oleh

Dugaan Investasi Bodong, Ratusan Pembeli Labrak Kampoeng Kurma Bogor

-Hukum-252 views

Bogor, Radar Pagi – Ratusan pembeli yang mulanya dijanjikan dapat bertanam pohon kurma di atas lahan kavling mendatangi kantor PT Kampoeng Kurma di Tanah Baru, Bogor, Sabtu (9/11/2019). Mereka menagih janji manajemen PT Kampoeng Kurma mengenai status lahan kavling dan pengembalian dana.

Namun ratusan pembeli ini gagal menemui Direktur Utama PT Kampoeng Kurma, Arfah Husaifah Arshad, dengan alasan sedang berada di luar kota. Mereka hanya ditemui istrinya, Sari Kurniawati.

Para pembeli merasa kecewa karena Kampoeng Kurma Group menjual kavling seluas 400-500 m2 kepada mereka dengan janji mendapat bonus lima pohon kurma. Selain kavling dengan pohon kurma, ada juga Kavling dengan kolam lele sebanyak 10.000 bibit.

Untuk urusan pemeliharaan pohon kurma dan lele, para pembeli dijanjikan ‘terima beres’. Manajemen Kampoeng Kurma menjanjikan pengelolaan dan perawatan pohon serta kolam lele dilakukan oleh Kampoeng Kurma selama lima tahun, dan keuntungannya akan dibagi hasil secara syariah.

Para pembeli merasa tertarik karena Kampoeng Kurma dalam promosinya mengundang sejumlah ustaz terkenal, antara lain Syekh Ali Jaber. Pembeli pun jadi tertarik karena merasa kavling yang akan mereka beli adalah kavling syariah.

Tapi kavling yang dijanjikan ada yang tidak ada, bahkan banyak pembeli yang dipindah-pindah kavlingnya. AJB yang dijanjikan setelah PPJB juga tidak terealisasi.

Banyak pembeli yang sudah mengajukan pengembalian dana (refund) namun belum ada hasilnya.

“Apabila tidak ada itikad baik dari pihak Kampoeng Kurma maka kami akan melaporkan kepada kepolisian dan menempuh proses hukum,” tegas salah seorang pembeli, Irfan.

Dari penelusuran Radar Pagi terhadap situs perusahaan Kampoeng Kurma, https://kampungkurma.net/, diketahui dalam prolog promosinya Kampoeng Kurma membawa isu SARA. Mereka menyebut begitu banyak aset ummat Islam di Indonesia yang hanya dikuasai segelintir orang.

Situs itu  mengutip pernyataan mantan Sekretaris Menteri BUMN Said Didu, penguasaan ekonomi oleh konglomerasi di Indonesia jauh lebih dominan. Sekitar 80-70% real estate di jabotabek, dikuasai tidak lebih dari tiga orang.

“Relakah Ummat jika potensi ekonomi ummat diambil alih oleh konglomerasi asing dan aseng?” tulis situs tersebut.

Kemudian situs tersebut menjelaskan potensi keuntungan yang bakal didapat pembeli kavling yang disebut sebagai kavling kebun kurma dan villa syariah pertana di Indonesia itu. Berikut penggalannya:

Terobosan investasi berupa kavling tanah yang ditanami pohon kurma ini memiliki potensi ekonomi tinggi dan bermanfaat bagi ummat.

Khusus untuk pohon kurma, potensi ekonomi yang bisa diraih adalah sebagai berikut.

Jika dengan luas kaveling ukuran 100 meter persegi, ditanami dua pohon kurma, dengan asumsi pohon ini berbuah di usia 5 tahun (kurma tropis rata-rata berbuah mulai usia 3 tahun), dan satu pohon kurma bisa berbuah antara 50-500 Kg/tahun. Sedangkan harga kurma Ruthob antara Rp 200 ribu-350 ribu perkilogram. Maka kita bisa membuat simulasinya, yakni :

Anggaplah Kurma Ruthob berbuah hanya 150 Kg dengan harga jual hanya Rp 150.000/kg. Maka, Satu pohon kurma bisa menghasilkan potensi keuntungan 150 Kg x Rp 150.000/kg yaitu sebesar Rp 22,5 juta/tahun itu untuk satu pohon.

Karena dalam satu kaveling terdapat dua pohon maka potensi keuntungannya menjadi Rp. 45 juta/tahun.

Jika nilai tanahnya juga dihitung, dengan rata-rata kenaikan 10 persen per tahun, maka potensi ekonomi yang didapat oleh seorang pemilik lahan kaveling seluas 100 meter persegi akan bertambah. Dengan harga Rp 75 juta per 100 meter persegi, maka setelah 5 tahun, harga tanahnya akan naik menjadi lebih dari 100 juta rupiah.

Bayangkan keuntungan yang didapat oleh seorang pemilik kaveling 100 meter persegi dengan dua pohon kurma, adalah lebih dari Rp 70 juta per tahunnya.

Kiranya kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak cepat tergiur dengan segala tawaran investasi, meski membawa-bawa ajaran agama. Terlebih bila belum apa-apa sudah mempertentangkan antara satu umat dengan umat lainnya, antara satu etnis dengan lainnya. (juwita)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed