oleh

Pembina di Surabaya Didik 15 Siswa Jadi Pramuka Elite, Latihannya Saling Sodomi Sampai Makan Ayam Geprek Pedas

-Anehsiana-461 views

Surabaya, Radar Pagi – Rahmat Santoso Slamet, pembina Pramuka yang diduga mencabuli 15 siswa dituntut hukuman 14 tahun penjara dan kebiri kimia. Selain itu, terdakwa juga dijatuhi denda sebesar Rp 100 juta dengan subsider tiga bulan.

Dalam sidang lanjutan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (4/11/2019), diketahui terdakwa melakukan pencabulan terhadap 15 anak lelaki yang berasal dari enam sekolah di Surabaya, sejak empat tahun lalu.

Para korban berinisial ASB (14), A (14), A (14), MA (14), TRA (14), AS (14), AM (14), BRK (15), IM (15), Z (14), C (15), D (15), F (15) dan S (16).

Sebagian besar perbuatan terdakwa dilakukan di rumahnya sendiri di Jalan Kupang Segunting Kecamatan Tegalsari, Surabaya.

Modusnya, terdakwa memanggil ketua regu pramuka untuk ke rumahnya. Saat sudah di rumah, ketua regu tersebut dicabuli tersangka dengan iming-iming regunya akan menjadi Pramuka yang elit.

Tapi terdakwa bukan membina fisik dan mental siswanya dengan latihan standar pramuka, apalagi latihan ala militer yang keras. Ada tujuh tahapan yang harus dilalui oleh calon anggota Tim Inti Pramuka agar menjadi pasukan elite versi terdakwa.

Tahap pertama, siswa telanjang bulat, kedua, pemeriksaan kejantanan dengan cara memegang atau meremas kemaluan korban, ketiga melakukan onani secara bergantian dan saling berpelukan.

Sedangkan tahap keempat, korban harus menginap dan tidur bersama tersangka dengan bertelanjang, dan tahap kelima saling sodomi. Sementara tahap keenam, tersangka dan korban melakukan oral seks secara bergantian.

Sebagai tahap penutup, seluruh calon anggota tim inti Pramuka harus makan ayam geprek pedas.

Terdakwa ditangkap aparat Polda Jatim pada Kamis (18/7/2019) silam setelah ada laporan dari orang tua korban.

Pendamping hukum korban pencabulan dari Surabaya Children Crisis Center (SCCC) Muhammad Dewangga Kahfi menyebutkan bahwa tuntutan yang diterima terdakwa Rahmat Santoso setimpal dengan perbuatannya. “Tuntutan sudah sangat adil, lantaran banyaknya korban dan pengakuan korban,” jelasnya.

Sementara itu, Aspidum Kejati Jawa Timur, Asep Mariono, mengungkapkan hukuman kebiri kimia ini juga telah dipertimbangkan sebelumnya. Salah satu yang memberatkan terdakwa adalah sebagai seorang tenaga pendidik, ia semestinya dapat mengayomi siswanya.

“Kedua, dari hasil psikologis satu di antara korbannya terindikasi untuk menjadi (pedofil homo seperti) pelaku,” jelas Asep. (yon)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed