oleh

Dewan Ideologi Islam di Punjab Usulkan Suami Boleh Gebuk Istri Kalau Menolak Diajak Ngeseks

-Anehsiana-170 views

Punjab, Radar Pagi – Dewan Ideologi Islam (CII) di wilayah Negara Bagian Punjab, Pakistan, mengusulkan aturan baru yang mengizinkan suami memukul istrinya bila menolak saat diajak berhubungan intim.

Seperti dilaporkan situs berita Express.co.uk, beberapa saat lalu, CII telah mengajukan proposal mereka ke parlemen Punjab. CII juga menyarankan pemerintah Pakistan untuk segera membuat undang-undang yang membolehkan suami melakukan lightly beat (pukulan ringan) kepada istrinya.

Dalam proposal itu dijelaskan, suami boleh tabok istrinya asal jangan kencang-kencang. Tindakan itu dilakukan jika istri menolak berhubungan seks, tidak memakai jilbab, jika mereka berbicara terlalu keras sehingga suaranya didengar tetangga, atau memberikan uang kepada orang-orang lain tanpa izin suaminya.

Kalau si istri berlaku jorok karena tidak mandi setelah berhubungan badan atau selama datang bulan, suami juga boleh memukul istrinya. Bila istri lancang menggunakan kontrasepsi tanpa izin suaminya, juga boleh dipukul.

Bahkan Dewan Ideologi Islam di Punjab itu juga memberikan panduan tentang bagaimana cara melakukan pukulan ringan dan kekerasan terbatas kepada istri.

“Jangan memukul kepala dengan sepatu atau sapu, atau memukul hidung dan mata. Jangan mematahkan tulang atau melukai kulitnya atau meninggalkan tanda apa pun di badan istrinya,” kata Ketua CII Maulana Muhammad Khan Sherani mengatakan dalam konferensi pers di Islamabad, pekan lalu.

“Jangan memukulnya karena dendam, tetapi hanya untuk mengingatkan istri tentang kewajiban agamanya,” kata Sherani lagi.

Demi tegaknya ajaran Islam, CII juga mengusulkan agar suami yang tidak mau memukul istrinya harus dituntut secara hukum.

Proposal CII jelas bertolak belakang dengan gerakan kesetaraan gender yang digaungkan perempuan di sana dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Sebenarnya, tanpa disuruh, banyak suami di Pakistan yang sering berlaku kasar kepada suaminya. Itu sebabnya muncul gerakan kesetaraan gender, yang antara lain menuntut penggunaan gelang elektronik pada istri, yang mudah dideteksi jika istri mendapat perlakuan kasar atau dipukul oleh suami mereka.

Seorang mantan anggota CII, Allama Tahir Ashram, yang sudah mengundurkan diri dari organisasi itu mengkritik keras usulan suami boleh seenaknya gaplokin bini kalau menolak diajak ngeseks.

“Ini sulit dipercaya! Apa yang dimaksudkan dengan pukulan ringan? Tidak untuk memenggal kepala mereka, tetapi hanya membakar mereka dalam minyak?” sindir Ashram.

Proposal dari CII itu dinilai sangat mengerikan. Apalagi Pakistan adalah negara Islam pertama yang memilih seorang perdana menteri perempuan, yakni Benazir Bhutto, yang kemudian dibunuh pada tahun 2007. Itu bukti bahwa perempuan memiliki hak yang sama di Pakistan, meski harus diakui banyak lelaki di negara tersebut sangat buruk memperlakukan wanita. Tahun 2018 lalu, lebih dari 1.000 perempuan dibunuh oleh anggota keluarganya sendiri hanya karena dianggap merusak kehormatan keluarga, misalnya karena tidak mau memakai jilbab.

Pengacara hak asasi manusia Pakistan, Asma Jahangir, juga menolak peraturan yang diusulkan oleh CII itu, “Menjijikkan,” katanya. (yon)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed