebuah bisnis. Jadi kita juga mengedepankan aspek pencegahan seperti yang sudah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, seperti upaya memutus mata rantai dan langkah-langkah hulu hilir,” ujar Wakil Dubes RI untuk China Listyowati, di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Pemerintah Indonesia tengah berupaya mendesak China untuk menindak pihak-pihak yang terlibat kasus tindak pidana dugaan perdagangan orang (TPPO) dengan modus pengantin pesanan. Namun, menurut pemerintah, Beijing sampai saat ini masih berbeda pandangan dengan Indonesia terkait hal itu.

“Sejauh ini yang kami ketahui pihak China masih ingin mendalami kasus ini dulu karena perspektif mereka berbeda. Mereka menganggap ini hanya kasus rumah tangga biasa, sementara (Indonesia) melihat ini sebagai indikasi TPPO,” katanya.

“Meski belum banyak, pihak RRT (China) sendiri sudah melakukan tindakan penegakan hukum, dalam beberapa kasus sudah ada yang ditindak,” ujar Listyowati menambahkan.

Saat ini, WNI korban kasus “pengantin pesanan” di China sebagian besar berada di Provinsi Henan dan Hebai.

“Ada dua yang kita catat, provinsi Henan dan provinsi Hebai itu memang karena jumlah populasi banyak,” ujar Pejabat Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing Ichsan Firdaus, di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Dia mengatakan saat ini pihak KBRI Beijing terus melakukan pendekatan dengan pihak berwenang di tingkat provinsi di China dalam upaya mencegah kasus pengantin pesanan terus terjadi.

“Sekarang dengan Hebai kita lakukan pendekatan dengan pihak berwenang, khususnya kalau ada WNI yang mau memperpanjang visa tinggal atau ada yang mau menikah, itu diminta ke KBRI,” jelasnya.

Dia menyatakan aparat penegak hukum China telah menahan sejumlah agen karena terlibat praktek TPPO berkedok perjodohan seperti ini.

Biasanya, agen berkedok mak comblang berkeliaran di desa-desa di Indonesia, membujuk kaum wanita di sana, terutama yang masih gadis, untuk dibawa ke China dan dinikahkan dengan warga negara tirai bambu itu. Mereka dijanjikan kehidupan yang mapan. Namun faktanya, tidak semua wanita itu hidup enak di sana. Sebagian besar justru mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Kisah Dramatis Monica

Dikutip dari merdeka, salah seorang wanita bernama Monika (24) menjadi korban pengantin pesanan yang diduga kasus perdagangan orang. Monika tinggal di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Kisah Monika bermula dari iming-iming mak comblang perantara jodoh. Dia ditawari menikah dengan pria asal Tiongkok melalui kedua temannya yang baru dikenal.

Mak comblang tersebut ada tiga. Masing-masing berasal dari Jakarta, Singkawang dan Pontianak. Mereka semua perempuan. Menawarkan pernikahan kepada Monika kepada pria Tiongkok yang bekerja sebagai tukang bangunan dengan gaji besar.

Monika pun dipertemukan dengan calon suami bersama mak comblang. Namun, Monika sempat curiga lantaran foto terkait pernikahannya nanti tak boleh diumbar ke media sosial oleh mak comblang.

“Mereka bilang pas foto itu kamu jangan ke media foto, kita nanti ketahuan polisi bahaya,” kata Monika.

Para mak comblang itu tetap meyakinkan Monica bahwa dirinya aman lantaran pernikahan resmi pada umumnya. Ia bisa mengabarkan para mak comblang bila terjadi apa-apa.

“Kalau kamu enggak betah bisa telepon, saya pulangnya kamu. Dia bilang gitu,” ungkapnya.

Monika terbuai, menerima pria yang ditawarkan dan berangkat ke Tiongkok sejak September 2018 lalu dengan harapan hidup kurang mampu bersama keluarga bisa teratasi.

“Karena iming iming uang. Nanti di sana dibeliin emas nanti kirim orangtua pasti ada gitu kamu berkecukupan,” kata Monica meniru ucapan makcomblang.

Singkat cerita, sekitar 10 bulan tinggal di Tiongkok, Monika mulai merasa tak betah tinggal bersama suami dan keluarganya. Perilaku kekerasan dan pelecehan seksual mulai dialaminya.

Monika bercerita, pernah diajak berhubungan intim bersama suami. Namun ajakan itu enggan ia penuhi lantaran sedang sakit dan menstruasi. Suaminya tak percaya. Hingga mertua Monica sempat meminta ia telanjang dan minta membuktikan bahwa sedang datang bulan.

Kemudian, Monika mengaku pernah mengalami kekerasan. Punggungnya pernah dipukul oleh sang suami. Dia mengungkapkan, ada juga temannya yang menjadi pengantin pesanan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

“Teman-teman saya ada tiga orang. Satu orang dipukul,” katanya.

Atas kejadian tersebut, Monika mulai sadar. Ia segera menelepon para mak comblang untuk menceritakan pengalamannya dan meminta pulang ke Indonesia. Tetapi mereka hilang tanpa kabar.

“Mak comblangnya enggak ada semua, enggak ada kabar, enggak aktif semua nomornya. Kamu nanti mau pulang bisa telepon ini saja nanti, nyatanya enggak ada bohong semua,” tuturnya.

Akhirnya, Monika berencana untuk kabur dari rumah suaminya yang tinggal di kawasan pegunungan tersebut. Diam-diam, ia kabur keluar rumah dengan menyetop bus menuju terminal Wuji. Kemudian, transit menggunakan taksi menuju kantor polisi di Hebei.

Setibanya di kantor polisi, Monika diinterogasi terkait keberadaannya di Tiongkok. Dia pun meminta polisi menghubungi KBRI Indonesia supaya bisa dipulangkan. Namun, ia tak bisa pulang lantaran paspor miliknya masih ditangan suami.

Polisi kemudian meminta paspor miliknya kepada keluarga. Selama menunggu datangnya paspor, Monika malah dipenjara selama tiga hari tanpa mendapat makanan selama paspor itu belum ada di tangannya. Setelah dihubungi dan dipaksa pihak kepolisian, keluarga suaminya memberikan paspor tersebut.

Hari ketiga di penjara, kakak suaminya memberikan paspor tersebut kepada Monika. Iparnya tersebut menjemputnya dari kantor polisi dan diajak ke sebuah apartemen di kota Wuhan. Namun Monika malah ditahan di apartemen dan diminta mengembalikan uang sebesar Rp 100 juta rupiah oleh kakak iparnya sebagai ganti rugi.

Monika kembali berniat melarikan diri dari apartemen tersebut. Beruntung dia bisa bertemu dan berkenalan dengan sejumlah mahasiswa asal Indonesia yang membantunya kabur untuk pulang ke tanah air tanpa sepengetahuan iparnya. Monika diminta menuju kampus untuk melarikan diri.

“Saya melakukan komunikasi (sama mahasiswa Indonesia) hari apa mau kabur. Kalau mau kabur langsung di depan kampus aja gitu (kata mahasiswa). Jadi saya beranikan diri buat kabur dari apartemen itu dari lantai 31 kan saya beranikan diri untuk turun saya setop taksi,” ungkapnya.

Monika menyimpan kontak mahasiswa yang membantunya itu dan memberikan kontak itu kepada sopir taksi. Tujuannya agar mahasiswa tersebut bisa memberikan arahan kepada sang sopir.

Kaburnya Monika berjalan mulus. Setibanya di kampus, Ia dijemput oleh para mahasiswa tersebut dan diajak ke sebuah hotel. Di situ ada mahasiswa lain yang siap membantunya mengurus tiket dan mengantar ke bandara untuk kembali ke Indonesia. Akhirnya, Monika tiba di tanah air pada Sabtu, 22 Juni 2019 dengan selamat.

“Mereka antar ke bandara, terus mahasiswa itu yang urus tiket. Saya kan enggak ngerti di situ. Dia titipkan saya ke dua orang temannya lagi untuk bantu saya selama di pesawat, saya diiringi dua orang temannya tadi. sampai Indonesia itu saya sudah pisah sama temannya sampai saya di bandara,” tutup Monika. (yogie)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed