oleh

Sosok Amien Rais di Tengah Isu Koalisi PAN-Pemerintah

-Nasional-671 views

Jakarta, Radar Pagi – Bergabung atau tidaknya Partai Amanat Nasional (PAN) dengan partai koalisi Jokowi tergantung faktor dari sosok Amien Rais. Hal itu dikatakan pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komaruddin.

Amien Rais yang duduk sebagai Ketua Dewan Kehormatan PAN, kata Ujang, masih memiliki kekuatan yang cukup besar di partainya, dan sebagian besar kadernya masih mengikuti perintah dari Amien Rais.

“Apakah oposisi atau di dalam kabinet, itu faktor Amien Rais juga. Karena sesungguhnya Pak Amien Rais memiliki saham di PAN, kader-kader lebih ikut (perintahnya) Amien Rais,” kata Ujang, Rabu, (16/10/19).

Dia menyebut bahwa PAN merupakan salah satu partai yang tidak diterima oleh kubu parpol Jokowi. Hal tersebut pun berbeda dengan posisi Gerindra, dan Demokrat yang cenderung mendapatkan pintu untuk bergabung dengan koalisi.

“PAN ini resistensinya paling enggak diterima sama parpol koalisi Jokowi. Kalau Gerindra masih diterima PDIP, kalau Demokrat tidak diterima PDIP, tapi diterima oleh parpol lain. Tapi kalau PAN ini tidak diterima PDIP, tidak diterima yang lain-lain,” katanya.

Namun pendapat berbeda dilontarkan pengamat dari Pusat Kajian Politik Ekonomi Indonesia (PKPEI) Barata. Menurutnya, sosok Amien Rais ibarat macan ompong dalam kubu PAN.

“Amien Rais itu cuma sejarah. Kalau saya sebut tak ubahnya fosil, nanti tersinggung, jadi saya sebut saja sejarah,” kata Barata saat dihubungi melalui selular, Rabu (16/10/2019).

Barata mengakui masih banyak pendukung Amien dalam partainya, namun rata-rata ‘macan ompong’ juga seperti Amien Rais.

“Bagaimanapun dalam sebuah organisasi politik, peran ketua umum dan pengurus aktif tetap lebih besar ketimbang dewan kehormatan dan semacamnya. Ketua lah yang pegang peranan. Dia nahkoda yang akan menentukan arah kemana partainya berlayar, kemana hendak berlabuh,” kata Barata.

Dia menilai pertemuan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) dan Presiden Jokowi di Istana Merdeka merupakan sinyalemen bahwa kepengurusan PAN sebenarnya tertarik untuk bergabung dalam koalisi pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Memang pertemuan empat mata dengan Zulhas belum menghasilkan kesepakatan apapun. Apalagi sampai ke pembagian kursi menteri di Kabinet Kerja jilid II, tapi siapa tahu kejadian sebenarnya di dalam sana. Mustahil politisi bertemu di istana hanya untuk ketawa-ketiwi. Kalau cuma seperti itu bisa di warung kopi,” tegas Barata. (arman)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed