oleh

Band Seventeen Diabadikan dalam Film ‘Kemarin’

-Kabar Seni-574 views

Jakarta, Radar Pagi – Ketika tsunami di Selat Sunda menghantam daerah pesisir Banten dan Lampung pada 13 Desember 2018, 426 orang tewas. Di antara korban tewas adalah 3 dari 4 personel band Seventeen, yaitu Bani (bassist), Herman (gitaris), Andi (drummer), ditambah 3 orang lagi dari kru, manajemen, dan istri Ifan Seventeen.

Saat kejadian, Seventeen sedang menjadi pengisi acara untuk gathering karyawan PLN di Tanjung Lesung Beach Resort, Banten.

Mahakarya Pictures bersama Mahaka Integra Radio kini mengabadikan peristiwa tersebut lewat film berjudul Kemarin yang naskahnya ditulis Wisnu Surya Pratama dan disutradari Upie Guava.

Film doku drama ini berisi kisah perjalanan Seventeen dan hal-hal yang dihadapi para personel, termasuk pertengkaran dalam band hingga puncaknya mengalami musibah tsunami.

“Kalau dibilang menguak lukanya memang, sih, kebetulan kemarin ada reka adegan kita syuting di kolam yang masih ada wave-nya, ada yang di pantai juga itu, pada intinya merinding sendiri ke-flashback enggak bisa napasnya, suasananya,” jelas Ifan, satu-satunya personil band yang tersisa.

Hingga saat ini, film ‘Kemarin’ memang belum mendapat jadwal tayang di bioskop. Namun, Ifan dan timnya menargetkan film ini bisa tayang di akhir tahun, dalam rangka memperingati satu tahun kejadian tersebut.

Jika tidak memungkinkan, mereka berharap film ini bisa tayang awal tahun 2020. Momen tersebut dinilai tepat karena bersamaan dengan ulang tahun band Seventeen.

Sementara, pemilihan ‘Kemarin’ sebagai judul film ini terkait dengan salah satu lagu Seventeen, dimana liriknya yang dibuat mendiang Herman itu bercerita tentang kematian.

“Memang Kemarin itu diambil dari salah satu lagu Seventeen. Lagunya ini tentang kematian dan sempat jadi perdebatan (antar personel) dan sempat mau ganti lirik pada 2016, tetapi belum (alm) Herman belum sempat ganti lirik,” terang Dendi Reynando selaku CEO Mahakarya, dalam press conference film Kemarin di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

“Lagunya ini memang beda. Bahkan, Ifan sempat tak mau menyanyikannya. Di album juga hanya menjadi pelengkap. Tapi, persis dua tahun lagu ini menjadi soundtrack dari apa yang kita alami,” tambah dia.

Sebagian besar materi film berdurasi 90 menit ini diambil dari rekaman kamera Andi sang drummer. Kebetulan dua minggu sebelum peristiwa tsunami pada 13 Desember 2018, Seventeen bersama management sempat melakukan meeting tentang rencana pembuatan film documenter untuk merayakan 20 tahun perjalanan musik mereka sehingga Andi banyak merekam kegiatan Seventeen.

Sebulan setelah tsunami, kamera milik almarhum Andi ditemukan. Dalam kamera tersebut tersimpan semua kenangan terakhir Seventeen di Tanjung Lesung. Dari H-1 tsunami hingga saat Seventeen di atas panggung bahkan ketika tsunami menerjang di lagu kedua mereka tampil.

Sisa adegan lain merupakan reka adegan, misalnya adegan saat Ifan terombang ambing di tengah lautan.

Ifan mengaku sangat sedih ketika menyaksikan film yang diambil dari rekaman-rekaman video milik almarhum Andi itu.

“Banyak isi rekaman yang gua belum pernah lihat sebelumnya. Pas preview filmnya semua nangis, bukan hanya kesedihan tapi kengerian. Tadi Dendi bilang dalam mimpi terburuk pas tidur, mimpi buruk aja enggak sampai seburuk itu,” kata Ifan.

Ifan menjanjikan bahwa film dokumenter Kemarin akan menampilkan banyak hal-hal menarik dari perjalanan bandnya. (viktor)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed