oleh

Satbrimob Polda Jawa Timur Gelar Napak Tilas, AP III Katjoeng Permadi Kembali Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

-NUSANTARA-573 views

Kab. Malang, Radar Pagi – Dalam rangka perayaan HUT ke-74 Korps Brimob Polri, Satbrimob Polda Jawa Timur menggelar napak tilas pahlawan kepolisian Agen Polisi III Katjoeng Permadi.

Napak tilas digelar tiga hari, sejak 3 November 2019 s/d 6 November 2019, diikuti ratusan personil Brimob dan TNI.

Mereka melakukan longmarch sejauh  68 kilometer melewati beberapa lokasi mulai dari Kabupaten Jombang – Desa Kemiri – Kecamatan Ngantang – Desa Pandesari dan berakhir di Monumen Status Quo yang berada di Kantor Kecamatan Pujon.

Rombongan disambut  langsung Waka Polda Jatim Brigjen Pol Djamaludin, Kasat Brimob Polda Jatim Kombes Pol, I Ketut Gede Wijatmika. Selain itu hadi pula Kapolres Batu AKBP Harviadhi Agung Prathama  dan Kapolres AKBP Budi Hermanto.

Tak hanya itu, kegiatan juga diwarnai bakti sosial kepada beberapa rekan seperjuangan dan adik kandung  AP III Katjoeng Permadi, pemberian santunan kepada anak yatim dan fakir miskin dan beberapa kegiatan lainnya.

Kapolres Kabupaten Blitar AKBP Budi Hermanto, hadir secara khusus di acara tersebut.  Setelah ditelisik ternyata dia merupakan inisiator penelusuran Fakta Sejarah AP III Katjoeng Permadi tersebut.

Waka Polda Jatim Brigjen Pol Djamaludin pun mengakui bila inisiator penelusuran fakta AP III Katjoeng Permadi adalah Budi Hermanto. Dia menjelaskan jika mantan Kapolres Batu yang saat ini sebagai Kapolres Blitar itu penggagasnya.

“Budi Hermanto menulis buku yang pertama kali tentang Agen Polisi Tingkat III Katjoeng Permadi. Pak Budi ini berhasil menggali informasi dari beberapa narasumber kemudian dituangkan dalam buku,” kata Djamaludin.

Sementara itu Budi Hermanto yang sapaan akrabnya Buher, menambahkan masih ada pelaku-pelaku sejarah yang masih hidup. Mereka itu, kata dia, merupakan rekan-rekannya AP III Katjoeng Permadi dan adik kandungnya. Untuk membuktikannya, Buher mengajak duduk bersama dengan mereka.

“Beliau-beliau ini pelaku sejarah yang masih hidup. Itu pada saat tragedi status quo di Pujon. Mereka adalah pejuang-pejuang pahlawan kepolisian lokal yang belum terangkat,” jelas dia.

Untuk itu, kata dia, Brimob menggelar  Napak Tilas. Itu demi menggelorakan kembali semangat  sosok prajurit kepolisian yang patut diteladani.

Dia berharap AP III Katjoeng Permadi bisa diusulkan  menjadi Pahlawan Nasional karena jasanya di kepolisian. “Sebab ada  bukti yang dibuat tim tentang sejarah singkat AP III Katjoeng Permadi,” ungkapnya.

Di waktu yang sama, Kasat Brimob Polda Jatim Kombes Pol, I Ketut Gede Wijatmika, mengatakan bila  kegiat Napak Tilas pesertanya sebanyak 200 anggota dari TNI dan Polri.

Napak tilas sendiri bertujuan untuk menggali dan menelusuri perjuangan dari polisi istimewa, yang patut dihormati dan dihargai dengan jiwa kesatria dan jiwa pemberaninya.

”Itu patut dicontoh, kalau kita melihat perjuangan yang luar biasa itu, jadi kami berharap anggota meneladani pendahulu-pendahulu kita,” ujarnya.

Lantas, harap dia, terkait sinergitas TNI dan Polri agar semakin kuat. Karena menurut dia, sejak tahun 1948 agresi militer perjuangan itu sudah bersinesinergi, dan itu tercermin dari perjuangannya AP III Katjoeng Permadi bersama TNI dan Masyarakat.

“Antara TNI dan Polri bersama Rakyat sudah bersatu. Maka saat ini kita jangan sampai pendahu kita yang sudah sinergi, sinergitasnya yang cukup bagus dan kita rusak hari ini ,” pungkasnya.

Sosok Katjoeng Permadi

Sosok Katjoeng Permadi memiliki andil besar menghalau penjajah dan mempertahankan kemerdekaan RI, khususnya di Kecamatan Pujon.

Katjoeng adalah warga Pujon yang baru saja menikah saat masa perang mempertahankan kemerdekaan.

Bersama personil kepolisian lainnya, Katjoeng mendapat dari Jawatan Kepolisian Negara RI untuk menjaga garis demarkasi atau Garis Van Mook (Status Quo Lijn) hasil perjanjian Renville.

Berdasarkan instruksi itu, polisi berada di garis depan, berhadapan langsung dengan wilayah Belanda yang saat itu berada di Kota Batu pada agresi Belanda ke-II.

Pada 18 Desember 1948 pukul 23.40 WIB Belanda mengirimkan telegram yang berisi bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Renvile. Dengan demikian, Belanda memberitahu kepada pihak Republik bahwa setiap saat mereka bisa menyerang masuk melewati batas garis demarkasi.

Namun telegram Belanda itu ternyata tidak pernah sampai ke tangan Republik, sehingga tentara dan kepolisian Indonesia tidak tahu bila Belanda sudah tidak mematuhi perjanjian Renville lagi.

Pada 19 Desember 2019, 1 kompi pasukan Belanda dipimpin Kapten Bosch, bergerak maju dari Kota Batu menuju ke wilayah Pujon. Mereka berniat menyerang Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Mendalan di Kasembon.

Pada serangan pertama, penjaga Pos I perbatasan yang dimotori AP. III Katjoeng Permadi, AP. III Soekirno dan AP. III Kamso berhasil memukul mundur Belanda kembali ke wilayah Batu.

Namun serangan berikutnya di tengah hari membuat penjaga garis demarkasi kocar-kacir. Serangan Belanda pada Pos I dari arah timur menyebabkan AP. III Katjoeng Permadi tewas tertembak di bagian dada. Sedangkan serangan dari arah utara pada Pos II mengakibatkan gugurnya AP. II Soejadi dan AP. II Peril.

Untuk mengenang pertempuran itu, sebuah monumen diberi nama Monumen Status Quo dibangun pada 17 September 1982. (Med)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed