oleh

Kemenag Akui NU dan Muhammadiyah Mampu Tangkal Radikalisme di Ruang Publik

-Nasional-358 views

Jakarta, Radar Pagi – Kementerian Agama (Kemenag) mengajak kelompok moderat untuk ikut memerangi radikalisme agama. Kemenag mengakui dua ormas terbesar di tanah air,  NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah, punya kemampuan untuk itu.

“Dalam menangkal ajaran radikalisme di Indonesia, kita masih punya dua ormas besar yang dapat menangkalnya di samping pemerintah yaitu NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah. Kedua ormas besar ini moderat,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, kemarin.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu menyebut keunikan Islam di Indonesia memiliki NU dan Muhammadiyah sebagai infrastruktur sosial yang moderat. “Sehingga umatnya memiliki infrastrukur sosial yang kuat untuk mengantisipasi ideologi radikal,” tambahnya.

Jika ada ajaran radikal melakukan penetrasi ke masyarakat Indonesia, kata Kamaruddin, maka mereka akan berhadapan dengan kedua ormas itu.  “Maka Indonesia yang memiliki masyarakat yang amat beragam ini memiliki potensi perpecahan bangsa tapi bisa ditangkal oleh dua ormas besar ini di samping juga pemerintah,” sebutnya.

Dia menjelaskan upaya deradikalisasi mesti dilakukan secara sistematik, masif, terstruktur dan terukur. Pasalnya, kelompok radikalisme menggulirkan paham ekstremisme mereka secara masif dan sistematis di medsos maupun ruang publik lainnya seperti sekolah, kampus, pesantren dan masjid.

Untuk itu, Kamaruddin mengajak kalangan intelektual, ormas keagamaan dan pesantren agar terlibat lebih aktif dalam diskusi publik di media sosial supaya sikap moderat menjadi arus utama pemahaman masyarakat. Sebab yang paling bisa memengaruhi pemikiran masyarakat, bukan hanya ditentukan dari pemahaman agama, tetapi juga pada seringnya dia berinteraksi di ruang publik.

“Pemenangnya bisa jadi oleh orang yang ilmu agamanya tidak mendalam. Yang punya otoritas bisa saja tidak menjadi panutan. Karena pemenang adalah mereka yang intensitas kehadirannya cukup tinggi. Mari ramai-ramai tangkal penetrasi ajaran radikalisme,” imbaunya. (rian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed