oleh

Siap-siap Kegerahan! BMKG: Pekan Depan Cuaca Masih Panas

-Nasional-156 views

Jakarta, Radar Pagi – Hingga tujuh hari ke depan suhu tinggi (panas) masih berpotensi terjadi, terutama di Jawa, Bali, NTB, NTT dan Sulawesi.

Demikian dikatakan Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Kondisi suhu yang tinggi hingga cuaca terasa sangat panas lazim terjadi di periode akhir musim kemarau. Penyebab cuaca panas tersebut karena posisi semu matahari saat ini sedang berada di sekitar equator, sehingga pemanasan dari sinar matahari maksimal,” kata Fachri Radjab dalam keterangannya, Minggu (27/10/2019).

Seperti diketahui, pada bulan September matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan hingga Desember 2019. Sehingga pada Oktober, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan yaitu Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sebagainya.

BMKG mencatat dalam 24 jam terakhir suhu tertinggi tercatat 38,8 derajat Celcius terjadi di Jatiwangi, Cirebon. Bahkan pada 24 Oktober 2019 suhu 39,6 derajat Celsius tercatat di daerah Ciputat, Jakarta Selatan.

Hingga pekan depan suhu maksimum dapat mencapai 39 derajat Celcius. BMKG mencatat suhu tertinggi selama dua hari terakhir terjadi di Semarang yang juga mencapai 39 derajat Celcius.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (25/10/2019) kemarin mengatakan suhu panas ini terjadi karena posisi matahari berada di titik kulminasi tertinggi, tidak ada awan yang menutupi, dan suhu kelembapan yang rendah.

“Akibatnya cahaya matahari langsung menuju wilayah Indonesia sehingga cuaca menjadi panas,” katanya.

Dia mengimbau masyarakat untuk banyak minum air putih dan mengurangi aktivitas di bawah matahari langsung.

“Minum air yang cukup jangan sampai dehidrasi, gunakan pakaian yang nyaman, kurangi aktivitas di bawah matahari atau kenakan pelindung,” katanya.

Cuaca panas ini diprediksi tidak akan berlangsung lama karena akan berganti menjadi musim hujan. Saat ini, awan hujan mulai terbentuk dan diprediksi wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Kalimantan bagian selatan akan mulai memasuki musim hujan pada akhir November hingga awal Desember. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari dan Februari.

Bukan Gelombang Panas

Miming juga menyatakan bahwa suhu panas di Indonesia bukanlah gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa dan India. Dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak termakan hoaks yang banyak beredar.

“Suhu panas berbeda dengan gelombang panas,” tutur Miming.

Gelombang panas terjadi pada wilayah yang berada di lintang tinggi. Gelombang panas itu terjadi karena pengaruh atmosfer di kutub dan lintang menengah.

Menurut Miming, di Indonesia tak mungkin terjadi gelombang panas karena secara dinamika berbeda. Indonesia berada di ekuator sehingga kondisi cuaca dan fenomena berbeda. (yon)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed