oleh

Lapas Kota Piru: Bina Mental dan Kreatifitas Warga Binaan

-NUSANTARA-234 views

Kota Piru, Radar Pagi – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) selama ini dikenal sebagai tempat penahanan bagi orang-orang bermental preman, perampok, pembunuh, dan gembong narkoba. Suasana keras dan seram pasti terasa di dalam sana. Tetapi tanggapan negatif masyarakat tentang Lapas itu ternyata keliru.

Hal itu dibuktikan ketika wartawan RadarPagi.com dan TerasMaluku.com berkunjung ke Lapas Kelas II B Piru, Senin (14/10/2019) kemarin.

Dari pantauan wartawan, di dalam lapas warga dibina dengan berbagai ketrampilan khusus agar setelah bebas nanti bisa mandiri dan berguna bagi masyarakat dengan keahlian yang diperoleh selama berada dalam Lapas. Bahkan dari hasil kerajinan dan kerja mereka, para warga binaan ini  bisa menghasilkan pendapatan dan memiliki tabungan sendiri.

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas II B Piru Saiful Sahri, AMd. Ip. SH. MH mengatakan, “Semua warga binaan yang masuk ke sini kita perlakukan sebagai teman, bukan musuh. Selama berada di sini, mereka dibina agar ketika kembali ke masyarakat bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar,” katanya.

Dirinya menambahkan, “Pihak kami lebih kepada bimbingan mental setiap warga binaan. Karena bagi kami, setiap manusia tidak ada yang sempurna dan pasti tidak akan luput dari kesalahan. Untuk itu, hati mereka harus kita bina betul agar kesalahan yang sudah mereka lakukan tidak akan dilkukan lagi setelah kembali nanti,” katanya.

Para warga binaan yang ada di Lapas kelas II B Piru berjumlah 150 orang, kalau dibandingkan dengan kapasitas ruangan untuk menampung warga binaan, masih kurang apalagi Lapas kelas II B Piru termasuk Lapas penyangga dari Lapas Ambon.

“Kapasitas ruang tampung bagi warga binaan masih kurang kalau dibandingkan dengan jumlah warga binaan saat ini, apalagi Lapas Piru merupakan salah satu Lapas penyangga bagi Lapas Ambon,” lanjutnya.

Selama berada di Lapas, mereka diajarkan berbagai ketrampilan, misalnya ketrampilan merangkai Nyiru, membuat vas bunga, meubel, perbengkelan, berkebun sayur, dll. Semua hasil kreasi dan hasil pertanian itu dijual langsung ke pasar-pasar yang ada di Kota Piru dan sekitarnya, dan hasil dari penjualan itu dibagi dua antara Lapas dan warga binaan itu sendiri.

Wawan, salah satu warga binaan Lapas kelas II B Piru mengatakan “Awal saya masuk ke sini, tidak ada yang saya ketahui dan lakukan, tapi setelah kami diberikan pelatihan selama 8 hari akhirnya saya dan teman-teman bisa membuat tirai yang bahan dasarnya dari bambu,” ungkap Wawan.

Kalapas mengakui kondisi Lapas Kelas II Piru masih memiliki banyak kekurangan. “Soal kekurangan, sudah pasti ada. Yang sangat kami butuhkan adalah fasilitas CCTV agar kami dapat memantau setiap pergerakan warga binaan. Untuk itu, saya berharap kepada Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia agar dapat melihat kekurangan yang ada di Lapas kelas II B Piru,” harap Kalapas. (jabar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed