oleh

Tak Gentar Digugat Rp100 Miliar, Polres Lumajang Tetapkan 12 Tersangka Kasus QNet

-Hukum-167 views

Lumajang, Radar Pagi – Hasil penggeledahan yang dilakukan oleh Tim Cobra Polres Lumajang di kantor Amoeba Internasional di Kediri dan kantor QN International Indonesia di Jakarta yang di pimpin langsung oleh Katim Cobra AKP Hasran, telah dapat membuktikan peran dua perusahaan itu melakukan penipuan investasi dan pendistribusian produk dengan skema piramida. PT QNII sendiri adalah pemegang merek QNet di Indonesia.

Perusahaan ini diketahui telah menjalankan aksi penipuan investasinya selama kurang lebih 21 tahun di Indonesia. Diawali dengan Brand yang bernama Gold Quest. Saat Gold Quest tersandung masalah, mereka berganti baju menjadi Questnet yang ramai dipermasalahkan di media, kemudian berganti baju lagi dengan nama Qnet.

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban mengungkapkan pihaknya sudah bisa mengurai peran masing-masing perusahaan, baik PT Amoeba maupun PT QN International Indonesia. Keduanya memiliki peran dalam melakukan penipuan investasi di Indonesia dan keduanya juga menjalankan sistem skema piramida yang dilarang undang-undang.

“Dalam sebuah sistem skema piramida, apabila diambil kedalaman 10 lapis, maka yang diuntungkan hanya 13% sedangkan yang dirugikan mencapai 87% dari seluruh member yang ikut,” ujar Kapolres, Senin (4/11/2019).

Saat ini, kata Kapolres, 12 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal yang dipersangkakan, yaitu penipuan, perdagangan tanpa izin, mendistribusikan barang dengan skema piramida dan mengedarkan alat kesehatan tanpa izin edar dari Kemenkes.

“Dari hasil penggeledahan kami di kantor PT QN International Indonesia di Jakarta membuktikan bahwa perusahaan ini bukanlah sebuah perusahaan bonafit yang menjalankan perusahaan dengan baik. Sebagai contohnya, di websitenya dipampangkan banyak produk yang mereka jual meliputi barang-barang lifestyle seperti jam tangan, perhiasan, alat-alat kesehatan dan kebugaran, alat-alat perawatan dan kecantikan serta peralatan rumah yang jumlahnya ratusan item. Tapi kenyataannya saat kami geledah, ternyata hanya ada 12 item produk di dalam gudang PT QN International Indonesia. Luas gudangnya pun hanya 4×6 meter,” kata Kapolres.

“Kalau kita sambungkan dengan kode etik perusahaan PT QNII, perusahaan wajib mengirim barang yang dipesan customer  hari itu juga atau paling lambat keesokan harinya sudah harus dikirim. Yang jadi pertanyaan kalau produk yang ditawarkan di website tidak ada digudang, bagaimana mereka mengirimkan prodak tersebut kepada customer dalam jangka waktu sesuai yang disebut kode etik? Bahkan rata-rata korban yang kami periksa mengatakan menerima barang setelah 5 bulan, bahkan ada yang tidak mendapatkan produknya sama sekali walau sudah bayar,” sambung Kapolres S2 UGM Yogyakarta ini.

Selain itu, PT QNII ternyata tidak memiliki kontrak hak distribusi eksklusif dari pemilik merk, dimana seharusnya sebuah perusahaan MLM tidak boleh mengedarkan produk yang tidak memiliki kontrak distribusi eksklusif dari pemilik merk. Yang paling parahnya lagi, PT QN International Indonesia menjalankan sebuah marketing plan yang tidak didaftarkan di Kementerian perdagangan.

“Marketing plan yang didaftarkan oleh PT QNII yaitu sistem pendistribusian dengan model matahari yang maksudnya setiap member boleh memiliki ratusan bahkan ribuan downliner serta tidak ada pembatasan sama sekali sehingga membentuk seperti matahari. Tapi pada kenyataanya PT QN International Indonesia menjalankan sistem binary, dimana setiap member hanya boleh memiliki 2 downliner yaitu 1 di kaki kanan dan 1 di kaki kiri,” ujarnya.

“Ini jelas-jelas ingin mengelabui hukum, karena mereka memiliki izin resmi dari Kemendag dan APLI, tapi mereka menjalankan sistem yang berbeda dengan yang dilaporkan ke kemendag. Tapi izinnya itulah yang selalu ditampilkan ke publik kalau seakan-akan sistem mereka resmi dan terdaftar,” sambungnya. (Nuk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed